OPTIMALISASI MUTU PEMBELAJARAN MELALUI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GURU DAN PEMBENTUKAN FORUM KOMUNIKASI PADA KELOMPOK KERJA GURU


Sekilas ini merupakan hasil olah pikir saya selama diselimuti kesepian malam yang duingiin dan mmmmmmh…. Kebetulan saya dapat kerjaan singkat dari atasannya atasan saya… daaan, inilah hasilnya


Latar Belakang

Deskripsi Kondisi Umum (burning platform – PC)

Peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan, baik dari peserta didik, orang tua, maupun masyarakat.

UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagaimana telah dijabarkan dalam Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menyatakan bahwa seorang guru dipersyaratkan harus memiliki standar kualifikasi akademik, pedagogik, kepribadian, sosial dan professional.[1] Namun pada kenyataannya masih banyak guru yang belum maksimal dalam melakukan pengembangan kompetensi tersebut. Rendahnya keempat kompetensi yang dimiliki para guru menjadi penyebab mutu pendidikan. Kompetensi mereka terkesan jalan di tempat. Dengan demikian kemampuan profesional masih perlu dipertanyakan.

Perkembangan jaman telah menuntut manusia untuk mengikuti putaran roda jaman ini sehingga hal-hal baru banyak bermunculan baik dari segi moral, sikap, bahasa, ilmu pengetahuan, gaya hidup dan lain sebagainya. Misalnya dengan perkembangan IT yang semakin canggih memudahkan peserta didik mampu mengakses apapun, dengan berbagai pola pula mereka mampu menghindari (menyembunyikan file-file tertentu) dari orang tua maupun guru. Pada fase inilah guru harus mempu mengikuti perkembangan sekaligus dapat menempatkan diri sebagai filter pembeda hal baru itu. Maka dengan tututan ini totalitas dan profesionalisme adalah mutlak harus dimiliki seorang guru.

Penghargaan masyarakat terhadap guru haruslah timbul karena perbuatan guru itu sendiri.[2] Walaupun demikian, tentunya tidak serta merta guru ketika melakukan kesalahan langsung dinilai buruk di masyarakat, masyarakat yang arif sebaiknya mampu menerima dan membantu guru tersebut dalam memperbaiki sikap maupun kesalahannya karena tanggung jawab dan tugas dalam proses pencerdasan generasi mendatang. Dengan demikian, untuk memperbaiki dan meningkatkan taraf pendidikan secara umum terhadap anak-anak kita saat ini, diperlukan sinergi berkesinambungan antara masyarakat, masyarakat, maupun para guru, dan tentunya.

Gugus sekolah merupakan salah satu wadah pembinaan profesional guru, khususnya guru SD. Dalam gugus sekolah, guru dibina kemampuan dan kecakapannya, sehingga benar- benar menjadi guru yang profesional, yaitu guru yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Sedangkan pendidikan yang berkualitas merupakan syarat utama dalam pembangunan bangsa dan negara.

Sampai saat ini gugus dipandang dalam melaksanakan peran dan furgsinya berjumlah sesuai dengan apa yang kita tugaskan hanya mengandalkan dari pengalaman dirinya. Kadang-kadang pengalaman yang didapatkan hanya pengalaman yang bersifat rutin dan monoton. Pengalaman seperti itu tidak akan dapat memberi dan menumbuhkan potensi-potensi kreatifitas yang dimiliki guru itu sendiri dan hasilnya dapat kita bayangkan, dari guru yang tidak profesional tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Dari segi kualitas, guru sekolah dasar belum sesuai dengan harapan. Ini dapat kita lihat dari keterampilan dasar lulusan SD masih rendah, tingkat pengetahuan dan perolehan masih rendah, dan belum semua peserta didik dapat menamatkan SD. Oleh karenanya, pembina gugus sebagai penggerak dituntut melaksanakan pola pembina bantuan horizontal antar sesama teman sejawat.

Dalam implementasi kurikulum 2013, guru dituntut memahami dan mendesain pembelajaran yang mampu mengubah cara berpikir siswa dari cara berpikir tingkat rendah (low outhre tingking skill) menjadi cara berfikir tingkat tinggi (high outher tingking skill) atau mengubah LOTS menjadi HOTS. Kondisi kompetensi ini akan dapat terwujud manakala guru dalam kelompok sejawat terjadi proses transfer dan saling berdiskusi pada skala komunitas tertentu. Hal itu yang merujuk dibentuknya Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Guru di wilayah binaan UPT Pendidikan TK/SD Kec Bojongsari Kota Depok

Pendidikan, Pelatihan dan Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Guru terbangun dari kumpulan berbagai elemen. elemen yang menopang terlaksananya sebuah kegiatan yang memungkinkan berlangsungnya transfer pengetahuan dan keterampilan lintas kelompok maupun individual. Elemen-elemen itu diantaranya adalah gedung, media, stekholder, metode, materi, serta dana operasional dan sumber daya manusia. Salah satu dari berbagai elemen tersebut yaitu metode brainstorming menjadi salah satu elemen penting dan menentukan eksistensi pendidikan, pelatihan, dan peran FK PKG di tengah masyarakat pendidik (guru). Eksitensi FK PKG di tengah kelompok guru dapat dilihat dari kehadiran guru dalam tiap pelaksanaan tahapan pelaksanaan proyek perubahan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi minat guru   untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan adalah terjawabnya kebutuhan guru dalam implementasi tugas mengajar dan mendidik sebagai tugas pokoknya dalam rangka menciptakan proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas demi peningkatan kualitas proses pendidikan yang diharapkan.

Rasional Pemilihan/Penetapan Area Perubahan (dukungan fakta dan data)

Tuntutan pemerintah melalui UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memberikan tugas baru dalam proses penyelesaian rangkaian tugas yang perlu dilakukan (khususnya guru) yang dianggap sebagai tugas profesi. Tugas, peran, dan tanggung jawab guru yang terbagi dalam 4 kompetensi yang harus dipenuhi oleh seorang guru, antara lain: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi pedagogik; (3) kompetensi profesional; (4) kompetensi sosial. Dari keempat kompetensi ini, kompetensi profesional inilah yang perlu dikembangkan, terkait masih minimnya pemetaan kemampuan yang dimiliki oleh tiap-tiap guru di wilayah sekup perubahan yang hendak dilakukan.

Adapun pelaksanaan proyek perubahan yang berafiliasi pada pengembangan dan peningkatan kemampuan tugas profesi guru sebagai tenaga profesional dilakukan melalui choaching clinic yang dirangkai dalam uraian kegiatan terkait proses pembelajaran yang dilakukan guru di satuan pendidikannya masing-masing, share permasalahan yang dihadapi dalam bentuk group discusion¸ dan pembekalan kemampuan profesional dari narasumber dan stake holders yang relevan dengan masalah yang dihadapi oleh guru.

Kondisi di lapangan, pada kenyataan yang ada masih banyak ditemukan beberapa kasus terkait proses pembelajaran yang cenderung masih sangat conventional yang jauh dari harapan sebuah kata “profesional”. Hal tersebut diantaranya, minimnya penggunaan media pada proses pembelajaran di kelas, kurangnya pengetahuan guru tentang pendekatan/strategi/metode/teknik/taktik pembelajaran yang membuat proses pembelajaran hanya berlangsung satu arah (one way communication), keaktifa peserta didik tidak nampak karena dikuasai oleh guru (teacher centered), paradigma lama yang cenderung menempatkan materi pembelajaran sebagai klausul utama yang perlu dicapai target kurikulum sebagaimana standar isi yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran tanpa memperhatikan aspek perkembangan dan tugas psikologis seorang peserta didik berdasarkan rentang usia dan tahap perkembangannya (material oriented).

Berdasarkan paparan ringkas tersebut di atas, maka proyek perubahan ini dimaksudkan untuk membekali guru sebagai jabatan profesional agar supaya terketuk hati dan pikirannya sehingga mampu meningkatkan proses pembelajaran yang berkualitas melalui optimalisasi kelompok kerja guru dengan objek kegiatan choaching clinic yang dirangkai dalam uraian kegiatan terkait proses pembelajaran yang dilakukan guru di satuan pendidikannya masing-masing, share permasalahan yang dihadapi dalam bentuk group discusion¸ dan pembekalan kemampuan profesional dari narasumber dan stake holders yang relevan dengan masalah yang dihadapi oleh guru.

Keterkaitan Area Perubahan dengan Isu Stratejik Organisasi

Kondisi riil di lapangan menunjukkan masih rendahnya pengaplikasian pengetahuan dan inovasi proses pembelajaran yang dilakukan guru. Mellaui proyek perubahan yang berdampak pada peningkatan kemampuan profesional guru khususnya peningkatan proses pembelajaran di kelas dan peningkatan proses pendidikan umumnya akan berdampak pada meningkatnya pengetahuan dan pengalaman belajar peserta didik itu sendiri.

Rendahnya minat dan motivasi guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya terkait dengan kemampuan pedagogik yang dimiliki setidaknya dapat didongkrak melalui optimalisasi kelompok kerja guru dengan objek kegiatan choaching clinic yang dirangkai dalam uraian kegiatan terkait proses pembelajaran yang dilakukan guru di satuan pendidikannya masing-masing, share permasalahan yang dihadapi dalam bentuk group discusion¸ dan pembekalan kemampuan profesional dari narasumber dan stake holders yang relevan dengan masalah yang dihadapi oleh guru.

Tujuan Proyek Perubahan

Adapun tujuan dari rangkaian kegiatan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan kelompok kerja guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran kaitannya dengan kinerja guru sebagai tugas profesional yang harus  dijalankan sesuai UU nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara umum guna peningkatan kualitas proses pembelajaran yang berafiliasi pada tujuan pendidikan nasional Republik Indonesia sebagaimana termaktub pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Adapun tujuan secara khusus dari rangkaian kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui optimalisasi kelompok kerja guru dengan objek kegiatan choaching clinic yang dirangkai dalam uraian kegiatan terkait proses pembelajaran yang dilakukan guru di satuan pendidikannya masing-masing, share experience berbagai permasalahan yang dihadapi dalam bentuk group discusion¸ dan pembekalan kemampuan profesional guru dari narasumber dan stake holders yang relevan dengan masalah yang dihadapi oleh guru selama proses pembelajaran yang dilakukan di satuan pendidikannya masing-masing.

Sekup Proyek Perubahan

Ruang lingkup proyek perubahan ini  secara umum terkait dengan peningkatan 4 kompetensi guru terkait implementasi UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, antara lain: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi pedagogik; (3) kompetensi profesional; (4) kompetensi sosial. Adapun sekup yang lebih spesifik tertuju pada peningkatan kompetensi profesional guru melalui optimalisasi kelompok kerja guru dengan objek kegiatan choaching clinic yang dirangkai dalam uraian kegiatan terkait proses pembelajaran yang dilakukan guru di satuan pendidikannya masing-masing, share permasalahan yang dihadapi dalam bentuk group discusion, dan pembekalan kemampuan profesional dari narasumber dan stake holders yang relevan dengan masalah yang dihadapi oleh guru.

Ruang lingkup dari proyek perubahan ini secara lebih terperinci dapat dilihat pada uraian berikut ini:

  1. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan guru untuk peningkatan mutu proses pembelajaran.
  2. Menyusun draft surat keputusan pembentukan forum komunikasi guru
  3. Membangun budaya belajar melalui metode brainstorming (curah pendapat) diforum komunikasi KKG.

Standar/Kriteria Keberhasilan

Proyek perubahan dan inovasi dikatakan berhasil apabila dari seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini mampu mengimplementasikan dan meningkatkan kemampuan profesionalnya sebagai pendidik melalui proses pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan masing-masing. Metode yang dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan peningkatan kemampuan profesi guru ini melalui refleksi dan keterlibatan aktif masing-masing guru dalam bentuk group discussion dan share permasalahan selama proses pembelajaran dalam bentuk skala deskriptif kualitatif. Selain itu, kegiatan monitoring juga dilakukan untuk mendukung kelengkapan data secara kuantitatif.

Dengan demikian, hasil tolak ukur yang diharapkan nantinya dapat dijadikan sebagai acuan terpadu dalam mengelola proses peningkatan kompetensi guru yang bermuara pada meningkatnya kualitas proses pendidikan pada umumnya dan meningkatnya kualitas proses pembelajaran padaa khususnya.

Deskripsi dan Analisis Pelaksanaan Proyek Perubahan

Pelaksanaan Tiap Tahapan Kegiatan

Proyek perubahan yang bermuara pada peningkatan kualitas profesioanal guru sebagai ujung tombak agent of change proses pendidikan di Indonesia yang bermuara pada proses pendidikan di satuan pendidikannnya masing-masing dapat berjalan dengan baik dan sesuai target perubahan yang diharapkan.

Untuk mencapai target sebagaimana dimaksud pada paparan sebelumnya, beberapa rangkaian kegiatan telah disusun untuk dapat diimplementasikan dengan pola sesederhana mungkin namun denga hasl yang seoptimal mungkin. Adapun rangkaian tiap tahapan ini antara lain:

  1. Belajar mandiri  baik secara  individual  maupun kelompok di dalam forum KKG ;
  2. Menganut prinsip dari guru, oleh guru dan untuk guru serta dikembangkan  untuk anak didik, dalam arti segala permasalahan yang diajukan peserta dipecahkan oleh guru dan dimanfaatkan untuk guru.Permasalahan tersebut bisa berupa materi proses belajar mengajar,sistem penilaian atau komponen lain yang ada hubungannya dengan PBM.
  3. Setiap permasalahan dipecahkan bersama melalui diskusi kelompok dengan tahapan sebagai  berikut :
    • Latar belakang masalah
    • Identifikasi masalah
    • Perumusan masalah
    • Pembahasan masalah
    • Mencari alternatif pemecahan
    • Memilih alternatif pemecahan yang dianggap paling baik
    • Menentukan langkah-langkah kegiatan
    • Implementasi pelaksanaan alternatif pemecahan yang telah dipilih
    • Evaluasi pelaksanaan alternatif pemecahan yang telah dipilih

 Analisis Stakeholders Internal dan Eksternal

Secara terperinci, analisis stakeholders dpat dilihat pada bagan di bawah ini:

Deskripsi Tim Proyek Perubahan :

  • Project Sponsor 

Memberikan dukungan strategis dan arahan ataskeseluruhan program,2.

  • Project Leader 

Mengelola Tim dan Proyek sehingga menghasilkanoutput3.

  • Coach

Memberikan sumbangan pemikiran kepada tim 4.

  • Narasumber

Memberikan masukan kepada tim terkait topik proyek 5.

  • Project Tim

Menerima Arahan dari Project Leader

Stakeholders analysis merupakan suatu kegiatan menganalisis sikap dan respon dari stakeholders terhadap pelaksanaan kebijakan atau proyek. Biasanya analisis stakeholder dilakukan pada tahap persiapan pelaksanaan proyek untuk mengetahui respon dari stakeholders terutama mengenai kemungkinan perubahan proyek. Dalam hal ini, stakeholders adalah setiap pihak baik itu individu atau organisasi, yang terkena dampak baik positif atau negatif dari suatu kebijakan/proyek, atau menjadi pihak yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan/ proyek.

Pada umumnya stakeholder biasanya diartikan sebagai orang yang akan mengambil peran aktif dalam eksekusi sistem mutu atau orang yang akan merasakan dampak signifkan dari penggunanya. Stakeholder ini biasanya berupa orang yang memiliki sebuah proses, orang yang kegiatannya mempengaruhi sebuah proses, atau orang yang harus berinteraksi dengan sebuah atau sekumpulan proses.

Pandangan-pandangan di atas menunjukkan bahwa pengenalan stakeholder tidak hanya sebatas menjawab pertanyaan siapa stekholder suatu issu tapi juga sifat hubungan stakeholder dengan issu, sikap, pandangan, dan pengaruh stakeholder itu. Aspek-aspek ini sangat penting dianalisis untuk mengenal stakeholder. Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issu stakeholder dapat dikategorikan kedalam beberapa yaitu stakeholder  primer, sekunder dan stakeholder  kunci. Sebagai gambaran pengelompokan tersebut pada berbagai kebijakan, program, dan proyek pemerintah (publik) dapat kemukakan kelompok stakeholder seperti berikut :

  1. Stakeholder Utama (primer)

Stakeholder primer adalah individu atau kelompok yang memperoleh manfaat secara langsung dari hasil suatu kegiatan proyek. Jika dimobilisasi secara tepat maka penerima manfaat merupakan pendukung yang paling terpercaya dan meyakinkan. Dalam hal ini yang berperan sebagai stakeholders utama di sini adalah guru yang ada di wilayah Gugus 3 Bina Profesi UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.

2. Stakeholder Pendukung (sekunder)

 Stakeholder sekunder/pendukung adalah individu, kelompok maupun organisasiyang mempunyai pandangan atau posisi yang sama dan siap bergabung di dalam suatu koalisi untuk mendukung isu tertentu. Membangun kemitraanadalah penting, untuk itu perlu dilakukan identifikasi dan kontribusinya dalam proyek usaha advokasi. Mitra perlu keyakinan dan dorongan terus-menerus. Untuk mempererat kemitraan perlu adanya tujuan yang jelas,Pembagian informasi dan pengalaman belajar, komunikasi yang terbukadan jujur, serta adanya pertemuan rutin.

Adapun pada peran dan fungsinya sebagai stakeholders pendukung di sini adalah  staff dan pengurus gugus dan UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok. Selain itu, komponen dari atas secara kedinasan (Disdik Kota Depok) dan Komite Sekolah di wilayah lingkup kerja Gugus 3 Bina Profesi juga berperan sebagai stakeholders pendukung yang berperan dalam memberikan pandangan dan masukan terkait proses pendidikan di wilayah kerja UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.

 3. Stakeholder Kunci

Pembuat keputusan atau stakeholder kunci adalah mereka yangberkepentingan dengan kekuasaan atau otoritas untuk bertindakmempengaruhi perubahan atau kebijakan yang diharapkan. Yang termasukdi dalam kelompok ini adalah para pembuat undang-undang, anggotaparlemen, anggota kabinet, pemuka masyarakat, pemimpin agama,pemimpin tradisional dsb. Tidak dapat diragukan bahwa keputusan adalahmerupakan target yang bermakna dalam suatu program. Untuk itukelompok ini mendapat perhatian yang lebih dibandingkan dengan kelompok lainnya

Dalam kaitannya dengan proyek perubahan ini, Kepala UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari berperan sebagai stakeholders kunci yang memiliki tugas pokok dalam mengatur, mengelola, dan bertanggung jawab atas segala keputusan terkait proyek perubahan yang berdampak pada proses pendidikan di lingkungan UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.

 Kendala yang Dihadapi

Pelaksanaan proyek perubahan mengenai “Optimalisasi Mutu Pembelajaran Melalui Pendidikan dan Pelatihan Guru dan Pembentukan Forum Komunikasi pada Kelompok Kerja Guru UPT Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kota Depok,” pada pelaksanaannya terdapat beberapa  kendala yang dihadapi. Untuk lebih memudahkan pemetaan kendala yang muncul ini dibagi dalam dua kategori antara lain kendala secara internal dan kendala secara eksternal.

  • Kendala Internal yang Ditemui
    • Kurangnya pengalaman dan pengetahuan diri project leader dari para guru sebgai sasaran proyek perubahan yang diharapkan
    • Etos kerja yang belum maksimal pada diri para guru sasaran proyek perubahan yang diharapkan
    • Jadwal kerja guru yang tidak bisa diganggu lebih-lebih proyek ini dilaksanakan bersamaam dengan awal implementasi kurikulum 2013 di sekolah dasar yang cukup menyita waktu guru terkait pembekalan, pengembangan, peningkatan, dan pelaksanaan kurikulum 2013 di tingkat satuan pendidikan masing-masing
    • Masih ada guru yang kurang disiplin selama proses pelaksanaan kegiatan di gugus
    • Kreatifitas guru yang masih minim dalam menggunakan dan membuat media/alat Peraga Pembelajaran.

 Kendala Eksternal yang Ditemui

  • Minimnya sarana dan prasarana penunjang optimalisasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan.
  • Keterbatasan dana yang menimbulkan efek pada minimalisasi pelaksanaan non materi
  • Banyaknya beban kerja rutin yang harus dikerjakan oleh tim;
  • Terbatasnya sumber daya manusia yang ada di lingkungan kerja UPT Pendidikan TK dan SD Kecamatan Bojongsari
  • Waktu yang dimiliki pendidik dan tenaga Kependidikan untuk mengikuti kegiatan Peningkatan Profesionalisme terbatas karena tugas pokok yang menjadi tanggung jawabnya belum bisa disesuaikan dengan schedule yang telah disusun tim operating committe

  1. Strategi Mengatasi Kendala

Memperhatikan peranan dan fungsi segenap komponen sekolah sebagaimana tersebut diatas, maka kami perlu mengemukakan beberapa permasalahan sekaligus pemecahannya sebagaimana berikut:

  • Adanya perbedaan diantara guru dalam menguasai materi pelajaran serta perlunya perbaikan metode pembelajaran,penggunaan media/alat dan system Evaluasi belajar.
  • Adanya perbedaan persepsi  tentang penguasaan terhadap kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP)
  • Dari hasil pemantauan di lapangan dijumpai beberapa indikator  bahwa belum semua guru memiliki kemampuan mendalami materi pelajaran untuk dijabarkan menjadi materi esensial,dalam arti bahwa dalam PBM belum sepenuhnya menggunakan pendekatanContekstual Teaching Learning (CTL) dan PAKEM, peran guru sebagai dinamisator belajar siswa belum diterapkan,sementara metode ceramah  dan tanya jawab masih sangat dominan digunakan.
  • Para guru belum sepenuhnya menggunakan buku-buku sumber dan buku-buku pelengkap sebagai sumber belajar siswa  dan belum dibiasakan menggunakan  media belajar.
  • Bertitik tolak dari masalah-masalah tersebut diatas maka kelompok kerja guru  (KKG) dipilih sebagai suatu model dalam upaya mengentaskan dan meningkatkan kemampuan guru.karena selama beberapa tahun terakhir ini program KKG khususnya di Gugus 3kecamatan  Bojongsari tidak dapat berjalan dengan efektif dan efisien,sehingga perlu dukungan dari semua pihak utamanya dari lembaga yang terkait.
  • Dengan latihan kerja guru melalui forum KKG  usah membina dan meningkatkan kemampuan guru khususnya guru di Gugus 3Kecamatan Bojongsari diharapkan  dapat berjalan lebih efektif dan efisien,dengan dana yang relatif  kecil dapat menjangkau sasaran yang lebih luas.dengan forum ini pula para guru dapat belajar dan share pengalaman serta berlatih bersama-sama  dengan prinsip dari guru,oleh guru dan untuk guru.

 Capaian

Berdasarkan pelaksanaan proses proyek perubahan melalui optimalisasi gugus yang dikembangkan di Gugus 3 Bina Profesi UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok beberapa hal yang perlu dicermati dan ditelaah lebih lanjut, antara lain:

  1. Pelaksanaan coaching clinic melalui model pelatihan tutor sebaya antar guru masih perlu dikembangkan karena belum semua guru mampu bekerjasama dalam bentuk team work dan menyampaikan gagasan baik tertulis maupun lisan. Dengan demikian,
  2. Permasalahan yang ada di satuan pendidikan belum semua terpetakan secara lebih terperinci berdasarkan pengelompokkan gugus mata pelajaran dan tingkatan kelas masing-masing yang memiliki karakteristik berbeda
  3. Implementasi pengembangan model/strategi/metode/teknik/ taktik pembelajaran inovatif yang pada dasarnya mudah diimplementasikan namun tidak dengan mudah pada pelaksanaannya karena masih minimnya kemauan dan kesungguhan guru dalam menciptakan proses pembelajaran di kelas.

 Instrumen Monitoring yang Digunakan

Guna melaksanakan rangkaian proyek perubahan yang dilaksanakan dalam bentuk uraian rangkaian kegiatan yang tidak selesai dalam satu tahapan saja, perlu dilakukan proses controlling untuk mengetahui dan menganalisa sejauh mana tingkat keberhasilan pelaksanaan proyek ini berjalan.

Instrumen monitoring yang digunakan dalam rangkaian kegiatan ini berbentuk uraian job description masing-masing subjek pelaksana yang terdiri atas: (1) guru dan kepala sekolah sebagai subjek utama; (2) panitia dan pengurus Gugus yang berkolaborasi dengan pengawas yang ada di UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari beserta staff, dan Unsur Dinas Pendidikan Kota Depok.

Instrumen tersebut berbentuk lembar pengamatan yang diisi sesuai keadaan selama proses coaching clinic dilaksanakan di gugus maupun di satuan pendidikan masing-masing terkait implementasi berbagai inovasi proses pembelajaran baik dalam bentuk metode maupun penggunaan media pembelajaran yang digunakan.

 Penutup

Kesimpulan

Proses pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan melalui optimalisasi gugus yang dikembangkan di Gugus 3 Bina Profesi UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok terlaksana melalui kerjasama yang terjalin dengan baik antara pihak terkait (Kepala Sekolah dan Guru serta pengurus) dengan pemangku jabatan yang dalam hal ini adalah UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.

Keberadaan KKG sebagai wadah atau forum profesional guru di gugus sekolah, kecamatan memegang peranan penting dan strategis untuk meningkatkan kompetensi guru sehingga guru lebih profesional. Melalui aktifitas guru dalam KKG diharapkan permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru di kelas dapat terpecahkan sehingga proses pembelajaran lebih efektif, bermutu, dan dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah antara lain dalam rangka peningkatan mutu dan profesionalisme guru yang muaranya adalah peningkatan mutu pembelajaran di kelas, upaya tersebut antara lain ikut serta dalam pendidikan dan pelatihan.Namun pada kenyataannya implementasi di lapangan belum sepenuhnya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, indikasinya antara lain masih banyaknya guru yang belum mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya, bahkan lebih parah lagi masih ada guru yang tidak paham tentang bagaimana cara pengaplikasian ilmu yang diperolehnya dari pendidikan dan latihan yang diikutinya.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka KKG Gugus 3 Kecamatan Bojongsari sebagai wadah para guru untuk meningkatkan profesionalismenya dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, berupaya untuk mencanangkan berbagai program kegiatan KKG. Program kegiatan tersebut diimplementasikan untuk menjawab tantangan berbagai permasalahan pembelajaran yang dialami oleh para guru serta dalam rangka meningkatkan kompetensi para guru.

 Rekomendasi

Proses pendidikan yang bermuara pada proses pembelajaran di kelas selayaknya dapat mengantarkan peserta didik ke suatu tatanan nila sosial di mana mereka akan siap menghadapi kenyataan kehidupan kelak. Pengembangan sebuah proses pembelajaran berkenaan secara langsung dengan proses pendidikan yang sedang berjalan. Dalam hal ini, optimalisasi proses pembelajaran guru mutlak dilakukan salah satunya melalui optimalisasi penggunaan dan pengembangan gugus sebagai sarana dan bengkel kerja guru.

Melalui proses pembelajaran yang bermutu, peserta didik diharapkan mampu bertahan dan berjuang dalam mengarungi proses kehidupannya. Dengan demikian, bekal peserta didik yang mereka peroleh melalui pengalaman proses pembelajaran yang mereka peroleh di satuan pendidikan walayaknya dapat diperoleh secara optimal dan bermutu. Oleh karenanya, guru sebagai pelaksana dan pengantar dalam menyajikan proses pembelajaran di kelas wajib melakukan pengembangan dan optimalisasi berbagai pendekatan, metode, maupun penggunaan dan pemanfaatan media sebagai muara proses pembelajaran yang optimal salah satunya melalui pemanfaatan gugus yang sudah ada.

Proyek perubahan ini akan dapat berjalan sesuai harapan yang ditargetkan apabila dilaksanakan secara kontinyu, sehingga tujuan umum dari peningkatan pendidikan melalui peningkatan kualitas guru khususnya kemampuan profesionalnya dapat berkembang sesuai harapan yang tertuang di dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.


[1]
Anon, “Pembinaan Profesi Guru” dalam http://ikhtiar009.wordpress.com/37-2/ (3 Juni 2014).

[2] Ngalim Purwanto,  Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2007), h. 139.

Menunggu….


Siapa sih yang tidak kenal dengan kata ini…? saya yakin Read the rest of this entry

Impian yang Tertunda


Setiap manusia PASTI mempunyai impian. Pada hakikatnya, tidak ada satupun insan ciptaanNya yang tidak ingin tercapai impian yang dicita-citakan. Akan tetapi, tidaklah mudah untuk mewujudkan impian yang diharapkan itu. Saya jadi teringat dengan beberapa adegan film yang saat ini sedang diputar d layar bioskop tentang sebuah cita-cita yang sangat sederhana namun tidak mudah mewujudkannya. Dalam satu adegan film tersebut diperlihatkan tentang seorang anak yang bercita-cita ingin “makan di rumah makan Padang”…… Bagi kita, mungkin cita-cita seperti ini bukanlah hal yang istimewa, namun tidak demikian pada alur cerita di dalam  film tersebut. Hanya karena ingin makan di rumah makan Padang, tidak sedikit usaha dan pengorbanan yang harus dilakukan. Satu hari, dia mengajak salah satu temannya untuk pergi ke pekarangan seberang. Lantas, begitu sampai di lokasi tujuan dia meminta temannya membantu menebang satu pohon bambu dan memotongnya menjadi satu ruas untuk dibuat sebuah celengan.

to be continued….

Generasi Sekarang Adalah Generasi Mobile tapi Individualistis


Awal mula akar pikiran saya sampai pada statement di atas adalah ketika kemarin sore (Selasa, 23 Oktober 2012) saya berjalan menuju pulang ke rumah saat baru memenuhi kebutuhan perut dan membeli beberapa kebutuhan lainnya untuk stok hari-hari ke depan di sebuh Supermarket terkenal di kota sebesar Jakarta. Saat itu, saya lihat hampir semua orang, tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, yang sedang berdiri-d Read the rest of this entry

Hakikat Pendidikan Karakter


1. Pendidikan

Menurut Purwanto, pendidikan merupakan segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Read the rest of this entry

Six Little Ducks


Six little ducks that I once knew
Fat ones, skinny ones, fair ones too
But the one little duck with the feather on her back
She led the others with a quack, quack, quack
Quack, quack, quack, quack, quack, quack Read the rest of this entry

Go to The Ragunan Zoo


Someday, I go to the Ragunan zoo with my father, my mother, my young sister, and my young brother. I go there by TransJakarta Busway. There, my father buy some tickets in the loced. Read the rest of this entry

Holiday to Bandung


Read this text carrefully, after read this text please translate into Indonesian languages into good paragraph too….

Towards Idul Fitri day, my parents took me and my sister to the Bandung is called with “The Flower City” to visit our uncle there.

It has been a long time we didn’t see the beautiful view of Bandung city. Once my parents live there for almost 15 years.

the journey to the Bandung city took along 3 hour trough toll road from Jakarta to Cikampek, then into Purwakarta toll road, Read the rest of this entry

Inilah Susunan Kabinet Hasil “Reshuffle”


Setelah melakukan serangkaian pemanggilan Read the rest of this entry

Seandainya Rektor UI Mau Membuatkan Saya Kopi…


Sepintas, gayanya biasa saja dan tidak menyiratkan ia seorang petinggi. Datang tanpa seorang staf yang mengawal, lelaki ini tampak tergesa-gesa memasuki ruangan. Bicaranya juga tegas, tetapi sangat ramah dan bersahabat. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.143 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: