LAYANAN INFORMASI UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


Rasional

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi saat ini telah begitu pesat, sehingga menempatkan suatu bangsa pada kedudukan sejauh mana bangsa tersebut maju didasarkan atas seberapa jauh bangsa itu menguasai kedua bidang tersebut di atas. Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global, maka mau tidak mau juga harus terlibat dalam maju mundurnya penguasaan Iptek, khususnya untuk kepentingan bangsa sendiri.

Dalam rangka mewujudkan pembinaan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan daya saing yang memadai sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, maka pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang telah dicanangkan oleh pemerintah diharapkan dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk memberdayakan seluruh potensi yang ada pada masyarakat, yakni melalui optimalisasi pemanfaatan layanan informasi

Pesatnya laju perkembangan teknologi informasi di tengah masyarakat yang majemuk menuntuk anggota masyarakatnya untuk lebih berpikir dan bertindak cepat juga dalam merespon perkembangan tersebut agar mendapatkan manfaat besar dari perkembangan laju informasi tersebut. Oleh karenanya, perlu dicermati dengan seksama apakah perkembangan dan laju informasi yang berkembang pesat sudah berkorelasi positif dengan apa yang diharapkan di tengah masyarakat guna membangun dan mengembangkan pola masyarakat yang berdaya dan tepat guna.

Definisi

Informasi

Kata informasi berasal dari bahasa Perancis kuno informacion (tahun 1387) yang diambil dari bahasa latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”.[1] Dalam artian lain dinyatakan bahwa Informasi merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa cemas seseorang. Menurut Notoatmodjo dalam wikipedia dinyatakan bahwa semakin banyak informasi dapat mempengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.[2] Dengan demikian, sebuah informasi menurut asumsi Notoatmodjo semakin banyak informasi yang diperoleh seseorang semakin kuat pengaruh informasi tersebut terhadap tindakan maupun perilaku seseorang tersebut. Oleh karenanya, dalam dunia pendidikan, sebuah informasi yang diperoleh seseorang yang bertindak sebagai siswa sebaiknya perlu ditelusuri apakah informasi yang dieroleh siswa tersebut benar adanya atau sebaliknya. Sehingga informasi tersebut dapat membawa manfaat posiitf bagi siswa dalam melakukan berbagai tindakan pada proses kehidupannya tersebut.

Informasi adalah benda abstrak yang dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan positif dan atau sebaliknya. Informasi dapat mempercepat atau memperlambat pengambilan keputusan. Dengan demikian informasi memiliki kekuatan, baik yang membangun maupun yang merusak. Dalam prakteknya, informasi dapat disajikan dalam berbagai bentuk baik lisan (oral), tercetak (printed), audio, maupun audio-visual gerak yang masing-masing memiliki ciri khas, kelebihan dan kekurangan.

Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari belajar, pengalaman atau instruksi.[3] Namun demikian, istilah ini masih memiliki banyak arti, tergantung pada konteksnya. Dalam beberapa pengetahuan tentang suatu peristiwa tertentu yang telah dikumpulkan ataupun dari sebuah berita dapat juga dikatakan sebagai informasi. Dengan demikian, sebuah informasi dapat diperoleh melalui proses belajar, pengalaman yang dijalani, maupun instruksi yang didapat.

Dalam prosesnya, sebuah informasi tentunya memiliki fungsi. Menurut Kosasih dalam sumber yang sama dinyatakan bahwa sebuah informasi memiliki 3 fungsi, antara lain: (1) Meningkatkan pengetahuan atau kemampuan pengguna; (2) Mengurangi ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan; (3) Menggambarkan keadaan sesuatu hal atau peristiwa yang terjadi.[4] Dari  ketiganya, terdpat satu pokok permasalahan terkait informasi yang diperoleh yaitu kejelasan dari informasi yang didapatkan seharusnya dapat memberikan manfaat positif bagi penerima informasi tersebut sehingga dapat menambah pengetahuan maupun kemampuan penerima informasi tersebut.

Masyarakat

Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam versi online mendefinisikan masyarakat sebagai sejumlah manusia dl arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama: — terpelajar.[5] Artian tersebut menyatakan bahwa sekelompok manusia yang berkumpul dan bersama dalam suatu wlayah dengan kebudayaan yang sama dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat.

Dalam wikipedia, masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata “masyarakat” sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas.[6] Dalam pandangan yang berbeda dapat diktakan bahwa masyarakat merupakan sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani dalam wikipedia, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.[7] Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocok tanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakarmenganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional. Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat bandsukuchiefdom, dan masyarakat negara.

Menurut sebuah situs informasi dinyatakan, terdapat 5 karakteristik sebuah masyarakat antara lain: (1) Aglomerasi dari unit biologis di mana setiap anggota dapat melakukan reproduksi dan beraktivitas; (2) Memiliki wilayah tertentu; (3) Memiliki cara untuk berkomunikasi; (4) Terjadinya diskriminasi antara warga masyarakat dan bukan warga masyarakat; (5) Secara kolektif menghadapi ataupun menghindari musuh.[8] Berdasarkan kelima karakteristik tersebut, dapat diasumsikan bahwa sebuah masyarakat akan berjalan dengan baik secara operasional manakala anggota masyarakatnya (individu-individu) memiliki satu kesamaan visi dan misi dalam komunitas tersebut. Selain itu, keberadaan bahasa berpengaruh penting sebagai sarana komunikasi antar anggotanya, sehingga akan menjadikan suatu kumpulan masyarakat tersebut sebagai sebuah masyarakat yang membedakannya dengan yang bukan anggota dari masyarakat tersebut.

Layanan Informasi untuk Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat (mandiri, swadaya, mampu mengadopsi inovasi, dan memiliki pola pikir maju) masyarakat sesuai situasi dan kondisi serta potensi yang dimilikinya. Bidang yang digarap biasanya pengembangan sosial ekonomi (usaha kecil dan sektor informal), politik (demokrasi dan HAM), advokasi bidang hukum, kesehatan, lingkungan hidup, kehutanan, sumber daya air, irigasi, sektor informal dan koperasi, pertanian, peternakan, perikanan, pertanahan, buruh, perempuan/gender, anak jalanan, sanitasi dan air bersih dan sebagainya. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan beberapa tahapan, yakni; menemu kenali masyarakat calon sasaran berserta lingkungannya; sosialisasi kegiatan; pembentukan kelompok; penyadaran adanya masalah dan pemilikan potensi; pemecahan masalah; rancangan program aksi; pelaksanaan aksi; dampingan; monitoring dan evaluasi.

Biasanya dalam pelaksanaan kegiatan di tingkat lapangan, ditugaskan tenaga pendamping lapangan untuk memfasilitasi masyarakat. Tenaga lapangan ini merupakan ujung tombak dari sebuah tim work pemberdayaan masyarakat. Adapun support yang diberikan pada umumnya berupa informasi yang berkaitan dengan program, baik berupa bulletin, majalah, papan pengumuman, brosur dan buku-buku. Untuk bulletin biasanya diberikan secara rutin, biasanya 1 bulan sekali. Bulletin ini memuat tentang aktivitas yang dilakukan kelompok, artikel yang berkaitan maupun informasi-informasi umum yang actual. Selain itu informasi juga diberikan melalui pertemuan-pertemuan kelompok, forum warga dan radio komunitas. Selain informasi, juga diberikan pendidikan dan pelatihan, revolving fund (RF), informasi pasar dan bahan baku serta sarana produksi.

Pemberdayaan sebagai proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan, memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan.[9] Konsep pemberdayaan (masyarakat desa) dapat dipahami juga dengan dua cara pandang. Pertama, pemberdayaan dimaknai dalam konteks menempatkan posisi berdiri masyarakat. Posisi masyarakat bukanlah obyek penerima manfaat (beneficiaries) yang tergantung pada pemberian dari pihak luar seperti pemerintah, melainkan dalam posisi sebagai subyek (agen atau partisipan yang bertindak) yang berbuat secara mandiri. Berbuat secara mandiri bukan berarti lepas dari tanggungjawab negara. Kedua melalui pemberian layanan publik (kesehatan,pendidikan, perumahan, transportasi dan seterusnya) kepada masyarakat tentu merupakan tugas (kewajiban) negara. Masyarakat yang mandiri sebagai partisipan berarti terbukanya ruang dan kapasitas mengembangkan potensi-kreasi, mengontrol lingkungan dan sumberdayanya sendiri, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan ikut menentukan proses politik di ranah negara. Masyarakat ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan dan pemerintahan.[10]

Terdapat 6 alasan mengapa masyarakat perlu diberdayakan, antara lain: (1) Struktur ekonomi/kesenjangan sosial; (2) Pengangguran; (3) pertanian; (4) budaya kemiskinan (culture property); (5) floating mass; (6) pendidikan.[11] Distribusi pendapatan dan kekayaan nasional yang tidak merata, dimana penguasaan sumberdaya hanya dikuasai oleh segelintir orang (20% saja dari seluruh rakyat Indonesia), menyebabkan memburuknya kesempatan bagi kaum kecil/minoritas untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi. Tingkat pengangguran yang tinggi rentan terhadap tindakan-tindakan negatif, dan mengganggu stabilitas nasional. Secara garis besar pertanian ini dibagi dua, yakni pertanian komoditi ekspor yang dikelola secara professional, dengan ciri padat modal. Kedua pertanian tanaman pangan, dengan ciri teknologi rendah, subsistem (hanya untuk bertahan hidup), sarat dengan tenaga kerja, modal sedikit dan lahan yang sempit.Di Negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia yang under development country, masyarakat yang mengalami proses pemiskinan yang menyejarah (lama) karena penjajahan, akan memiliki gejala sifat fatalistik, tergantung, kurang inovatif, sulit untuk berprestasi, menginternalisasi dengan penindas, dan curiga dengan pembaharuan atau takut dengan perubahan. Massa mengambang (floating mass) banyak menyumbang/berkontribusi dalam menciptakan budaya pemiskinan. Karena dengan massa mengambang, selain masyarakat tidak memehami hak dan kewajibannya sebagai warga negara atau dalam bernegara, masyarakat juga takut untuk mengemukakan pendapatnya atau aspirasinya sendiri. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan informasi, baik dari segi saluran, media, mutu, dan validitasnya, yang menjadikan masyarakat tidak tahu harus berbuat apa. Ia menjadi tertutup untuk memahami posisi dirinya, mengenali dan memecahkan masalahnya. Kalaupun ia terlibat, itu merupakan mobilisasi dan bukan partisipasi. Biaya pendidikan yang tinggi, makin tinggi pula rakyat miskin yang tidak sekolah. Kendati dibebaskan biayanya, namun kenyataannya rakyat masih harus mengeluarkan biaya untuk transportasi, jajan dan membeli buku serta keperluan sekolah lainnya.

Pada perkembangannya, laju informasi yang berkembang di tengah masyarakat seharusnya dapat memberdayakan dan memajukan pola pikir individu itu sendiri sebagai bagian tak terpisahkan dari unsur masyarakat itu sendiri. Seharusnya, laju informasi dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat itu sendiri, baik secara konseptual maupun kontekstual. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan manfaat positif dari laju informasi yang berkembang. Tuntutan akan ketepatgunaan dan asas kebermanfaatan dalam prinsip pengembangan laju informasi perlu dipikirkan, sehingga masyarakat dapat meminimalisir efek negatif dari laju informasi yang berkembang dan dapat mengambil manfaat secara optimal dari hal tersebut.

Kesimpulan

Layanan informasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat sangat penting peranannya dalam menunjang keberhasilan kegiatan itu sendiri, karena itu pertanyaan-pertanyaan kunci dalam merancang layanan informasi antara lain; (1) Siapa yang kita tuju; (2) Apa yang kita harapkan dari dia, dan apa yang dia harapkan dari kita; (3) Informasi apa sebenarnya yang dibutuhkan; (4) Bagaimana menyajikannya; (5) Bagaimana Menyampaikannya; (6) Kapan kita sampaikan; (7) Apakah informasi sudah sesuai sasaran, sesuai kebutuhan, jika belum mengapa.

Masyarakat yang berdaya, adalah masyarakat yang dinamis dan aktif berpartisipasi di dalam membangun diri mereka. Tidak menggantungkan hidupnya kepada belas kasihan orang lain. Mereka mampu berkompetisi dalam kontek kerjasama dengan pihak lain. Mereka memiliki pola pikir kosmopolitan, memiliki wawasan berfikir yang luas, cepat mengadopsi inovasi, toleransi tinggi, dan menghindari konflik sosial. Hal ini dapat terwujud berkat aktualisasi pendidikan yang telah membekali mereka dengan perilaku/behavior yang baik dan handal – pengetahuan, sikap dan keterampilan -.

 

SUMBER REFERENSI

Anon, “Informasi” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Informasi (22 Agustus 2015)

Anon, “Masyarakat” dalam http://kbbi.web.id/masyarakat (21 Agustus 2015)

Anon, “Masyarakat” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat (20 Agustus 2015)

Anon, “Pengertian Masyarakat Menurut Para Ahli” dalam http://www.apapengertianahli.com/2014/09/pengertian-masyarakat-menurut-para-ahli.html# (20 Agustus 2015)

Kosasih, Engkos. “Definisi dan Pengertian Informasi” dalam http://www.definisi-pengertian.com/2015/03/definisi-dan-pengertian-informasi.html (21 Agustus 2015)

Sallis, Edward TQM In Education (manajemen mutu pendidikan), cetakan pertama, Januari 2006.

Sunyoto, Usman. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

Sutoro, Eko. Pemberdayaan Masyarakat Desa, Materi Diklat Pemberdayaan Masyarakat Desa, yang diselenggarakan Badan Diklat Provinsi Kaltim, Samarinda – Modul. Samarinda: Badan Diklat Provinsi Kaltim, Desember 2002

[1] Anon, “ Informasi” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Informasi (22 Agustus 2015).

[2] Ibid.

[3] Engkos Kosasih, “Definisi dan Pengertian Informasi” dalam http://www.definisi-pengertian.com/2015/03/definisi-dan-pengertian-informasi.html (21 Agustus 2015).

[4] Ibid.

[5] Anon, “Masyarakat” dalam http://kbbi.web.id/masyarakat (21 Agustus 2015).

[6] Anon, “Masyarakat” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat (20 Agustus 2015).

[7] Ibid.

[8] Anon, “Pengertian Masyarakat Menurut Para Ahli” dalam http://www.apapengertianahli.com/2014/09/pengertian-masyarakat-menurut-para-ahli.html# (20 Agustus 2015).

[9] Usman Sunyoto, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), h. 23.

[10] Eko Sutoro, Pemberdayaan Masyarakat Desa, Materi Diklat Pemberdayaan Masyarakat Desa, yang diselenggarakan Badan Diklat Provinsi Kaltim, Samarinda – Modul, (Samarinda: Badan Diklat Provinsi Kaltim, Desember 2002), h. 12.

[11] Edward Sallis, TQM In Education (manajemen mutu pendidikan), cetakan pertama, Januari 2006, h. 29.

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 6 Oktober 2015, in education. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: