Seandainya Rektor UI Mau Membuatkan Saya Kopi…


Sepintas, gayanya biasa saja dan tidak menyiratkan ia seorang petinggi. Datang tanpa seorang staf yang mengawal, lelaki ini tampak tergesa-gesa memasuki ruangan. Bicaranya juga tegas, tetapi sangat ramah dan bersahabat.

“Saya presiden di sini. Presiden adalah presiden, bukan rektor. Rektor itu hanya seorang vice president di sini. Namun, kami berdua sangat bekerja sama membangun kampus ini untuk maju,” ujar Prof dr S Poppema, President of the Board di University of Groningen, Rabu (21/9/2011), seraya mengajak saya duduk dan mulai berbincang di ruang kerjanya.

Sambil terus berbicara, tangannya meraih teko dan menuangkan jus jeruk dingin ke dalam gelas setiap tamu dan juga stafnya yang mengantarkan awak Kompas dan Kompas.com ke kampus terpadat dengan pelajar Indonesia ini. Dengan ramah, Poppema kemudian memilihkan roti-roti yang sudah disiapkan untuk makan siang kami, tamu-tamunya ini.

“Kenapa saya tertarik mengajak pelajar-pelajar dari negeri Anda belajar di sini? Karena ekonomi negeri Anda terus berkembang, populasinya juga menakjubkan sehingga bekerja sama sangat memungkinkan harapan,” ujar Poppema sambil tersenyum dan melahap sandwich di tangannya.

Hangat

Apakah memang seramah itu seorang petinggi kampus bergengsi di Belanda menerima seorang tamu? Jangan-jangan, keramahan mereka semu belaka demi kepentingan promosi, apalagi ini di depan wartawan!

Nyatanya, memang tidak. Sehari sebelumnya, keramahan yang muncul dari seorang petinggi kampus lain di negeri “Kincir Angin” ini malah lebih “ekstrem”, seperti yang ditunjukkan Drs Chris van den Borne, Director of International Office Saxion University, Deventer, Belanda.

Chris juga sangat ramah dan hangat. Begitu tahu kami sudah datang, ia sendirilah yang datang langsung menyambut dengan hangat. Semua stafnya tetap bekerja seperti biasa, tidak ada yang menguntit atau menyiapkan hidangan.

“Terima kasih, saya tersanjung Anda kemari. Ngomong-ngomong, Anda suka teh atau kopi? Mari ke ruangan saya, dan tunggu saya mengambil minuman Anda,” ujar Chris dengan senyum ramah.

Hanya lima menit berselang, Chris datang lagi ke ruangannya dengan sebuah teko dan gelas. Sambil berbicara, ia lalu duduk dan menuangkan kopi di gelas saya.

“Saya suka pelajar-pelajar Indonesia. Di sini mereka terbukti gigih, rajin, dan pintar-pintar,” tukasnya.

Chris berbincang soal program internasional di kampusnya yang sudah cukup banyak bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ia mengatakan, sebagai university of applied science, Saxion University bisa menjamin bahwa sumber daya manusia dan kebutuhan tenaga-tenaga riset aplikatif sangat cocok bagi negara berkembang seperti Indonesia. Khususnya melalui international programme untuk double degree, Saxion telah menyiapkan beberapa jurusan yang bisa dikolaborasikan dengan Indonesia, seperti Art & Technology, Business Engineering, Leadership in Social Network, Urban & Regional Planning, Urban Design, dan banyak lagi.

Berdasarkan catatannya, tahun ini tercatat sebanyak 30 mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di Saxion. Adapun beberapa perguruan tinggi yang telah berkolaborasi dengan Saxion, antara lain, Universitas Gadjah Mada, Universitas Dipenogoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Petra.

“Di sini mereka bukan hanya belajar dan belajar, tetapi juga bergaul dengan orang-orang dari banyak negara. Kami ingin mereka berkualitas bukan hanya pada nilai akademisnya, melainkan juga memanfaatkan ilmunya itu secara luas di dunia internasional, dunia yang kami perkenalkan di sini kepada mereka,” kata Chris.

Seandainya

Pertanyaannya, adakah seorang rektor di sebuah perguruan tinggi di Indonesia mau melakukan hal itu? Menuangkan teh atau kopi ke dalam gelas seorang tamunya meski itu hanya seorang wartawan atau rektor lain dari negeri seberang?

Nyaris, hal semacam itu tak pernah terlihat dilakukan oleh seorang rektor, setidaknya dalam pengamatan saya. Umumnya, rektor di Indonesia terlalu sibuk dengan urusan protokoler, staf yang selalu setia mendampingi dan melayani, serta terpatri dengan kedudukan yang tampaknya terlalu “tinggi” sehingga rikuh untuk berbuat semanis itu kepada tamunya.

Apa kata orang nanti, rektor kok menuangkan kopi buat wartawan! Bukankah ada staf? Buat apa punya sekretaris?

Gengsi, mungkin saja. Namun, melihat cara Chris atau Poppema menangani tamunya, ia tampak benar-benar merasa egaliter dengan siapa pun. Gaya bicara dan gerak badannya terlihat sangat menjauhkan sikap lebih “tinggi”. Semua dilakukannya secara wajar sehingga membuat suasana tidak kaku.

Dalam ilmu pergaulan, apalagi jika dikaitkan untuk tujuan berdagang, keramahan tentu urusan nomor satu diberikan kepada calon pembeli. Sikap-sikap ngebos dan cenderung membatasi diri yang ditunjukkan penjual hanya akan membuat calon pembeli menjauh. Maka, bisa dibayangkan, bagaimana keramahan yang ditunjukkan kedua petinggi kampus tersebut mampu membuat orang seperti saya senang, nyaman, dan ingin lebih cepat bekerja sama dengannya?

Ah, seandainya seorang rektor di sini, seperti Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar R Somantri,  akan bersikap seramah dan seluwes itu, menghidangkan sendiri segelas kopi untuk tamunya, bahkan kalau perlu kepada mahasiswanya yang datang mengadu tentang keluh kesahnya. Bagaimana rasanya, ya?

Diadaptasi dari Kompas.com

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 28 September 2011, in education and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: