SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK TERHADAP PESERTA DIDIK


A. LATAR BELAKANG

Pendidikan berperan mengantarkan suatu bangsa pada satu tujuan mulia untuk mencerdaskan anak bangsa dan meningkatkan taraf kebudayaan bangsa tersebut. Salah satu pernyataan mengatakan bahwa “semakin tinggi dan maju tingkat pendidikan suatu Negara, maka semakin tinggi budaya dan kehidupan sosial warga Negara tersebut”. Terlepas dari benar tidaknya pernyataan ini, dapat diambil satu premis bahwa pentingnya pendidikan akan menentukan nasib suatu bangsa pada suatu waktu yang akan datang. Dengan demikian, tidak ada lagi tawar-menawar bahwa pendidikan merupakan satu prioritas yang harus diutamakan dalam rangka pembangunan dan pengembangan suatu bangsa.

Pendidikan memiliki banyak komponen pembangun yang saling mendukung dan berhubungan satu dengan lainnya. Komponen-komponen di dalam pendidikan merupakan unsur sebuah sistem terpadu, sehingga antara komponen satu dengan lainnya harus berjalan dan saling mendukung satu dengan lainnya. Pengertian tersebut menyiratkan bahwa, dalam rangka proses pendidikan mutlak diperlukan komponen-komponen yang saling mendukung diantaranya; tujuan pendidikan yang telah disusun oleh lembaga pendidikan nasional (kementerian pendidikan nasional), proses dan metode pengembangan pendidikan yang terpadu dan efisien sesuai prinsip-prinsip pengembangan proses pendidikan itu sendiri, tujuan pendidikan yang akan mengarahkan proses pendidikan ke arah mana pendidikan itu akan dibawa, dan yang tidak kalah penting adalah pelaksana proses pendidikan dalam kaitan ini adalah pendidik di samping tenaga kependidikan dari tingkat pusat sampai tingkat terendah di satuan pendidikan.

Pendidik merupakan satu diantara beberapa komponen di dalam proses pendidikan yang berperan dalam rangka mengembangkan dan meneruskan proses itu ke suatu langkah terpadu. Pendidik melakukan proses pendidikan di satuan pendidikan dengan mengacu garis-garis besar pengembangan proses pendidikan yang bermuara pada proses pembelajaran di kelas. Selain berperan pada proses pembelajaran di kelas, pendidik juga masih memiliki satu tugas keprofesionalan sebagaimana tersusun dalam kode etik pendidik maupun peraturan yang telah dituangkan secara baku pada UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Adapun satua diantara tugas keprofesionalan pendidik adalah hubungannya dengan sasaran dan  sikap profesional seorang pendidik terhadap peserta didiknya. Pendidik memiliki hubungan personal secara langsung dengan objek pendidikan (peserta didik). Dengan hubungan yang dapat dikatakan istimewa inilah, pesan pendidikan yang telah disusun dengan baik dapat diterima dan dikembangkan oleh peserta didik dalam mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dirinya pada kehidupan yang lebih baik dengan memperhatikan sumber daya dan keadaan di lingkungannya.

 

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan sebelumnya, maka dapa diambil beberapa pokok permasalahan yang akan dipaparkan pada makalah ini, antara lain;

1.         Apakah profesional dan konsekuensi apa yang harus dipenuhi oleh seorang profesional?

2.         Bagaimana sikap profesional seorang pendidik?

3.         Bagaimana implementasi sikap profesional pendidik terhadap peserta didik pada proses pendidikan di satuan pendidikan?

 

C. PENGERTIAN

Pada umumnya orang memberi arti yang sempit teradap pengertian profesional. Profesional sering diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimilki seseorang. Misalnya seorang pendidik dikatakan pendidik profesional bila pendidik tersebut memiliki kualitas megajar yang tinggi. Padahal pengertian profesional tidak sesempit itu, namun pengertiannya harus dapat dipandang dari tiga dimensi, yaitu : expert [ahli], responsibility [rasa tanggung jawab] baik tanggung jawab intelektual maupun moral, dan memiliki rasa kesejawatan.

Pengertian ahli (expert) dapat diartikan sebagai ahli dalam bidang pengetahuan yang diajarkan dan ahli dalam tugas mendidik. Seorang pendidik bisa disebut ahlinya apabila tidak hanya menguasai isi materi pembelajaran yang dipelajari peserta didiknya, tetapi juga mampu dalam menanamkan konsep mengenai pengetahuan yang diajarkan dan mampu menyampaikan pesan-pesan didik tersebut. Mengajar adalah sarana untuk mendidik, untuk menyampaikan pesan kepada peserta didik. Pendidik yang ahli memilki pengetahuan tentang cara mengajar [teaching is a knowledge], juga keterampilan [teaching is skill] dan mengerti bahwa mengajar adalah juga suatu seni [teaching is an art] . Di dalam prosesnya kita harus ingat bahwa peserta didik bukanlah sebuah manusia tetapi merupakan seorang manusia, pengetahuan yang diberikan padanya merupakan bahan untuk membentuk pribadi yang utuh [holistik], membentuk konsep berpikir, sikap jiwa dan menyentuh afeksi yang terdalam. Oleh sebab itu, pendidik tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan terampil saja tetapi harus memiliki seni mengajar. Jadi kesimpulannya pendidik yang ahli itu di samping memiliki ilmu dan terampil di bidangnya, juga harus memiliki seni mengajar. sehingga dalam proses belajar mengajar mampu menciptakan situasi belaj’ar yang mengandung makna relasi interpersonal sehingga peserta didik merasa “diorangkan”, memiliki jati dirinya.

Responsibility (tanggung jawab) menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan bersedia untuk diminta pertanggung jawaban. Tanggung jawab juga mengandung makna sosial, artinya orang yang bertanggung jawab harus mampu memberi pertanggung jawaban terhadap orang lain. Tanggung jawab juga mengandung makna etis, artinya tanggung jawab itu merupakan perbuatan yang baik. Dan tanggung jawab juga mengandung makna religius, artinya ia juga harus punya rasa tanggung jawab tehadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Pendidik yang profesional mempersiapkan diri sematang-matangnya sebelum ia mengajar. la menguasai apa yang diajarkannya dan bertanggung jawab atas semua yang disampaikan dan bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.

Sense of belonging/Colleague merupakan salah satu tugas dari organisasi profesi adalah menciptakan rasa kesejawatan sehingga ada rasa aman dan perlindungan jabatan. Melalu organisasi profesi diciptakan rasa kesejawatan. Semangat korps dikembangkan agar harkat martabat pendidik dijunjung tinggi, baik oleh pendidik sendiri maupun masyarakat pada umumnya. Jadi seseorang bisa disebut sebagai profesional apabila tidak hanya berkualitas tinggi dalam hal teknis namun harus ahli di bidangnya [expert], memiliki rasa tanggung jawab [responsibility] baik dalam tanggung jawab intelektual maupun tanggung jawab moral dan memiliki rasa kesejawatan.

Berbicara tentang pendidik yang profesional berarti membicarakan tentang kualifikasi pendidik. Pendidik yang profesional punya kualifikasi tertentu. Ada dua kualifikasi yaitu a. kualifikasi personal, b. Kualifikasi profesional.

Ada berbagai ungkapan untuk melukiskan kualifikasi personal pendidik diantaranya: (1) Pendidik yang baik dalam artian mempunyai sifat moral yang baik seperti jujur, setia, sabar, betanggung jawab, tegas, ramah, konsisten, berinisiatif dan berwibawa. Pendidik yang baik itu bila dilengkapi oleh sifat-sifat yang disebutkan di atas; (2) Pendidik yang berhasil apabila ia di dalam mengajar dapat menunjukan kemampuannya sehingga tujuan-tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai oleh peserta didik; (3) Pendidik yang efektif yaitu apabila ia dapat mendayagunakan waktu dan tenaga yang sedikit tetapi dapat mencapai hasil yang banyak. Berarti pendidik yang pandai menggunakan strategi mengajar dan mampu menerapkan metode-metode mengajar secara berdaya guna dan berhasil guna akan disebut sebagai pendidik yang efektif.

Yang dimaksud dengan kualifikasi profesional yaitu kemampuan melakukan tugas mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan.

Berdasarkan pengertian dan ciri-ciri profesi yang telah disebutkan di atas, maka dapat ditarik beberapa hal yang menjadi syarat-syarat profesi, antara lain: (1) Standar unjuk kerja; (2) Lembaga pendidikan khusus untuk menghasilkan pelaku profesi tersebut dengan standar kualitas; (3) Akademik yang bertanggung jawab; (4) Organisasi profesi; (5) Etika dan kode etik profesi; (6) Sistem imbalan; (7) Pengakuan masyarakat.

D. SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK PADA PROSES PENDIDIKAN DI SATUAN PENDIDIKAN

Pendidik adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Suatu profesi tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau dipersiapkan untuk itu. Suatu profesi umumnya berkembang dari pekerjaan (vocational), yang kemudian berkembang makin matang serta ditunjang oleh tiga hal: keahlian, komitmen, dan keterampilan, yang membentuk sebuah segitiga sama sisi yang di tengahnya terletak profesionalisme.

Senada dengan itu, secara implisit, dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, bahwa pendidik adalah: tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perpendidikan tinggi (pasal 39 ayat 1).

Profesi kependidikan dan/atau kependidikan dapat disebut sebagai profesi yang sedang tumbuh (emerging profession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada apa yang telah dicapai oleh profesi-profesi tua (old profession) seperti: kedokteran, hukum, notaris, farmakologi, dan arsitektur. Selama ini, di Indonesia, seorang sarjana pendidikan atau sarjana lainnya yang bertugas di institusi pendidikan dapat mengajar mata pelajaran apa saja, sesuai kebutuhan/kekosongan/kekurangan tenaga pendidik mata pelajaran di sekolah itu, cukup dengan “surat tugas” dari kepala sekolah.

Pada dasarnya profesi pendidik adalah profesi yang sedang tumbuh. Walaupun ada yang berpendapat bahwa pendidik adalah jabatan semiprofesional, namun sebenarnya lebih dari itu. Hal ini dimungkinkan karena jabatan pendidik hanya dapat diperoleh pada lembaga pendidikan yang lulusannya menyiapkan tenaga pendidik, adanya organisasi profesi, kode etik dan ada aturan tentang jabatan fungsional pendidik (SK Menpan No. 26/1989).

Usaha profesionalisasi merupakan hal yang tidak perlu ditawar-tawar lagi karena uniknya profesi pendidik. Profesi pendidik harus memiliki berbagai kompetensi seperti kompetensi profesional, personal dan sosial.

Jabatan pendidik dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan tenaga pendidik. Kebutuhan ini meningkat dengan adanya lembaga pendidikan yang menghasilkan calon pendidik untuk menghasilkan pendidik yang profesional. Pada masa sekarang ini LPTK menjadi satu-satunya lembaga yang menghasilkan pendidik. Walaupun jabatan profesi pendidik belum dikatakan penuh, namun kondisi ini semakin membaik dengan peningkatan penghasilan pendidik, pengakuan profesi pendidik, organisasi profesi yang semakin baik, dan lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga pendidik sehingga ada sertifikasi pendidik melalui Akta Mengajar. Organisasi profesi berfungsi untuk menyatukan gerak langkah anggota profesi dan untuk meningkatkan profesionalitas para anggotanya. Setelah PGRI yang menjadi satu-satunya organisasi profesi pendidik di Indonesia, kemudian berkembang pula organisasi pendidik sejenis (MGMP).

Adapun syarat-syarat profesi kependidikan adalah sebagai berikut: (1) Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual; (2) Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus; (3) Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama (dibandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum belaka); (4) Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan; (5) Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen; (6) Jabatan yang menentukan baku (standarnya) sendiri; (7) Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi; dan (8) Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

 

E. SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK TERHADAP PESERTA DIDIK PADA PROSES PENDIDIKAN

Di dalam satu butir pernyataan kode etik pendidik Indonesia yang dicetuskan oleh lembaga persatuan guru republik Indonesia (PGRI) menyatakan bahwa guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Di dalam pernyataan ini terkandung maksud bahwa seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yaitu melaksanakan tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing peserta didik, dan prinsip pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

Tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Prinsip lainnya yang harus dikuasai seorang pendidik yang profesional yang berhubungan dengan peserta didik adalah membimbing peserta didik bukan mengajar atau sebatas mendidik saja. Pengertian mendidik dapat dilihat dari pernyataan tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara antara lain; (1) ing ngarso sung tulodho, (2) ing madya mangun karsa; (3) tut wuri handayani.

Ketiga pernyataan Ki Hajar Dewantara di atas mengandung makna bahwa pendidikan harus dapat memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik. Dalam hal tut wuri terkandung makna bahwa membiarkan peserta didik untuk menuruti dan mencapai ambisi, keinginan, maupun cita-cita sesuai minat, bakat, dan kemauan peserta didik tersebut. Handayani berarti pendidik mempengaruhi peserta didik, pada proses bimbingan dan pembelajaran. Dengan demikian membimbing di sini mengandung artian bahwa pendidik perlu bersikap dalam rangka menentukan arah pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila, bukan mendikte peserta didik sesuai keinginan dan hasrat pendidik.

Di dalam kode etik pendidik ini, prinsip manusia Indonesia seutuhnya memandang individu sebagai satu kesatuan utuh secara jasmani maupun rohani. Pendidik bukan hanya sebatas memiliki kemampuan intelektual tinggi tetapi juga harus bermoral dan berbudi pekerti yang tinggi pula. Pada proses pendidikan, pendidik sudah seharusnya tidak sebatas mengembangkan kemampuan dan potensi intelektual peserta didiknya saja, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan pribadi peserta didik secara holistik (menyeluruh) baik dari segi jasmani, rohani, maupun ketrampilan sosialnya sesuai hakikat pendidikan yang dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik nantinya akan menjadi seorang insan yang siap dan mampu menghadapi tingginya tuntutan kehidupan pada proses kehidupan mereka nantinya.

 

F. KESIMPULAN

Seseorang yang memiliki profesi sebagai seorang pendidik sudah selayaknya bertindak dan bersikap profesional dalam menjalankan kewajiban profesi jabatannya maupun pada proses kehidupan sehari-hari. Menjadi seorang pendidik bukan perkara mudah karena banyak komponen-komponen yang harus dipenuhi sebagaimana termaktub pada UU Nomor 14 Tahun 2004 tentang Guru dan Dosen. Dengan demikian seorang pendidik harus menyadari banyak kalangan memberikan sorotan terhadap profesi yang dimilikinya.

Pada proses pendidikan di satuan pendidikkan khususnya pendidik merupakan satu-satunya komponen yang langsung bersentuhan dengan objek didik yaitu peserta didik. Dengan kedekatan secara personal ini, pendidik harus dapat mengembangkan potensi yang dimiliki tiap-tiap peserta didik sebagaimana dikiaskan oleh seorang tokoh pendidikkan nasional yaitu “ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Sehingga terciptalah generasi penerus bangsa yang kompeten, siap dan mampu mengemban tugas mengantarkan nama baik negara di lingkungan internasional nantinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Qomari dan Syaiful Sagala. Pendidik dan Jabatan Tenaga Kependidikan: Pemberdayaan Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press, 2005

Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 2008

http://ilmuwanmuda.wordpress.com/profesi-kependidikan/

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/konsep-profesi-kependidikan

http://sopwanhadi.wordpress.com/2010/02/28/makalah-profesi-kependidikan/

Killen, Roy. Effective Teaching Strategies. Australia: Social Science Press: 1989

Kindsvatter, Richard, et al. 1996. Dynamic of Effective Teaching. New York: Longman Publishers USA, 1996

Koehn, Daryl. Landasan Etika Profesi. Jakarta: Kanisius, 2000

Nasution, S. Pengembangan Kurikulum. Bandung: P.T. Citra Aditya Bakti, 1991

Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remadja Rosdakarya, 2001

Tilaar. H. A. R. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: P.T. Remadja Rosda Karya, 1993

 

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 31 Maret 2011, in SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK TERHADAP PESERTA DIDIK. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: