SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK TERHADAP ORGANISASI PROFESIONAL


A. LATAR BELAKANG

Proses pendidikan di Indonesia saat ini sangat tergantung pada perencana kebijakan dalam hal ini adalah pemerintah baik pusat maupun daerah serta pihak terkait yakni kementerian pendidikan nasional maupun dinas pendidikan di tingkat yang lebih rendah berikutnya, serta pelaksana pendidikan di tingkat paling dasar yaitu satuan pendidikan yang langsung secara praktis melaksanakan proses pendidikan dengan mengacu pada rambu-rambu pelaksanaan pendidikan sebagaimana disusun pemerintah pusat sebagai pemegang kendali dan penentu arah dan tujuan secara global terhadap proses pendidikan yang dijalankan.

Besar kepastian bahwa sekalipun proses pendidikan ditentukan arah dan tujuannya namun otoritas kebijakan dan pelaksanaan proses pendidikan berada di tangan satuan pendidikan sebagai pelaksana proses pendidikan yang langsung bersentuhan dengan objek pendidikan itu sendiri. Sebagaimana implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang dicanangkan pada 2006 lalu dengan memandang keberagaman adat, budaya, kondisi di lapangan maupun unsur pendukung dan penghambat, serta kekurangan dan kelebihan masing-masing satuan pendidikan adalah berbeda sehingga menuntut adanya personalisasi masing-masing satuan pendidikan untuk mengembangkan sumber daya dan budaya serta proses pendidikan yang optimal dengan mengacu pada garis-garis besar tujuan pendidikan nasional yang disusun pemerintah pusat.

KTSP menuntut masing-masing satuan pendidikan untuk berbenah seefisien dan seefektif mungkin untuk mengembangkan dan memajukan proses pendidikan secara optimal dan bersaing secara global. Satuan pendidikan dapat melaksanakan peran dan fungsi sebagai pengelola dan pelaksana proses pendidikan seara optimal sesuai karakteristik masing-masing maupun budaya dan sumber daya yang ada. Oleh karenanya, dengan adanya penerapan KTSP dimaksudkan dapat memajukan taraf pendidikan di tanah air.

Satu unsur yang tidak terlepas dari proses kemajuan pendidikan khususnya di satuan pendidikan adalah pendidik. Pendidik merupakan nyawa pendidikan yang membantu peserta didik untuk mencapai target pembelajaran yang digariskan oleh pemerintah pusat melalui kementerian pendidikan nasional. Pendidik memiliki peran sentral dalam mengembangkan proses pendidikan yang bermuara pada proses pendidikan di satuan pendidikan dan mengantarkan peserta didiknya ke arah yang dituju sehingga dihasilkan generasi penerus yang siap bersaing secara global di tengah percaturan proses kehidupan modern yang menuntut banyak perkembangan dan kemajuan di berbagai sektor.

Untuk menunjang tugas dan peranan pendidik pada proses pendidikan yang bermuara pada proses pembelajaran di satuan penddikan perlu adanya satu bentuk kegiatan yang dapat mengembangkan sumber daya pendidik itu sendiri. Bentuk kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui adanya sebuah organisasi profesi dimana tiap-tiap pendidik dapat share dan mengembangkan ilmu maupun pengetahuannya seputar proses pendidikan khususnya pengelolaan pembelajaran dan sejenisnya. Pendidik sebagai manajer proses pembelajaran perlu mengembangkan dan menyalurkan sumber daya yang dimiliki melalui satu wadah yang dapat mengembangkan usaha dan kemampuan yang dimilikinya. Melalui wadah profesi berupa organisasi profesional setidaknya pendidik dapat mengoptimalkan kemampuan dan intensitas sumber daya yang dimiliki dan tukar pengalaman dengan pendidik lainnya. Dengan adanya organisasi profesional pastinya akan menambah referensi pendidik baik secara tertulis, teoretis, maupun praktis akan menghasilkan seorang pendidik dan berdaya guna dengan multitalented yang tinggi.

 

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka pokok permasalahan yang dibahas pada makalah ini, antara lain;

1.         Apa yang dimaksud dengan profesionalisme

2.         Bagaimana pendidik yang memiliki sikap profesional dalam proses pendidikan?

3.         Bagaimana pendidik yang memiliki sikap profesional terhadap organisasi profesional?

 

C. PENGERTIAN

Bila mendengar kata profesional maka banyak kalangan mengganggap bahwa sesuatu yang dikatakan profesional adalah bukan sembarangan dalam menentukan dan memberikan konotasi terhadap kata profesional tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari profesional merupakan seseorang/unsur yang telah memiliki suatu karakteristik yang memiliki nilai lebih atau dapat dikatakan satu level di atas dari lainnya dalam sektor yang sama. Sebagai contoh yaitu pendidik dapat dikatakan profesional manakala memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan atas profesinya sebagai pendidik di dunia pendidikan.

Secara estimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris yaitu profession atau bahasa latin, profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental; yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual. Jadi suatu profesi harus memiliki tiga pilar pokok, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik.

Kata Profesi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya keahlian dan etika khusus serta standar layanan. Pengertian ini mengandung implikasi bahwa profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang secara khusus di persiapkan untuk itu. Dengan kata lain profesi bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain.

Definisi lainnya menyatakan bahwa profesi merupakan suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan/menuntut suatu keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian diperoleh dari lembaga pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiil-duniawi. Dua pendekatan sebagaimana dipaparkan di atas dapat dipahami dua pendekatan di bawah ini untuk membedakan dan memudahkan mendefinisikan apa itu profesi maupun profesional, antara lain;

1.      Pendekatan berdasarkan Definisi

Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari Manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

 

2.      Pendekatan Berdasarkan Ciri

Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional. Karena pandangan lain menganggap bahwa hingga sekarang tidak ada definisi yang yang memuaskan tentang profesi yang diperoleh dari buku maka digunakan pendekatan lain dengan menggunakan ciri profesi.

Secara umum ada 3 ciri yang disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu ialah:

  • Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka yang telah lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti dokter, dokter gigi, psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara, pengacara diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi.
  • Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur, pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter atau dokter gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual yang dominan. Komponen intelektual merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahliannya yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami orang awam. Jadi memberikan konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri profesi.
  • Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada kepentingan sendiri. Dokter, pengacara, pendidik, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang pakar permainan catur, misalnya. Bertambahnya jumlah profesi dan profesional pada abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat berfungsi maka masyarakat modern yang secara teknologis kompleks memerlukan aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus daripada masyarakat sederhana yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi enersi memerlukan aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal memerlukan tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan. Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan intelektual yang ekstensif.

Menurut Ornstein dan Levine dalam Qade menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatan yang sesuai dengan pengertian profesi, antara lain; (1) Melayani masyarakat merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat; (2) Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai; (3) Menggunakan hasil penelitin dan aplikasi dari teori ke praktik; (4) Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang; (5) Terkendali berdasarkan lisensi buku dan atau mempunyai persyaratan yang masuk; (6) Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu; (7) Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan; (8) Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien; (9) Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya relatif bebas dari supervisi dalam jabatan; (10) Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri; (11) Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok ‘elite’ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya; (12) Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan; (13) Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari pablik dan kpercayaan diri setiap anggotanya; (14) Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi.

Pada sisi lain profesi mempunyai pengertian seorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur berdasarkan intelektual. Hal demikian dapat dibaca pula pendapat Volmer dan Mills, Mc Cully, dan Diana W. Kommer (dalam Sagala), mereka sama-sama mengartikan profesi sebagai spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui study dan training, bertujuan menciptakan keterampilan, pekerjaan yang bernilai tinggi, sehingga keterampilan dan pekerjaan itu diminati, disenangi oleh orang lain, dan dia dapat melakukan pekerjaan itu dengan mendapat imbalan berupa bayaran, upah, dan gaji (payment).

 

D. SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK

Secara umum sikap profesional seorang pendidik merupakan bentuk upaya pendidik itu sendiri untuk bertindak, bersikap, dan berpikir sebagaimana seorang profesional dalam bidang pendidikan pada khususnya dan dalam berbagai sektor kehidupan pada umumnya. Seorang pendidik harus dapat dijadikan panutan pada proses kehidupan di masyarakat maupun di lingkungan pendidikan oleh masyarakat, peserta didik, maupun teman sejawatnya di lingkungan satuan pendidikan.

Seorang pendidik yang profesional dapat mengembangkan ilmu yang dimiliki dalam proses kehidupan yang dijalani baik pada sektor pendidikan maupun sektor lainnya. Hal demikian merupakan tanggung jawab profesi yang harus dilakukan seorang pendidik sebagai jabatan profesional yang harus diembannya. Dengan demikian seorang pendidik harus senantiasa mengembangkan dan meningkatkan kemampuan baik secara personal maupun dalam peranannya sebagai anggota masyarakat di lingkungan sosial.

 

E. SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK TERHADAP ORGANISASI PROFESIONAL

Pendidik sebagai salah satu komponen keberhasilan terlaksananya proses pendidikan di satuan pendidikan secara pribadi maupun bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Proses peningkatan dan pengembangan profesi tersebut dapat dilakukan melalui keberadaan organisasi profesi yang merupakan bengkel pengolahan dan pengembangan profesionalisme terhadap pendidik itu sendiri. Upaya peningkatan tersebut dapat dilakukan secara sendiri maupun bersama-sama baik secar formal maupun informal.

Peningkatan profesionalisme pendidik secara formal pada lembaga/organisasi profesinya dapat dilakukan melalui mengadakan dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang terencana dan terpadu baik waktu, materi, maupun narasumber yang mengisinya. Kegiatan tersebut dapat berupa seminar, lokakarya, pelatihan, maupun bentuk-bentuk workshop lainnya yang tentunya memiliki tema dan materi yang relevan dengan kondisi pendidikan yang berkembang saat ini sehingga pendidik selalu up date pengetahuan dan ilmunya agar dapat memberikan sesuatu yang terbaik dan fresh kepada peserta didiknya. Adapun peningkatan profesionalisme secara informal dapat dilakukan melalui pencarian informasi maupun data tentang pendidikan yang trend melalui media baik cetak maupun elektronik.

Pengembangan secara formal lainnya dapat dilakukan melalui peningkatan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi  di lembaga pendidikan formal seperti Universitas maupun LPTK yang relevan dengan tugas mengajar yang diembannya. Hal ini dapat dilihat sebagaimana salah satu komponen yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik berdasarkan UU Guru dan Dosen bahwa pendidik harus dinyatakan lulus pada jenjang pendidikan setara S1 atau D4 yang relevan dengan tugas mengajarnya. Sehingga, peningkatan secara formal dengan menempuh proses belajar melalui lembaga pendidikan tinggi wajib dilakukan oleh pendidik yang belum memenuhi criteria tersebut. Selain itu, pengembangan profesional pendidik juga dapat dilakukan melalui pendidikan berkelanjutan contohnya melalui organisasi profesi dalam bentuk lokakarya maupun symposium.

Berdasarkan kode etik pendidik sebagai jabatan profesional, sasaran sikap dan profesional seorang pendidik terhadap organisasi profesional dapat dijabarkan sebagai berikut; (1) Pendidik menjadi anggota aorganisasi profesi pendidik dan berperan serta secara aktif dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan; (2) Pendidik memantapkan dan memajukan organisasi profesi pendidik yang memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan; (3) Pendidik aktif mengembangkan organisasi profesi pendidik agar menjadi pusat informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan pendidik dan masyarakat; (4) Pendidik menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas konsekuensinya; (5) Pendidik menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya; (6) Pendidik tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan martabat dan eksistensis organisasi profesinya; (7) Pendidik tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya; (8) Pendidik tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

F. KESIMPULAN

Pendidik sebagai pekerjaan yang profesional menuntut banyak hal yang harus dipenuhi oleh seorang profesional. Seseorang termasuk pendidik dapat dikatakan seorang profesional manakala memenuhi criteria yang dipersyaratkan. Pendidik memiliki tanggung jawab selain kepada lembaga tempat bekerja juga kepada masyarakat sebagai panutan dalam bertindak dan berpikir sehingga pendidik dapat dikatakan sebagai seorang yang professional.

Implementasi sikap professional pendidik dalam organisasi profesi dapat dilakukan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan profesinya agar dapat senantiasa up date ilmu dan pengetahuannya pada proses pendidikan pada khususnya dan kehidupan sehari-hari pada umumnya. Dengan demikian pendidik yang professional dapat bertahan berkembang dalam lingkungan apapun terkait proses kehidupan yang dijalaninya sebagai anggota suatu organisasi profesi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://erwadi.polinpdg.ac.id

http://ilmuwanmuda.wordpress.com/profesi-kependidikan/

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/konsep-profesi-kependidikan

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/konsep-profesi-kependidikan

http://qade.wordpress.com/2009/02/11/profesi-kependidikan/

http://qade.wordpress.com/2009/02/11/profesi-kependidikan/

Sagala, Syaiful. Kemampuan profesional guru dan tenaga kependidikan: pemberdayaan guru, tenaga kependidikan, dan masyarakat dalam manajemen sekolah. Bandung: Alfabeta, 2009

Soetjipto dan Raflis Kosasi. Profesi Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2009

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007

 

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 31 Maret 2011, in SASARAN SIKAP PROFESIONAL PENDIDIK TERHADAP ORGANISASI PROFESIONAL. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: