27/07/09 –1


Hari pertama (Senin) kulalui dengan memasuki suatu tempat baru, suasana baru, lingkungan bari, dan rekan-rekan yang baru pula (walaupun ada sebagian diantaranya sudah kukenal).

Hal pertama yang tersibak dalam beka pikiranku, ketika kusampai di tempat tugasku yang baru ini, aku seharusnya masuk pkl. 08.00, namun karena takut terlambat dan sebagainya, kuusahakan untuk datang lebih awal (walaupun pada dasarnya memang telat)[1].

Upacara bendera selesai bendera telah dikibarkan dan semua kembali seperti semula, anak-anak masuk ke kelas masing-masing dengan tertib dan guru-guru mempersiapkan diri untuk memasuki kelasnya masing-masing. Akupun mulai bercengkerama dengan rekan-rekan guruku yang baru pula.

Adapun hal pertama yang dibicarakan adalah mengenai jadwal mengajarku di sekolah ini, yang selama seminggu ada waktu dua hari yang memang sudah dialokasikan dari sekolah ini untuk kupakai sebagai jam bahasa inggris. Sehingga selama dua hari ini, harus kucapai target untuk memasuki dan mengajar 6 kelas di sekolah ini. Lantas pembicaraan berlanjut pada hal-hal kehidupan sebagaimana ibu rumah tangga yang sibuk dengan keluarganya dan aktifitasnya di kampus (yang kulihat ada dua orang guru yang sedang melanjutkan kuliah untuk mendapat gelar S.Pd di salah satu universitas swasta di Jakarta).

Karena jam mengajarku dimulai pada pkl. 08.00, maka ada sedikit waktu untuk menunggu dan kugunakan pula untuk beradaptasi dengan lingkungan ini tak lupa dengan penjaga sekolah yang memang saat ini sedang menyelesaikan tugasnya di ruang guru.

Jam menunjukan pkl. 07.50, dan yang tidak kusangka sebelumnya bahwa jam di kantor itu ternyata telat 10 menit, sehingga seharusnya aku sudah masuk ke kelas untuk mengajar. Itupun kuketahui dari rekan guru pendidikan agama kristen yang sedang menyelesaikan tugas administrasinya di ruang guru.

Akupun langsung bergegas menuju kelas pertamaku, namun belum sempat aku keluar kantor guru kelas 1 telah menjemputku, dengan penuh santun menyapaku, “Pak, Fajri sekarang langsung ke kelas satu yaa…” sapanya. Belum sempat kujawab pernyataan itu, sambutan dari guru yang sama langsung terucap dari mulutnya “nanti kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja, atau suruh anak di kelas saja, kalau perlu spidol ada di laci saya, ambil saja dulu” sapanya.

Tanpa basa-basi langsung aku bergegas menuju kelas pertamaku[2], kunaiki gedung tiga lantai itu, kebetulan kelas yang kuajar pada jam ini ada di lantai dua, langsung aku bergegas ke sana, kulalui tangga sekolah ini belok ke kanan lantas belok lagi ke kiri, kelas satu terletak di samping tangga sebelah kiri….

Kumasuki ruangan yang penuh dengan wajah mungil generasi penerus bangsa ini. Tampak muka-muka imut diantara mereka, ada satu yang langsung berinisiatif menyalamiku tepat ketika aku berada di depan kelas satu. Wah, ternyata mengajar di sekolah dasar itu terasa sangat indah sekali, ada satu hal yang belum aku lalui, mempersiapkan materi pembelajaran hari ini—yang sama sekali belum ada di benakku harus kuapakan mereka ini, harus kuajak belajar apa mereka hari ini—kulihat materi di kelas atasnya (kelas dua), wah rupanya inspirasi datang secara tiba-tiba. Kuajak mereka bernyanyi lagu “My ABC” walaupun banyak kulalui kesulitan ketika memulainya, seiring berjalannya waktu ditambah dengan beberapa siswa telah mengetahui[3] lagu ini, yang sangat memudahkanku… kunyanyikan lagu ini di depan mereka, begitu menarikkah lagu ini? Atau pembawaanku yang memang sebagai new teacher di sekolah ini, rupanya perhatian mereka tidak beranjak sampai kusuruh anak-anak itu menuliskan lagu ini, beberapa hal yang perlu menjadi catatanku, ada satu anak (perempuan) yang memang sulit memperhatikan materi pembelajaran yang harus dijalaninya (yang hanya ingin main, yang mengherankan dengan bangganya dia berkata “pak saya malas belajar, saya pengennya maen aja” uhm,,, sejenak kuberpikir apa yang harus kulakukan dengan anak jenis ini, kuajak dia untuk mengambil alat tulisnya kulihat dia masih belum mau melakukannya, kupancing dengan meminta teman kelasnya yang memang dia mampu untuk mengajarinya (tutor sebaya) rupanya metode ini cukup menjanjikan.

Bel tanda istirahat berbunyi kukembali menapaki tangga sekolah tiga lantai ini menuju ke ruang guru untuk istirahat sejenak, melepas penat dan lelah setelah berjuang mencerdaskan anak bangsa ini. Masih terngiang anak tadi, apakah cukup dengan metode ini (tutor sebaya) saja, aku harus mencari alternatif selain ini.

Bel tanda masuk telah berbunyi kususuri lorong kelas di sekolah dasar berlantai tiga. Kumasuki kelas yang seharusnya menjadi tempatku mengajar selanjutnya, kelas lima itulah kelas yang saat ini sedang kuajak untuk belajar bahasa inggris. Rupanya kejadian di kelas satu tidak terulang di kelas ini, begitu antusiasnya kelas ini sampai aku lupa waktu, saat pertama seperti biasa kuajak mereka memperkenalkan diri masing-masing di depan teman-teman sekelasnya. Rupanya mereka telah mahir mengucapkan kalimat-kalimat introduction, hanya perlu pembiasaan saja agar bahasa inggris dapat mereka pakai dalam percakapan sehari-hari setidaknya 40% selama jam belajar mereka gunakan bahasa internasional ini. Wah, pelajaran pertama dimulai dengan mempelajari “TIME”, syukurlah tidak kutemui hambatan berarti di kelas ini, baik dari segi siswanya maupun  materi pembelajaran yang mereka pelajari. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam masalah waktu/time yaitu past dan to, past digunakan untuk menyatakan lewat atau lebih, sedangkan to dipakai untuk menyatakan hal sebaliknya menuju atau kurang, sebagai contoh; pkl. 07.15 (tujuh lewat lima belas menit) maka perlu digunakan past yaitu a quarter past seven, it’s so easy kataku kepada mereka. Dan yang terpenting belajar bahasa inggris tanpa kamus ibarat orang buta belajar berjalan tanpa tongkat.

Rupanya jam mengajarku telah habis di kelas tiga[4], dari kelas ini yang terletak di lantai tiga, langsung aku kembali hendak menuju kantor, di tengah perjalanan aku bertemu mantan kepala sekolah ini[5], rupanya ada satu hal yang tidak kuketahui sebelumnya, ada seorang guru yang mendapat berkah sertifikasi, yang katanya baru keluar, mengajakku bersama guru-guru lainnya untuk makan siang di luar, wah tak kulewatkan kesempatan ini (kebetulan perut sudah mulai memanggil untuk diisi asupan gizi) sedikit banyak aku berbincang dengan mantan kepala sekolah ini, yang cukup menginspirasiku adalah sepak terjangnya di dunia pendidikan yang boleh dibilang tidak setengah-setengah, mulai keaktifannya menulis buku mata pelajaran (IPA) di sebuah penerbit nasional, pemikiran dan sepak terjangnya di organisasi, maupun hal-hal lainnya yang memang cukup menginspirasiku untuk berpikir maju. Tata cara pengelolaan sekolah yang merangkul semua unsur sekolah, termasuk (yang selama ini dilewatkan) para orang tua siswa sangat respect dengan beliau. Beliau sangat memperhatikan hal demikian, mulai dari kesejahteraan para pegawainya terutama yang masih honorer, maupun makan bersama yang semuanya dipersiapkan dan dikeluarkan dari kantong orang tua siswa secara tulus dan ikhlas yang setidaknya selama satu minggu pasti walaupun sekali pasti ada. Dan masih banyak hal lainnya yang cukup membuatku berpikir dan termotivasi untuk melakukannya.

Sampai juga aku kembali dari perjalanan makan siangku, setelah lumayan lama berbincang dengan mantan kepala sekolah ini, sejenak kuberpikir kapan aku dapat berbuat setidaknya seperti apa yang telah beliau lakukan, membahagiakan dan mensejahterakan orang lain, berbuat terbaik untuk orang lain, rasanya masih jarang kepala sekolah yang mau sepenuhnya berbuat demikian.

Hari pertamaku mengajar, hari yang melelahkan…. walaupun menginspirasi tapi semua itu pasti ada hikmah yang dapat kuambil untuk bekal kehidupanku di masa yang akan datang.

Itu pasti…


[1] Jam masuk sekolah dasar pkl. 06.30, namun aku baru datang sampai di tempas tugasku yang baru ini sekitar pkl. 07.15, sehingga akupun terpaksa menunggu di luar pintu gerbang (karena sedang diadakan upacara bendera di lapangan).

[2] Maklum guru baru tidak boleh terlihat malas, apalagi memperlihatkan kelemahannya di saat pertama kali, wah anti itu

[3] Setidaknya pernah mendengar lagu ini (My ABC)

[4] Dari kelas lima, masuk jam istirahat kedua dan masuk kembali langsung mengajar di kelas tiga

[5] Yang saat ini telah pensiun, namun masih aktif di organisasi profesi tingkat daerah

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 13 November 2010, in ceritaku. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. keren. abis…. kenapa gx diterusin lagi mas…. kali nanti bisa kayak andrea hirata atau penulis inspiratif lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: