27/07/09 –2


Lama terpikir di di benakku, mau apa aku hidup. Apa yang harus kulakukan tuk lampaui hidup yang aku tak tahu mau jadi apa dan dapat apa aku nantinya.

Seiring berjalannya waktu, kian lama kuberpikir rupanya aku harus beranjak dari peraduan mimpi dan angan-anganku untuk berjuang di jalur pendidikan. Yang memang sangat berat sekali perjalanan pendidikan di Indonesia. Mulai dari perhatian para elit politik yang punya hajat maupun dari masyarakat Indonesia sendiri yang kadangkala masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu kebutuhan tersier. yang mana para orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah dasar khususnya hanya karena tuntutan pemerintah—red. Walaupun ada juga yang anaknya masih belum seharusnya masuk tingkat sekolah dasar[1] namun, karena kemauan anak dan orang tua pada akhirnya dengan keterbatasan umur itu mereka dapat menikmati pendidikan murah[2] di sekolah dasar negeri di seluruh Indonesia. Namun, pemerintahpun juga tidak bisa serta-merta disalahkan[3] karena bila dipikir secara realistis, pendidikan maju dan bermutu setidaknya memerlukan kerjasama tiga komponen yang pertama adalah para otang tua/wali siswa dimaksud, instansi sekolah yang dalam hal ini dapat diartikan pemerintah, dan satu lagi masyarakat. Ketiga unsur ini sangat berperan penting dalam hal memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Hanya saja tidak semua kalangan masyarakat memahami hal ini.

Kulihat jam di handphone jadulku telah menunjukkan pkl. 07.14, ada yang hendak kulakukan pagi ini sebelum beranjak ke sekolah baruku. Aku harus menggandakan daftar hadir dan nilai yang baru aku print semalam, namun ada satu yang bergejolak di hatiku. Saat ini uang di kantong celanaku tersisa hanya cukup untuk transport pulang-pergi ke sekolah, lantas dengan apa aku harus membayar biaya fotocopy ini. Lama aku berpikir duduk berdiri dan duduk kembali sampai akhirnya tetap aku menuju ke tempat foto copy yang terletak di dekat kos yang memang bersebelahan dengan kantor Polisi Sektor di salam satu sudut ibukota negara Republik Indonesia.

Ternyata sisa uang di kantong celanaku hanya cukup untuk sekali perjalanan menuju sekolah. Namun ah, aku pikir selama ada niat dan tindakan pasti ada jalan. Hanya itu yang aku tekadkan di dalam hatiku. Lantas selesai menggandakan daftar absen dan nilai langsung aku bergegas memakai sepatu dan menuju ke jalan untuk menunggu Mikrolet yang aku naiki menuju sekolah dasar tempat aku mengajar ini. Cukup lama aku menunggu, tapi berkat kesabaran dan ketenangan akhirnya sebuah Mikrolet berlalu di depanku sontak aku langsung melambaikan tanganku agar tidak terlewat itu Mikrolet dan yang terpenting aku tidak terlambat sampai di sekolah.

Begitu sampai di sekolah langsung aku salami ibu kepala sekolah yang sedang ditemani oleh seorang bapak[4], dan selesai aku salami ibu kepala sekolah langsung aku menuju ke ruang guru. Di sana sudah menunggu bapak penjaga sekolah yang sedang bercengkerama dengan guru agama dan guru kelas I[5], kusalami mereka satu persatu, duduk sebentar menghilangkan lelah yang tersisa, kulihat jam di ruang guru menunjukan pkl. 07.20, kusambangi dan kuambil sebuah gelas kosong, kutuang sedikit air teh yang ada di teko dan kucampur dengan sedikit air panas dan tak lupa satu setengah sendok makan gula pasir untuk kuteguk pagi ini, kuaduk air teh ini sampai larut gula yang tersisa di gelasku, kembali duduk dan kunikmati segelas air teh hangat dengan sedikit gula[6], cukup lama aku mengobrol dengan guru agama itu dan kusiapkan materi hari ini (karena aku tak mau mengulang kesalahan untuk kedua kalinya). Hari ini sama aku mengajar tiga kelas yaitu kelas II, kelas VI, dan terakhir di kelas VI. Waktu menunjukan pkl. 07.50 langsung aku bergegas menuju ke kelas di mana aku seharusnya mengajar saat ini, tidak ada yang aku takutkan dan bingungkan sebelumnya, karena materi pembelajaran sudah kusiapkan, dan ruang kelas tempat aku akan mengajar juga aku sudah tahu tepatnya terletak di paling ujung lantai dua gedung sekolah berlantai tiga ini. Kudatangi ruang kelas II yang terlihat gelap di pagi hari ini, yang aku tidak tahu sebabnya. Kusalami guru di kelas ini, dan langsung aku perkenalkan diri di depan makhluk-makhluk mungil ini.

Bel tanda istirahat telah berlalu, bergegas aku menuju ruang guru yang ada di lantai paling bawah gedung sekolah ini. Akupun melanjutkan perbincanganku dengan guru agama di sekolah ini, eitz ada makanan gratis ini, wah lumayan buat ganjal perut yang baru terisi air teh manis hangat ni. Kuambil sedikit mie goreng yang memang sudah disediakan di meja kantor ini, kurang tinggal nambah lagi. Ups, ternyata ada sebagian guru yang belum menikmati mie goreng gratis ini. Yah apalah mau dikata makanan sudah larut tertelan ke dalam perut tak mungkin aku mengembalikannya.

Hari ini, satu hal yang menjadi bahan perhatianku, begitu indahnya bermain dan belajar bersama anak kecil terutama di salah satu kelas tinggi sekolah ini, baru kupikirkan ternyata ini resepnya tetap awet muda dengan banyak tersenyum dan tertawa apalagi yang menemani tertawa adalah anak-anak kecil mungil yang memang masih polos dengan hal-hal yang bersifat negatif sehingga kita dengan mudahnya diterima di sisi mereka dengan senang dan gembira. Sampai siang aku bercanda sambil belajar untuk menyelesaikan sebuah percakapan (bahasa Inggris terntunya) yang aku buat sendiri tanpa teks pula, namun aku catatkan mereka di papan tulis putih nan bersih, sehingga mereka lebih mudah dalam mengikuti pembelajaran bahasa inggris tentang percakapan terutama greeting.

Waktu berselang, tanda bel pulang telah berkumandang akupun harus bergegas memulangkan anak-anak di kelas IV sekolah dasar ini, tak lupa kukasih mereka sebuah lagu yang populer oleh sebuah iklan industri semen nusantara yang berjudul “Que sera sera”, nada demi nada kian teralun dengan indahnya hari ini. Que sera-sera, whatever will be will be, the future’s not our to see, que sera-sera, what will be will be….


[1][1] Menurut peraturan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Propinsi bahwa yang berhak diterima di tingkat sekolah dasar adalah mereka yang telah berumur sekurang-kurangnya 7 tahun pada bulan Juli terhitung saat masuk tahun ajaran dimaksud

[2] Aku lebih setuju dengan apa yang pernah dikatakan oleh seorang pimpinan partai Laksamana Sukardi yang mengatakan pendidikan murah lebih realistis daripada pendidikan gratis karena sampai kapanpun dia meyakini pemerintah tidak akan mampu mewujudkan pendidikan gratis sepenuhnya, sehingga dengan istilah pendidikan murahlah dapat dikatakan sebagaimana kondisi pendidikan di Indonesia saat ini.

[3] Walaupun Undang-Undang telah menjamin hal ini sebagaimana pembukaan Undang-Undang Dasar 1945

[4] Mungkin wali siswa yang hendak memesan baju olahraga

[5] Yang saat ini kelasnya sedang belajar Penjas

[6] Menurut sumber yang kudapat dari seorang dosenku, di waktu pagi kita minum segelas air teh manis hangat dapat menambah tenaga untuk beraktifitas dan tentunya kandungan gula dan teh yang pas dapat menambah rileks suasana di pagi hari

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 13 November 2010, in ceritaku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: