Hindari Wedhus Gembel, Joko Berendam di Kubangan


Warga dengan tubuh berlumur abu vulkanik mengungsi ke Stadion Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, pascaerupsi Gunung Merapi, Jumat (5/11/2010) dini hari. Radius kawasan rawan bencana ditingkatkan dari 15 kilometer menjadi 20 kilometer pasca erupsi yang disertai luncuran awan panas dan mengakibatkan jatuhnya puluhan korban jiwa tersebut.

Joko Supriyanto (20), warga RT 01 RW 33, Dusun Wonokerso, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, berhasil menyelamatkan diri dari kepungan awan panas atau wedhus gembel yang terjadi pada erupsi Merapi, Jumat (5/11/2010) dini hari. Ia mengaku menyelamatkan diri dengan berendam di kubangan saluran irigasi yang tak jauh dari rumahnya.

“Saya sempat melihat awan panas kayak wedhus gembel, warnanya hitam pekat.”
— Joko

“Saya sempat melihat awan panas kayak wedhus gembel, warnanya hitam pekat. Saya langsung nyemplung di kubangan,” ujar Joko yang saat ditemui Tribun Jogja sedang mencari keluarganya yang hilang di unit Forensik RSUP Dr Sardjito, Jumat (5/11/2010) siang.

Joko menuturkan, pada Kamis malam saat kejadian sekitar pukul 23.30 WIB, ia sudah diberi tahu untuk mengungsi dari rumahnya oleh aparat desa setempat. Ia tinggal bersama 2 mbah-nya, yakni Mbah Putri Pawiro Suharto (65) dan Suroto (65), yang malam itu sudah hampir terlelap.

Begitu ada imbauan untuk evakuasi, Joko langsung mengajak kedua mbah-nya untuk turun. Pertama, ia menurunkan si mbah laki-laki dengan menggunakan sepeda motor. Mbah Suroto diturunkan pertama lantaran punya penyakit stroke.

“Setelah saya taruh di barak pengungsian di Ngemplak, saya lalu naik lagi untuk jemput Mbah Putri,” ujarnya.

Hampir sampai di rumah, tiba-tiba awan panas menyambar. Joko ingat betul ketika itu wedhus gembel yang berwarna hitam pekat itu terasa sangat panas. Joko pun langsung menyelamatkan diri dengan menenggelamkan diri di dalam sebuah kubangan di saluran irigasi yang berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya. Ia berendam di dalam air yang berketinggian 2 meter dari permukaan.

“Saya sempat diam di kubangan sekitar 5 menit, sampai situasi normal. Tapi sayang Si Mbah tidak bisa diselamatkan,” katanya.

Joko kemudian diselamatkan oleh Budi Purwanto, pamannya. Kendaraan motor yang digunakan untuk menyelamatkan Si Mbah pun ikut terbakar di bagian jok. Namun, Joko mengaku selamat tanpa ada bekas luka bakar sedikit pun karena berhasil dibawa lari petugas evakuasi yang datang bersama pamannya itu.

“Saya ngeri kalau ingat kejadian itu. Saya terus berdoa agar selamat,” ucapnya.

Joko, bersama pamannya, siang tadi, tengah mencari jenazah mbah putrinya. Menurut kabar, jenazahnya memang sudah dibawa ke bagian forensik di RSUP Dr Sardjito untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Pada saat kejadian, orangtua Joko sudah mengungsi terlebih dahulu, ke salah satu rumah kerabatnya di Prambanan, Sleman.

Sumber: Tribun Jogja/Theresia Andayani.

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 6 November 2010, in Wedhus Gembel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: