Dilema Sepatu Tua


Cerpen

Trisna


Setiap akhir pekan, tak banyak kegiatan yang dilakukan Anto. Menjadi asisten supir angkutan umum adalah salah satunya. Tentu bukan sembarang supir. Supir-supir itu adalah orang yang diberi kepercayaan oleh ayahnya, Pak Tedjo, sang juragan angkot. Anto sendiri sebenarnya tak perlu mencari penghasilan tambahan. Uang saku yang diterima dari kedua orangtuanya sudah lebih dari cukup untuknya, seorang pelajar yang masih duduk di bangku dua SMA. Supir-supir itu pun sebenarnya tak memerlukan asisten –atau kernet lebih tepatnya. Para penumpangnya terbiasa membayar langsung pada sang supir setiap kali mereka telah sampai di tempat tujuan. Tapi Anto bersikeras. Kadang dia duduk di muka pintu mobil, kadang dia berdiri, sambil sesekali melongok ke dalam, menagih ongkos para pengguna jasa angkutan. Sesekali dia hanya duduk layaknya penumpang. Di sebelah supir atau di belakang. Pun begitu, tak ada seorang supir yang kuasa berkata tidak. Kalian tahu kenapa.

Jika Anto mendapat bayaran atas hasil kerjanya, dia senang. Tapi bukan itu yang semata dia cari. Belajar soal kehidupan. Itu yang selalu dikatakan Anto tiap kali Pak Tedjo bertanya heran tentang hobi anak lelakinya itu. Dalam angkot, kata Anto lagi, dia selalu bisa melihat bermacam-macam orang. Adalah tak mungkin menebak karakter mereka hanya sekedar dari penampilan. Tapi, sedikit banyak, sifat mereka akan terlihat dari bagaimana mereka memerlakukan penumpang lainnya. Dari situ, dia belajar banyak soal kepedulian.

Dan kalau Anto tak sedang melakukan kegiatan itu, dia akan berjalan-jalan ke mal, pertokoan atau sekedar berkunjung ke rumah teman.

Seperti Minggu siang itu. Dia sudah beberapa jam berkeliling dalam mal di bilangan Kelapa Gading sebelum akhirnya masuk ke dalam sebuah toko kaset dan CD. Perjalanan yang awalnya hanya untuk melihat-lihat, ternyata harus berakhir dengan ketidakmampuan Anto menahan keinginan. Satu buah kaset dari album terbaru Eminem, satu buah kaset kompilasi hip-hop, plus satu buah CD album Alicia Keys, akhirnya memaksa Anto mengeluarkan lembaran-lembaran uang dari dalam dompetnya. Dua kaset itu jelas untuk dirinya sendiri, sementara CD Alicia untuk sang adik, Irma, yang beberapa hari ke depan akan berulang tahun.

Keluar dari toko kaset, Anto melewati toko sepatu. Dari luar, dia bisa melihat deretan sepatu yang dipajang di etalase toko. Sebuah sepatu kets berwarna full hitam menarik perhatiannya. Dia teringat sepatu miliknya. Sepatu warna hitam satu-satunya yang selama ini selalu dipakainya ke sekolah. Seringkali dipakainya juga saat berolahraga bersama teman-temannya. Saat itu juga Anto dilema. Pada dasarnya, dia tak sekedar memiliki keinginan membeli, tapi dia punya cukup uang untuk mewujudkannya. Tapi ketika dia mengingat kembali sepatu hitam miliknya, dia merasa tak terlalu butuh sepatu baru. Kondisinya masih bagus. Masih sangat laik pakai. Apalagi dia masih memiliki dua pasang sepatu lainnya. Maka, Anto berpikir, dirinya dan sepatu di etalase toko, rupanya belum berjodoh.

Cerita akan berlanjut, masih tentang Anto. Bukan Anto dan hubungannya dengan para supir, atau Anto dan angkot-angkot kepunyaan ayahnya. Bukan juga tentang Anto dan kegiatan bersama teman-temannya, melainkan tentang Anto dan sepatu tuanya. Pada Minggu siang itu, Anto tak pernah tahu, dilema itu akan mengantarnya pada sebuah problema. Keputusannya untuk tak berjodoh dengan sepatu di etalase toko, membuat garis kehidupannya yang selama ini tampak lurus-lurus saja, akan mengalami sedikit guncangan.
*****
Hari ketika guncangan itu terjadi dimulai seperti hari biasa.
Pak Tedjo siap berangkat ke pasar Tanah Abang bersama istrinya, Bu Rohaya, yang biasa dipanggil Bu Aya. Selain sebagai juragan angkot, pasangan suami istri itu juga memiliki sebuah kios di pasar tersebut. Kios yang menjual berbagai macam bahan kebaya. Anto dan Irma juga siap berangkat sekolah. Keluarga itu siap melakukan aktivitas mereka masing-masing.

Dengan menaiki angkot salah satu anak buah ayahnya, Anto dan Irma berangkat sekolah. Setelah kurang lebih sepuluh menit perjalanan, tepat di perempatan jalan, kedua kakak beradik itu turun. Tak lupa mereka membayar ongkosnya. Hampir semua ‘supir’ ayahnya, biasanya menolak dibayar. Tapi Pak Tedjo selalu mengingatkan anaknya untuk tak pernah menumpang secara cuma-cuma pada mereka. Mereka sedang mencari nafkah, begitu kata Pak Tedjo. Perkataan yang selalu dituruti kedua anaknya. Pada akhirnya, para supir pun tak pernah bisa menolak.

Saat itu hari Kamis. Sejak Senin, sekolah Anto, SMA Nusa Kejora, mulai melakukan pemeriksaan cukup ketat pada para siswanya. Salah satu sekolah swasta unggulan di Jakarta itu, melihat akhir-akhir ini banyak siswa mulai melakukan banyak pelanggaran tata tertib sekolah. Terutama masalah sepatu dan seragam sekolah. Misalnya, banyak siswa yang tak memasukkan bagian bawah bajunya ke dalam rok atau celananya, atau para siswi yang memakai rok di atas lutut. Atau siswa yang memakai sepatu selain berwarna hitam dan kaos kaki selain warna putih. Untuk yang terakhir, kebanyakan pelanggarnya adalah para siswi.

Anto melewati pintu gerbang dengan santai. Ibu Retno dan Pak Puji, guru piket hari itu, tampak sibuk menahan langkah para siswa yang kedapatan terlihat ‘berbeda’. Meski sudah hari keempat pemeriksaan dan razia sepatu dilakukan, tumpukan sepatu warna-warni di samping meja guru piket, masih terlihat cukup banyak, meski tak sampai menggunung seperti hari-hari sebelumnya. Salah seorang siswi terlihat sedang melepas sepatu dan kaos kakinya yang terlihat sangat full colour. Anto mengenal gadis teman sekelasnya itu. Razia itu sudah yang kedua kali bagi Rina, nama gadis itu. Tak belajar dari pengalaman, pikir Anto sambil menahan senyumnya. Dia terus berjalan melewati meja piket dan para korban razia.

Belum juga sampai di halaman, Anto dipanggil Bu Retno, salah seorang guru piket. Setelah Anto mendekat, tanpa bicara sepatah katapun, guru Bahasa Indonesia itu menunjuk pada sepatu Anto, kemudian menunjuk lagi pada gundukan sepatu di samping meja piket. Anto masih tak yakin dengan maksud gurunya. Dia pun bertanya sopan apa maksud gurunya. Bu Retno kemudian menyuruhnya melepas sepatu. Anto diam, tak melakukan apa yang diminta. Bukan karena tak mendengar perintah gurunya, tapi dia masih tak mengerti kenapa. Dilihatnya lagi sepatu yang dikenakannya. Menurut penglihatannya, dia memakai sepatu hitam. Ya memang hitam, pikirnya lagi, yakin. Sepatu itu juga yang dipakainya kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin kemarinnya lagi. Ia sudah memakai sepatu itu selama dia bersekolah di SMA itu, dari awal masuk hingga sampai dilakukannya razia seperti saat ini. Memang warnanya sudah mulai pudar, karena seringnya cuci-pakai, tapi masih terlihat… cukup hitam. Selama tiga hari program razia pun dia tak pernah kena masalah.
“Sepatu saya hitam, Bu, kenapa kena razia?” kata Anto.
“Lepas.” Kata Bu Retno singkat. Merasa pertanyaannya tak terjawab, Anto kembali menanyakan hal yang sama. Bu Retno lalu bertanya pada Pak Puji, rekan piketnya, warna sepatu Anto. Pak Puji terlihat ragu-ragu. “Kelihatannya hitam, hanya sudah agak pudar…”. Bu Retno berkata lagi pada Anto, “Lihat kan? Ini sudah tak lagi hitam. Pokoknya lepas sepatu kamu.”
Anto terpaksa menurut. Akhirnya dia melewati jam pelajaran dengan hanya berkaos kaki, hingga jam istirahat kedua. Memang, baru pada jam istirahat kedua, para siswa boleh mengambil kembali sepatu miliknya yang ditahan di meja piket.

Ketika jam pelajaran berakhir, saat sebagian besar siswa langsung melanjutkan kegiatannya dengan berbagai les, Anto memilih pulang ke rumah. Tak seperti adiknya yang mengikuti banyak les dan kursus, Anto enggan mengikuti berbagai kegiatan itu. Sejauh ini dia masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik, meski tidak dalam semua pelajaran dia memiliki nilai bagus. Sejauh ini, dalam sekolah dimana persaingan yang ada cukup ketat, dia masih bisa berada dalam kategori di atas rata-rata.
Anto terus menatap sepatu di rak di samping pintu kamarnya. Sepatu yang pagi tadi mendatangkan masalah baginya. Tak ada yang salah dengan sepatunya. Dari semenjak dia di sekolah dasar hingga SMA sekarang ini, dia selalu menaati peraturan sekolah, apapun bentuknya. Selain karena malas jika harus bersinggungan dengan pihak sekolah, orangtuanya jelas tak akan membiarkan ia melakukan pelanggaran sekecil apapun. Tidak untuk masalah seragam, rambut, sepatu, absensi dan kehadiran, atau hal sepele seperti buku.

Tidak, tak ada yang salah, pikir Anto. Sepatu yang tidak diperbolehkan adalah yang berwarna selain hitam. Itu bisa berarti merah, kuning, hijau, biru, atau apapun. Sepatu yang dibeli dan sudah dipakainya selama dua tahun itu, berwarna hitam. Kalau sekarang pudar, tetap saja, pada dasarnya dia masih berasal dari warna hitam. Tak ada alasan untuk mengganti dengan sepatu baru. Apalagi sepatu itu masih cukup bagus dan masih laik pakai. Setelah terus berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Anto memutuskan tetap memakai sepatu itu ke sekolah, esok hari dan seterusnya.

Jumat. Senin, Selasa, Rabu. Anto dan sepatu tuanya baik-baik saja, tak terkena razia Memang begitu seharusnya, batin Anto. Tapi, kembali pada hari Kamis, Anto berhadapan dengan dua orang guru piket yang merazia sepatunya minggu lalu. Lagi, untuk kedua kali, masih dengan alasan yang sama, Bu Retno menahan sepatunya. Anto kesal, meski ia tak menunjukkan kekesalannya itu pada sang guru.
Kamis minggu ketiga program razia, sepatu Anto masih saja menjadi korban setia. Padahal, Rina, teman sekelasnya yang modis itu pun sudah tak lagi kena razia. Anto bukannya tak berusaha membela diri. Tapi, betapapun Anto berdebat, dengan mengatakan semua argumentasi –dan tak lupa menunjukkan contoh warna-warna selain hitam pada kedua gurunya, ternyata itu pun tak cukup untuk membuat dirinya terbebas. Anto kesal, meski jelas dia tak pernah ingin memerpanjang masalah dengan kedua gurunya itu. Anto bersikeras, dia tak bersalah, sama seperti tak ada yang salah dengan sepatunya.
*****
Media massa sedang dihebohkan oleh pemberitaan Ridha Mulyaningsih, seorang wanita yang harus duduk di meja hijau terkait surat elektronik yang ditulis dan dikirimkan Ridha kepada beberapa orang temannya. Surat elektronik itu bercerita tentang pengalaman pribadinya yang kurang menyenangkan di sebuah restoran yang cukup ternama di Jakarta. Bagaimana kejadian yang sebenarnya dan bagaimana pula kelanjutan perkara ini? Entahlah. Tapi, kisah ini justru menginspirasi seorang remaja SMA yang sedang gundah karena sepatu kesayangannya justru membawa masalah.

Anto mulai kesal karena tak juga dapat meyakinkan kedua guru piket Kamisnya. Apalagi, sang kepala sekolah juga tak memberikan pembelaan. Seperti halnya Pak Puji, Pak Bagus, kepala sekolahnya, juga menyarankan Anto untuk mengganti sepatunya. Tapi Anto bersikeras. Dia begitu yakin kalau tak ada yang salah dengan sepatunya hingga dia merasa tak perlu menganntinya dengan yang baru.

Bermaksud mencari pembenaran sekaligus dukungan dari teman-teman sekolahnya, Anto mengirim email kepada beberapa orang temannya. Dia merasa tak bisa menceritakan hal itu terang-terangan di sekolah. Via email lebih baik, pikir Anto. Belajar dari kasus Ridha, Anto tak menyebutkan nama kedua guru piketnya. Berikut isi tulisan Anto,

Hati-hati ke Sekolah jika Sepatumu Tak Tampak Indah…
Ya, hati-hati. Kau akan kena razia! Begitulah yang terjadi di sekolah X, salah satu sekolah swasta di Jakarta. Dua orang guru piket, sebut saja Mr. Y dan Mrs. Z, menahan sepatu seorang siswa karena sepatunya yang berwarna tak lagi hitam karena  pudar, dianggap tak sesuai peraturan sekolah.
Apa mungkin peraturan sekolah itu telah diperbarui?
Sepatu harus berwarna hitam dan BARU.
Artinya, kalau kau tidak punya cukup uang untuk membeli sepatu baru, kau harus siap bersekolah tanpa alas kaki, karena sepatumu akan ditahan pihak sekolah.
Sebuah pelanggaran terhadap hak-hak pendidikan warga negara! Hak untuk mendapat pendidikan secara layak, aman, dan nyaman. Sebuah indikasi juga bahwa sekolah bagus hanya untuk orang-orang yang banyak fulus.
Mungkin, esok hari, sekolah tak lagi menerima siswa karena kecerdasan, tapi karena kemampuannya memberikan lebih banyak sumbangan. Hmmm….

Tiga hari setelah email itu dikirim, entah bagaimana, email itu kembali diterima Anto, setelah mendapat banyak komentar. Komentarnya pun beragam, dari yang merasa iba, memberi dukungan dengan ikut mencaci maki sekolah, sampai pada yang cuek dan berkata si siswa cuma cari masalah.
Ternyata, semua tak berhenti sampai di situ. Kini,  masalah Anto tak hanya datang dari sepatu bututnya. Seperti halnya Ridha, surat elektronik yang ditulis Anto pada akhirnya juga ikut mendatangkan masalah. Email itu sampai ke Bu Retno. Rupanya, merasa ada kemiripan dengan kisah dirinya dengan salah satu siswanya, Bu Retno menyimpulkan bahwa Mrs. Z yang disebutkan dalam tulisan itu, sudah pasti dirinya. Dan pengirimnya, sudah pasti siswa dari sekolah tempat dia mengajar. Maka, seperti halnya si restoran ternama yang menuntut Ridha, Bu Retno pun tak tinggal diam. Diadukannya peristiwa itu kepada kepala sekolah. Dengan alasan mencemarkan nama baik dirinya dan sekolah, Bu Retno meminta Anto, yang dia yakini sebagai si pengirim email, segera disidang dan diberikan hukuman.
*****

Tepat di hari kelima setelah tulisan itu beredar di kalangan siswa dan para staf sekolah Nusa Kejora, Pak Tedjo akhirnya dipanggil pihak sekolah. Pak Tedjo merasa heran sekaligus dilanda sedikit kepanikan. Selain saat pembagian rapot dan rapat para guru dengan orang tua, Pak Tedjo tak pernah dipanggil untuk datang ke sekolah. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak baik sedang menantinya di sekolah.

Pak Tedjo tiba di ruangan kepala sekolah. Anak lelakinya, Anto, sudah terlihat duduk di depan meja. Pak Tedjo mengambil tempat di sebelah Anto. Tak lama sang kepala sekolah langsung menceritakan segala permasalahannya. Muka Pak Tedjo seketika memerah, tak kuasa menahan rasa malu sekaligus berupaya meredam amarah.
“Apa yang Anto lakukan, bisa mencemarkan nama baik sekolah ini, Pak.” Kata kepala sekolah.
Pak Tedjo siap mengeluarkan permintaan maafnya ketika Anto, yang memang telah mengakui bahwa dia yang menulis email, tiba-tiba berujar, “Maaf , Pak. Bagian mana dari tulisan saya yang dianggap bisa mencemarkan nama baik sekolah ini, Pak?” Pak Tedjo menoleh pada anaknya. Alisnya hampir menyatu menahan geram.

Kepala sekolah berpikir sejenak. Tulisan itu memang tidak menyebutkan nama guru dan sekolah dengan jelas. Dia lalu berkata, “Bagaimanapun, bisa saja teman-temanmu yang terlanjur mengetahui peristiwa ini, menceritakan pada temannya dari sekolah lain. Pada akhirnya, nama sekolah ini yang akan disebut. Reputasi sekolah ini akan menjadi buruk. Padahal, kita ini kan sekolah swasta unggulan di Jakarta.”
“Apa yang saya tulis itu yang sebenarnya, Pak. Kalau kemudian apa yang ada dalam tulisan itu dianggap suatu keburukan, maaf, Pak, tapi jelas bukan saya yang menciptakan keburukan itu.” Anto masih melakukan pembelaan, sementara kepala sekolah terlihat menarik napas panjang. Belum juga menemukan jawaban yang tepat, Pak Tedjo sudah buka suara.
“Maaf, Pak. Ini memang kesalahan anak saya. Maafkan saya juga, kurang bisa mendidik dia. Sekali lagi, saya minta maaf, Pak. Saya bisa pastikan, besok, Anto tak akan memakai sepatu itu lagi.”

Bagi Pak Tedjo, sepatu itulah yang menjadi masalah. Dia tak mengerti dengan istilah email atau apapun yang sejak tadi disebut-sebut oleh kepala sekolah. Dia pun tak mau tahu apa tepatnya isi tulisan anak lelakinya dalam email itu. Yang dia tahu, gara-gara sepatu butut yang hingga saat ini masih dikenakan Anto, maka semua masalah ini terjadi dan dia berada di sekolah ini.

Anto melihat pada ayahnya. Dia pun mengerti, ayahnya tak mungkin melakukan pembelaan untuknya. Bagi ayahnya, guru, yang dikatakan ayahnya sebagai orang pintar, mereka selalu benar. Merekalah yang akan mengajarkan putra-putrinya menjadi orang pintar pula. Begitulah yang dipercayai Pak Tedjo, juga isterinya, Bu Aya. Kedua orang tua ini memang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga bangku SMP. Pun begitu, mereka punya harapan besar pada kedua anaknya. Dan masalah yang diciptakan Anto, bukan bagian dari mewujudkan harapan besarnya itu.
*****
Sampai di rumah, Pak Tedjo mengeluarkan emosi yang sejak tadi dipendamnya.
“Kalau masalahnya cuma sepatu, kenapa kamu nggak bilang, To? Bapakmu ini masih mampu untuk membelikan sepasang, bahkan lima pasang sepatu! Kamu bikin malu Bapak, To!” Pak Tedjo berusaha tak menaikkan nada suaranya. Bu Aya, yang duduk di sebelah suaminya, hanya bisa melihat anak lelakinya dimarahi.
“Anto nggak bermaksud bikin Bapak malu, Pak. Anto hanya berusaha memertahankan apa yang menurut Anto benar. Pertama, sepatu Anto masih bagus. Bapak sendiri yang bilang, sebaiknya jangan beli barang yang Anto nggak perlukan, ya kan? Kedua, Anto nggak tahu di mana salah Anto, Pak. Peraturannya sepatu harus hitam. Nah, sepatu Anto ini jelas hitam. Bapak sama Ibu yang membelikan sepatu ini, kan?”
“Tapi, gurumu benar, To. Warnanya sudah nggak kelihatan hitam. Kamu jangan cari masalah!” Kata Pak Tedjo lagi.
“Kalau sudah pudar memang kenapa? Nggak boleh sekolah, gitu Pak? Yang penting, sepatu  ini berawal dari warna hitam, artinya Anto nggak melakukan kesalahan. Lagian, Anto kurang suka sekolah itu, Pak. Sekolah itu, namanya saja unggulan. Tapi, kebanyakan gurunya, oke, nggak banyak, maksudnya, beberapa guru, nggak bisa mengajar dengan baik, Pak.”
“Jangan cari alasan kamu, To.”
“Bukan cari alasan, Pak. Ini kenyataan. Beberapa guru itu, hanya masuk kelas untuk memberikan tugas atau latihan. Mereka membiarkan muridnya belajar sendiri.”
“Itu mungkin karena gurunya pengen kamu banyak berlatih. Supaya lebih menguasai pelajaran!”
“Iya, tapi latihan-latihan tanpa pernah diberi teori, tanpa pernah diajari, bagaimana mau menguasai, Pak?”
“Ada toh To, gurumu yang begitu??” Bu Aya kali ini buka suara.
“Yah itu Bu, mata pelajaran yang Anto dapat nilai kurang bagus, guru yang mengajar begitu semua.”
“Itu kamu yang salah, To. Nggak belajar. Jangan menyalahkan orang lain! Dan jangan mengalihkan pembicaraan!” Pak Tedjo kembali gusar.
“Tapi, mungkin benar Pak, apa yang dibilang Anto. Dari dulu, nilai-nilainya selalu bagus. Padahal dia nggak pernah ikut les. Mungkin memang ada guru yang kurang bisa mengajar dengan baik…” Bu Aya membela Anto. Yang dibela mengguk-anggukkan kepala.
“Kalau saja para siswanya nggak mengambil bimbingan belajar di mana-mana, sekolah itu pasti tak akan menjadi sekolah unggulan, Pak.” Anto tampak yakin dengan kata-katanya.
“Teman-temanmu pada les semua toh?” Tanya Bu Aya lagi. “Hampir semuanya, Bu.” Jawab Anto. Bu Aya terlihat berpikir keras.
“Pak, selain sepatu baru, mulai besok, Anto harus ikut bimbingan belajar. Di tempat Irma les saja, Pak. Biar barengan…” Bu Aya berkata pada Pak Tedjo.
“Ibuuu…bukan itu poinnya. Maksud Anto, ada yang nggak beres sama sekolah itu!”
“Yang nggak beres itu otakmu!” dengan cepat Pak Tedjo memotong ucapan anaknya.
“Kamu tahu? Seumur hidup, baru kali ini Bapak ditegur sama kepala sekolah. Dari jaman Bapak sekolah dulu, nggak pernah Bapak melanggar peraturan, To. Pamanmu juga nggak. Anak-anak Bapak juga nggak boleh melanggar peraturan. Pokoknya, Bapak nggak mau tahu. Besok kamu harus pakai sepatu baru. Satu lagi, benar kata Ibumu, besok juga kamu harus ikut les. Bu, si Rusdi, udah ditelepon?” Lanjut Pak Tedjo lagi.
“Sudah. Nanti sepulang kerja, katanya dia langsung beliin sepatunya Anto.” Jawab Bu Aya. Rusdi adalah adik kandung Pak Tedjo. Pak Tedjolah yang membiayai pendidikan Rusdi hingga dia kuliah. Saat ini Rusdi masih tinggal di rumah itu bersama mereka.
“Anto nggak mau!”
“Terus kamu maunya apa? Mau dikeluarin dari sekolah? Sudah bagus kamu nggak diskorsing, To!”
“Coba saja kalau sampai diskorsing, nanti sekalian Anto laporin ke LSM anak!” Anto menatap Ibunya, yang kontan saja, terlihat berubah sumringah.
“LSM Anak? Berarti… bisa bertemu Bang Beto?” Bu Aya menggumam sambil tersenyum tipis. Bang Beto, tokoh dari LSM anak, memang salah satu tokoh idola Bu Aya. Dia kalem, tak banyak bicara, terlihat berwibawa, tapi, bagi Bu Aya, yang terpenting, dia berambut gondrong. Rambut panjang Bang Beto yang agak ikal, selalu dikuncir rapi. Sejak masih gadis, Bu Aya senang melihat pria berambut panjang yang tak terlihat seperti preman, dan yang tidak meluruskan rambut, seperti Bang Beto, idolanya. Entah bagaimana kemudian ia bisa jatuh cinta dan menikah dengan Pak Tedjo, yang sejak dulu berambut cepak. Tanyalah hal itu pada Tuhan, yang mahamembolak-balikkan hati manusia.
“Pak…” Katanya lagi kepada Pak Tedjo, masih sambil senyum-senyum.
“Apa? Mau nurutin si Anto?? Bapak tahu maksud Ibu. Nggak bisa! Bapak nggak mau masuk tv dan jadi sorotan media. Besok, Anto harus pakai sepatu baru. Titik. Kamu itu To, harusnya bersyukur, bisa sekolah sampai tinggi. Bapak sama Ibu hanya bisa sampai SMP. Pokoknya, setelah ini, bapak nggak mau lihat kamu buat masalah lagi!”
Anto tak bisa berkata apa-apa lagi.

Setelah Rusdi datang dengan sepatu baru berwarna hitam, Anto lagi-lagi dinasehati oleh pamannya itu.
“Turutin apa kata Bapakmu, To. Dia bermaksud baik. Dia hanya ingin melihat anak-anaknya sekolah tinggi dan tak terlibat masalah. Paman tahu, kamu hanya ingin memertahankan apa yang menurut kamu benar. Itu bagus. Tapi kamu juga mesti lihat apa yang kamu perjuangkan, sepadankah dengan yang dikorbankan? Dalam masalah ini, kamu memerjuangkan sepatu bulukmu, untuk mengorbankan perasaan dan mungkin harapan bapakmu. Nggak, kamu nggak salah. Hanya, ada baiknya untuk saat ini kamu mengalah. Bagaimanapun juga, sikap dan pendirianmu itu masih diperlukan. Pelihara baik-baik. Saat kamu kuliah, atau setelah kuliah nanti, ada banyak hal yang bisa, dan paman yakin kamu ingin perjuangkan. Mengenai guru yang tak kau sukai, itu biasa, To. Pindah sekolah tak akan menjadi solusinya, karena pasti kau akan kembali menemukan guru seperti itu. Baik-baiklah kau di sekolah. Belajar yang rajin, To. Ini sepatunya….” Rusdi mengakhiri pembicaraannya.
*****

Pak Tedjo memastikan anaknya berangkat lebih dulu, sebelum dia dan istrinya berangkat ke pasar. Terutama, dia memastikan anak lelakinya, Anto, benar-benar memakai sepatu hitamnya yang baru. Tadinya dia ingin membuang sepatu buluk itu, khawatir kalau-kalau Anto kembali memakainya. Bu Aya melarang. Dia tahu betul sepatu itu adalah sepatu kesayangan anaknya. Bu Aya berani menjamin Anto tak akan mengenakan sepatu itu lagi ke sekolah.

Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, Anto terus memandangi sepatu barunya. Masih ada sedikit perasaan kesal dan tak rela, tapi dia memikirkan ucapan pamannya. Ucapan yang dia sadari kebenarannya.

Hari itu hari Kamis. Seperti biasa, Bu Retno dan Pak Puji sudah siap sedia di meja piketnya. Dari kejauhan, Bu Retno sudah mengenali Anto. Diperhatikannya Anto dari atas sampai bawah. Sampai pada bagian sepatunya, Bu Retno melihat agak lama. Dia lalu tersenyum. Anto yang dari jauh sudah bisa melihat senyuman guru piketnya itu, menganggap senyuman itu adalah senyum kemenangan sang guru. Tapi Anto tak ingin terlihat kalah. Dengan langkah penuh percaya diri, Anto terus berjalan hingga mendekati meja piket. Dia sedikit menganggukkan kepala memberi hormat saat dirinya tepat berada di depan kedua guru itu.

Anto sudah tak mau ambil pusing. Dia tak ingin berurusan dan bermasalah lagi dengan siapapun di sekolah itu. Tidak dengan murid, apalagi guru. Anto melangkah mantap menuju ruang kelasnya. Tapi, Anto merasa, seperti ada yang terlupa. Entah apa. Sesuatu yang harus dia lakukan. Sesuatu yang sejak semalam telah berulang kali diingatkan oleh ibu dan ayahnya. Sampai di tempat duduknya, dia melihat teman sebangkunya sedang sibuk merapikan buku untuk dimasukkan ke dalam laci. Saat melihat sebuah buku terbitan sebuah tempat les, akhirnya dia tahu apa yang terlupa olehnya.
Hari itu juga dia akan mulai mengikuti bimbingan belajar.

*****

Sebuah cerpen yang disadur dari: Kompas.com

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 11 Oktober 2010, in sepatu tua. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: