Terlepas dari semua itu……


Baru saja saya baca di Kompas.com mengenai kawalan terhadap pejabat kenegaraan di Indonesia yang dinilai masyarakat it’s too much katanya. Akan tetapi, terlepas dari pandangan dan pemikiran masing-masing individu apabila kita lihat dari satu sudut pandang saja, maka yang terjadi adalah bukan saling mengerti dan memahami akan tetapi saling mempertahankan otoritas dan egoisme yang tidak akan pernah ketemu ujungnya.

Selain itu, ada sebuah artikel menarik yang merupakan pengalaman seorang WNI yang pernah menetap di Inggris yang memang pengawalan terhadap pejabat kenegaraan memang tidak seketat di Indonesia. Kembali, tergantung bagaimana kita memandang dan menyimpulkan. Apakah keadaan secara geografis mempengaruhi, ataupun kondisi politik dan hankam yang juga mempengaruhi hal ini.

Capek, ngetiknya mending langsung baca sendiri aja ya…. berikut laporannya.

Pak Presiden, Naik Helikopter Aja…
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Sabtu, 17 Juli 2010 | 14:24 WIB

KOMPAS/LASTI KURNIA

Helikopter Kepresidenan Super Puma saat melakukan latihan evakuasi presiden di halaman belakang Gedung MPR/DPR, Senayan, 30 Juli 2002.

JAKARTA, KOMPAS.com — Beragam tanggapan muncul atas keluhan terhadap sikap arogan petugas Patroli dan Pengawalan (Patwal) dan pola pengamanan pejabat negara. Berawal dari surat pembaca Hendra NS yang dimuat Harian Kompas, Jumat kemarin, rupanya pengalaman Hendra menjadi pengalaman jamak warga lainnya.

Beberapa warga Jakarta yang dijumpai Kompas.com, Sabtu (17/7/2010), juga mengeluhkan hal yang sama. Demikian juga pada komentar yang dituangkan di tulisan mengenai pengawalan pejabat sebelumnya.

Di antara beragam pendapat dan masukan itu, salah satunya mengusulkan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan helikopter saja. Tentunya, jika memang ia harus dievakuasi atau berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya untuk kepentingan tugas negara yang sangat mendesak.

Sebab, pola pengawalan dan sterilisasi jalan bagi para pejabat dikeluhkan warga cukup merepotkan. Apalagi jika terjadi di jam-jam sibuk. Anjuran ini tak hanya untuk Presiden, tetapi juga para pejabat negara lainnya.

“Bayangkan, kalau pagi hari atau siang, di mana semua orang juga sedang berpacu dengan waktu. Tiba-tiba diberhentikan karena mendahulukan perjalanan VVIP. Sebagai masyarakat yang juga memberikan kontribusi untuk pembangunan fasilitas publik, saya suka kesal. Kalau memang sangat penting, supaya tidak mengganggu, Presiden naik heli (helikopter) aja deh. Biar semua orang enggak dibikin repot. Menterinya ya enggak usah lebay pake heli, tapi pake perhitungan waktu. Jangan mentang-mentang jalannya dikasih lancar, berangkat mepet-mepet,” kata Puspita Lani, salah seorang warga Jakarta yang dijumpai di kawasan Senayan, siang ini.

Puspita mengaku sehari-harinya mengendarai kendaraan roda empat sendiri dari rumahnya di kawasan Cilandak menuju kantornya di kawasan Sudirman. Beberapa kali, saat berkendara untuk urusan kerjaan, ia sering terhambat karena sterilisasi jalan bagi VVIP.

Komentar pembaca Kompas.com juga hampir sama. Salah satunya yang dituliskan oleh Paul Chandra. “Pertama saya baca di Surat Pembaca Kompas, saya marah dengan cara-cara patwal. Rakyat bayar pajak di antaranya untuk bayar gaji para Patwal. Apa mereka merasa penting, paling hebat ? Kenapa arogan sekali. Wibawa Anda akan jatuh, kami tidak menaruh hormat dengan Anda. Anda akan dibenci oleh Rakyat. Saya sendiri pernah mengalami penutupan selama 20 menit di sekitar jalan Merdeka. Saat itu saya harus berjibaku dgn kemacetan pagi untuk masuk kantor supaya tidak kena potongan keterlambatan. Bapak Presiden yg terhormat, apakah bisa dimungkinkan transportasi kepresidenan menggunakan helikopter. Bapak akan lebih cepat, aman dan tidak menggganggu akses public,” demikian tulis Paul.

Anggota Komisi Pemerintahan (Komisi II DPR), Ganjar Pranowo, juga mengatakan, Presiden perlu mempertimbangkan untuk menggunakan helikopter yang menjadi salah satu fasilitas kepresidenan.

“Kalau memang sangat mendesak, pakai heli juga enggak apa-apa. Wong kondisi Jakarta tidak bisa diatasi kemacetannya kok. Tetapi, pada hari kerja sebaiknya dikurangi untuk kembali ke kediaman pribadi. Lebih baik tinggal di Istana,” kata Ganjar.

Nah yang atunya lagi ini yang buat bandingan (inget jangan memandang dan menyimpulkan dari satu sudut pandang saja…)

Sang Ratu Pun Naik KA Tanpa Kawalan Ketat
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Sabtu, 17 Juli 2010 | 09:37 WIB

Courtesy : Dailymail

Courtesy : Dailymail

Courtesy : Dailymail

Courtesy : Dailymail
Ratu Elizabeth, berbincang dengan seorang anak, saat di Stasiun King’s Cross sebelum menaiki kereta api menuju Sandringham, Desember 2009.
Ratu Elizabeth menaiki kereta api tanpa pengawalan ketat.
Ratu Elizabeth saat didalam kereta api, dengan seorang pengawal disisinya.
Ratu Elizabeth saat tiba di Stasiun tujuan, Stasiun King’s Lynn.

JAKARTA, KOMPAS.com — “Di Inggris, Ratu Elizabeth saja memilih naik kereta api, hanya dengan pengawalan satu dua orang pengawal. Dia juga naik kereta dengan kelas yang sama dengan rakyat biasa,” kisah seorang warga Jakarta yang pernah menetap di Inggris, Ibnu Najib, kepada Kompas.com, Sabtu (17/7/2010) pagi.

Diceritakan Najib, selama menetap di Inggris, baik di London maupun di kota ia bertempat tinggal, Edinburgh, belum pernah menjumpai iring-iringan mobil yang mengawal seorang pejabat.

“Kecuali kalau ada tamu dari negara lain, baru ada pengawalan-pengawalan. Itu pun tidak terlalu mengganggu yang lain,” katanya.

Kompas.com lantas menelusuri informasi yang diungkapkan Najib. Benar saja, dikutip dari http://www.dailymail.co.uk tanggal 17 Desember 2009, diberitakan bahwa Sang Ratu memilih menggunakan moda transportasi kereta api menuju Sandringham untuk merayakan Natal bersama keluarganya.

Berangkat dari Stasiun King’s Cross, Ratu hanya dikawal beberapa pengawalnya, itu pun tak terlalu ketat. Para penumpang sempat bertanya-tanya, siapa yang akan turut bersama dalam kereta mereka, saat melihat sejumlah petugas polisi di area stasiun.

“Kemudian muncul seorang wanita dengan penutup kepala, tas tangan di salah satu lengan, dan sebuah karangan bunga di sisi lain,” demikian Daily Mail.

Para penumpang seakan tak percaya bahwa Sang Ratu kemudian menaiki gerbong yang sama dengan mereka. Ratu kemudian memilih duduk di dekat jendela dengan hanya didampingi seorang pengawal yang duduk di sebelahnya dan tampak santai menikmati pemandangan dalam perjalanan 100 mil ke King’s Lynn, stasiun terdekat menuju Sandringham.

Saat tiba di stasiun tujuan, Ratu pun terlihat berjalan santai dengan beberapa pengawal di sisinya. Itu pun tak terlihat sebagai pengawalan yang sangat ketat. Seorang juru bicara Istana Buckingham mengatakan, Ratu dan anggota keluarga kerajaan lainnya memang sering menggunakan layanan kereta api.

Hal itu dilakukan untuk efektivitas biaya dan turut melihat isu serta situasi yang berkembang di masyarakat. Najib juga mengungkapkan, pengawalan terhadap para pejabat yang ditemuinya di Inggris tak seperti yang ia dan warga Indonesia jumpai.

“Entahlah, mungkin saya yang tidak menemukan atau bagaimana. Tapi, selama di sana saya tidak pernah ketemu dengan voorijder. Kalau di sini, setiap hari kita bisa dengar sirene dan rombongan mobil pejabat yang melaju kencang,” katanya.

Bahkan, para anggota Dewan di sana pun berlaku seperti halnya rakyat biasa. “Di sini, saya lihat sepertinya ada beberapa mobil anggota Dewan yang juga dikawal. Di sana, apalagi di Edinburgh, anggota Dewan, pejabat, makan di tempat biasa. Dan tidak ada pengawalan,” ujar Najib.


Mungkin kalau satu masih kurang, ya… ditambahin lagi dah, kali ini dari Filipina Mudah-mudahan membuka mata dan hati kita

(tak bosan saya ingatkan, jangan ambil kesimpulan dari satu sudut pandang saja….)

Pengawalan Pejabat
Lain SBY, Lain Pula Noynoy
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Sabtu, 17 Juli 2010 | 09:05 WIB

DHONI SETIAWAN

Petugas pengawalan kepolisian (Voorijder) mengiringi kendaraan pejabat negara membelah kemacetan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (7/7/2010). KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Filipina Benigno Aquino (Noynoy), seperti dilansir AFP 2 Juli 2010 lalu, memilih untuk turut terjebak kemacetan bersama pengguna jalan lainnya saat bepergian dengan kendaraannya.

Itu terjadi di dua hari pertama pemerintahannya. Ia juga melarang penggunaan sirene dan memerintahkan sopirnya untuk berhenti saat lampu merah. Noynoy juga menolak menggunakan jalur khusus yang bisa memperlancar jalannya.

Namun akibatnya, Noynoy terlambat 40 menit untuk menghadiri parade militer. Apa yang dilakukan Noynoy itu untuk memenuhi janjinya saat pemilu Filipina yang digelar pada Mei lalu. Saat pidato pelantikannya akhir Juni lalu, putra Corazon Aquino ini mengatakan, “Tak akan ada sirene, tidak ada counter flow,” katanya. Meskipun, pilihan sikap Nonov ini membuat pusing para pengawalnya.

Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru dikritik secara terbuka oleh seorang warga Cibubur, Hendra NS, yang menyampaikan keluhannya melalui Surat Pembaca Kompas, kemarin.

Hendra acap kali berpapasan dengan rombongan Presiden SBY dalam perjalanannya ke kediaman pribadi di Cikeas, Jawa Barat. Pekan lalu, Hendra mengalami tindakan tak mengenakkan karena dihardik dan diancam “dibedil” oleh seorang petugas pengawal saat ia kebingungan menepi karena ada lebih dari satu instruksi dari petugas.

Hendra pun meminta Presiden lebih sering menetap saja di Istana Negara yang menjadi kediaman resmi kepala negara. Alasannya, kelancaran berkendara di Cibubur hanya bisa dirasakan oleh Presiden, tidak untuk rakyatnya.

“Memang kalau kita lihat sekarang, rombongan Presiden kalau lewat semakin panjang. Dan sepertinya pengamanan semakin ketat. Ini mengakibatkan penyetopan kendaraan menjelang rombongan lewat menjadi lebih lama. Hal ini menunjukkan semakin senjangnya pelayanan untuk masyarakat dan pejabat,” kata pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago, kepada Kompas.com, Sabtu (17/7/2010) pagi.

Kenyataan seperti ini, menurut Andrinof, sangat merepotkan warga. Apalagi terjadi di Jakarta ataupun di kota besar lainnya yang mengalami kemacetan parah. Meski tak harus meniru langkah ekstrem yang dipilih Noynoy, Presiden SBY diharapkan bisa mengevaluasi iring-iringan rombongan pengawalnya yang semakin panjang.

“Bagaimanapun, keselamatan Kepala Negara harus dijamin. Tetapi, bisa diminimalisasi dengan mengurangi rombongan pengawal. Tidak perlu terlalu panjang seperti sekarang. Kan bisa juga untuk penghematan,” kata Andrinof.

Mari kita buka mata dan hati kembali

(Jangan melihat dari satu sudut pandang saja, Oke….!)

Pengawalan Pejabat
Wahai Para Pejabat, Dengarlah Ini…
Sabtu, 17 Juli 2010 | 08:04 WIB

DHONI SETIAWAN

Petugas pengawalan kepolisian (Voorijder) mengiringi kendaraan pejabat negara membelah kemacetan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (7/7/2010). KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

JAKARTA, KOMPAS.com — Iring-iringan pengawal para pejabat di Indonesia memang kerap mengundang keluhan. Tak tahan lagi memafhumi, Hendra NS, seorang warga Cibubur yang selalu berhadapan dengan petugas Patroli Pengawal (Patwal) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengungkapkan kekesalannya melalui Surat Pembaca Kompas edisi 16 Juli 2010.

Keluh kesah Hendra seakan mewakili unek-unek ribuan warga lainnya yang kerap mendapatkan kesal yang sama saat berkendara di jalanan Ibu Kota. Setidaknya, Kompas.com merangkum beberapa keluhan lainnya. Semoga para pejabat mau mendengarnya….

Inilah surat Hendra yang dimuat di Harian Kompas dan mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan:

Redaksi Yth.

Trauma oleh Patwal Presiden

Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya—juga mayoritas pengguna jalan itu—memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal.

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.

Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setir ke kiri. Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan.

Bingung dan panik, saya pun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan. Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara.

Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “Dari mana sumber suara speaker itu?”, atau “Mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “Tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris.

Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?” Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS Cibubur ***

Seorang warga Jakarta, Rinda, juga pernah mengalami hal yang sama. Bekerja di kawasan Thamrin membuatnya saat berkendara kerap bersinggungan dengan iringan mobil pejabat yang berkantor di kawasan Medan Merdeka. Surat pembaca yang dikirimkan Hendra pun sempat dibacanya.

“Iya, itu surat pembaca udah bener banget. Saya pikir, orang Jakarta, kalo ditanya soal mobil-mobil pejabat yang lewat kesannya sama deh: kesal dan sok banget. Enggak merakyat,” kata Rinda, Jumat (16/7/2010) malam.

Ia lantas bercerita, suatu saat pernah mengalami kejadian yang membuatnya kesal setengah mati. Ketika melintas di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan, petugas pengawal mobil pejabat dengan seenaknya meminta mobil-mobil menepi. Padahal, saat itu dalam keadaan macet.

“Saya paham sih, dia cuma pengawal yang mungkin takut sama bosnya. Tapi kelakuannya itu suka enggak mikir. Waktu itu sore dalam keadaan hujan. Pakubuwono itu kan satu arah. Pas macet banget. Mobil pengawalnya, kalo enggak salah Nissan Terrano. Bunyiin sirene yang ampun deh, heboh banget. Terus, jendela bagian depan dibuka, si petugas mengacung-acungkan pentungannya nyuruh mobil minggir karena mobil dia dan pejabat juga terjebak kemacetan. Lah, saya yang ada di sebelah mobilnya, langsung bilang, ‘Mau minggir gimana, Pak. Lihat dong, macet gini. Enak aja main perintah’. Saya bilang gitu, dia langsung turun, terus minggirminggirin mobil. Mana bisa, saat itu padet banget. Akhirnya ikut kena macet juga enggak bisa apa-apa,” cerita Rinda panjang lebar.

Ia memaklumi, jika para pejabat memang mendapatkan perlakuan yang istimewa. Namun, ia mengharapkan, ada sikap arif dari sang pejabat untuk memahami kondisi saat berkendara di jalan raya.

“Jangan karena kita rakyat biasa, kemudian mereka seenaknya aja memperlakukan kita. Sekali-sekali merasakan jadi rakyat biasa kan juga enggak apa-apa. Merasakan bagaimana nikmatnya macet, ha-ha-ha,” ujarnya.

Ya, semoga mereka mendengarnya! Anda juga, punyakah pengalaman yang sama?

Selanjutnya, terserah anda……


Sumber diolah dari: Kompas.com

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 17 Juli 2010, in info renyah, kenegaraan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: