ANALISIS OBSERVASI LAPANGAN : PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) DALAM MENJALANKAN PERAN DAN FUNGSI SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN NONFORMAL


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.[1] S
berkualitas merupakan modal dasar dan sekaligus menjadi kunci keberhasilan
pembangunan bangsa. Bangsa yang memiliki SDM yang berkualitas, diawali
dengan pembangunan pendidikan yang serius dan berkesinambungan. Untuk
mewujudkan SDM bermutu tinggi yang dilandasi dengan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka
pemerintah Indonesia mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun,
dengan maksud agar semua warga negara minimal berpendidikan Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Namun kenyataanya, setelah dasawarsa
terakhir, progam tersebut mempunyai banyak hambatan. Banyak masyarakat
Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan
dasar sembilan tahun bahkan ironisnya masih banyak kita jumpai adanya
masyarakat buta aksara.

Pendidikan memiliki peranan strategis menyiapkan generasi berkualitas untuk kepentingan masa depan.[2] Pendidikan sebagai salah satu kunci penting dalam proses perkembangan untuk memajukan suatu bangsa dapat dikatakan demikian manakala tingkat pendidikan suatu negara dikatakan tinggi, setidaknya peradaban dan pola pikir masyarakat di negara tersebut haruslah tinggi pula. Dirasakan atau tidak, pendidikan merupakan faktor penting dalam memartabatkan negara maupun meningkatkan kemajuan secara majemuk sebuah negara. Tanpa pendidikan, kemajuan sebuah bangsa akan semakin pudar tergerus oleh maraknya perkembangan zaman yang menuntut pemahaman keilmuan yang satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan taraf pendidikan tersebut.

Rendahnya tingkat dan kesadaran akan pentingnya pendidikan di Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pemerintah guna memajukan peradaban dan tingkat kehidupan yang lebih baik dan mandiri. Rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia mendorong timbulnya berbagai permasalahan sosial yang kian hari semakin meresahkan bangsa Indonesia. Salah satu faktor yang dapat menjadi tolak ukur rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia adalah tingginya angka putus sekolah anak usia produktif (usia sekolah). Selain tingginya angka putus sekolah, rendahnya minat anak bahkan orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dirasakan masih sangat kurang. Adapun satu hal pokok di atas dapat menjadi satu alasan betapa rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia yang memang bila ditelaah lebih mendalam bukan hanya pemerintah saja yang perlu berpikir jauh, namun masyarakat dan tentunya para orang tua harus memahami benar betapa pentingnya pendidikan untuk bekal hidup maupun sebagai anggota dalam sistem tatanan masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Namun, sebuah pernyataan kontradiktif yang berlawanan dengan hal sebagaimana dipaparkan di atas adalah bahwa tingginya tingkat pendidikan suatu bangsa tidak menjamin tingkat kedewasaan bangsa dalam menghadapi maupun menyelesaikan suatu perkara dan ketiadaan dari kejahatan dan permasalahan sosial yang dikenal dengan kejahatan intelektual.

Keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari sebuah sistem pada proses  pendidikan yang berperan juga sebagai penyelenggara pendidikan di masyarakat sendiripun saat ini masih kecil (walaupun tidak seluruh wilayah di Indonesia rendah) dan belum merata dalam hal keterlibatan secara langsung menangani secara serius permasalahan tingginya angka putus sekolah dan meningkatkan pola pikir dan paradigma masyarakat untuk menyadarkan dan memahami bersama betapa pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan bangsa bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Adapun keterlibatan secara langsung unsur masyarakat dalam menyelenggarakan proses pendidikan yang berbasis masyarakat dapat dilakukan dengan mendirikan dan menyelenggarakan satuan pendidikan nonformal yang dikelola dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat dan bekerjasama dengan pemerintah melalui satuan kerja pendidikan nonformal dan informal.

Implementasi pendidikan nonformal di Indonesia sangat beragam. Mulai dari usia tingkat prasekolah, pada umur produktif masa sekolah, sampai pada konsep pendidikan sepanjang hayat (lifelong education). Pendidikan merupakan kunci penting titik tolak dan tolak ukur peradaban suatu negara. Oleh karenanya, langsung maupun tidak langsung, pendidikan bukan satu hal yang harus dinomorduakan, akan tetapi faktor penting yang tidak dapat dianggap remeh sebagaimana perhatian pemerintah Indonesia terhadap pertumbuhan dan perkembangan pendidikan dewasa ini. Keberadaan pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuan dan pendidikan di Indonesia, khususnya pada hal yang bersifat praktis dan mudah untuk diaplikasikan.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan Pendidikan Nonformal di Indonesia. Perkembangan dan pertumbuhan PKBM di lapisan masyarakat dewasa ini telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari maraknya ijin yang diajukan kepada Dinas Pendidikan melalui Bagian Pelaksana Pendidikan Luar Sekolah untuk mendirikan dan mengembangkan satuan pendidikan nonformal sejenis PKBM dengan karakteristik yang berbeda-beda pada tiap PKBM yang akan didirikan tersebut. Namun, kesamaan yang pada umumnya muncul adalah kekhawatiran pada pendiri dan penyelenggara PKBM terhadap tingginya angka putus sekolah yang salah satu imbas dari pelaksanaan Ujian Nasional. Hal lain yang menjadi pemicu berdiri dan berkembangnya PKBM yaitu rendahnya minat masyarakat awam untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga dengan keberadaan PKBM dapat menjembatani masyarakat awam yang hendak melanjutkan pendidikan (kesetaraan) ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Akan tetapi kenyataan berkata lain, perhatian pemerintah terhadap pendidikan nonformal dirasakan masih minim sekali. Selain itu, image PKBM sebagai bagian dari pelaksana pendidikan nonformal di Indonesia masih dipandang sebelah mata. Hal ini dapat dilihat dari para peserta belajarnya yang memang pada umumnya memiliki permasalahan dalam menempuh jalur pendidikan formal sehingga alternatif berikutnya, adalah dengan menempuh jalur pendidikan nonformal melalui PKBM untuk meneruskan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

B. PERMASALAHAN

    Adapun pokok permasalahan yang menjadi titik tolak pelaksanaan observasi mengenai pusat kegiatan belajar mandiri, yaitu bagaimana pengembangan PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal?, serta bagaimana peranan dan fungsi PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal?

    BAB    II

    KAJIAN TEORITIS

    A. PENGERTIAN

      Menurut Hamojoyo dalam Mustofa Kamil, pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontinyu di luar sistem persekolahan melalui hubungan sosial untuk membimbing individu, kelompok, dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial (yang efektif) guna meningkatkan taraf hidup di bidang materiil, sosial, dan mental dalam rangka usaha mewujudkan kesejahteraan sosial.[3] Dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan untuk menunjang dan mendukung serta menopang proses pendidikan secara meluas dan berkesinambungan/kontinyu dalam rangka mewujudkan taraf pendidikan yang lebih tinggi dan maju di Indonesia. tentunya dengan tidak mengesampingkan aspek-aspek pokok dari unsur dan karakteristik pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di tanah air. Ungkapan senada dikatakan oleh Combs, Prosser, dan Ahmed menyatakan pernyataannya terkait pendidikan nonformal yaitu; Non-formal education is any organised educational activity outside the established formal system – whether operating separately or as an important feature of some broader activity – that is intended to serve identifiable learning clienteles and learning objectives.[4] Pendidikan nonformal merupakan sebuah aktifitas sebuah organisasi di bidang pendidikan yang didirikan dan diselenggarakan di luar sistem pendidikan formal, di mana aspek pengembangan dari pendidikan nonformal ini untuk menyediakan dan mengembangkan kemampuan peserta belajar dengan mengembangkan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar (student centered) sehingga diharapkan nantinya apa yang akan, sedang, dan telah dipelajari merupakan apa yang menjadi harapan dari peserta belajar (bukan atas dasar kemauan pengajar/tentor maupun tuntutan kurikulum semata).

      Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.[5] Lembaga pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya didukung oleh banyak komponen sebagaimana prinsip pendidikan sebagai suatu sistem yang mana tiap komponen tidak dapat berjalan dan bekerja sendiri. Implikasinya, tiap-tiap komponen harus saling bersinergi satu dengan lainnya untuk mencapai satu tujuan yang terintegrasi antar komponen dalam hal satuan masing-masing tingkatan dalam hal pemegang kebijakan (dinas) dan pelaksana kegiatan pendidikan nonformal yang ada.

      Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.[6] Pada kenyataan yang ada di lapangan, lembaga pendidikan nonformal muncul dan berkembang oleh unsur kebutuhan akan pentingnya pendidikan dan pengetahuan yang kian pesat dan kompleks. Pendidikan nonformal muncul oleh karena pada jalur pendidikan formal beberapa komponen/jenis program yang dibutuhkan di lapangan masih belum terpenuhi sehingga sebagai unsur komplementer, pendidikan nonformal mutlak diperlukan.

      Lebih lanjut Mustofa Kamil memaparkan mengenai penyelenggaraan sebua lembaga pendidikan nonformal, bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan melalui tahapan-tahapan pengembangan bahan belajar, pengorganisasian kegiatan belajar, pelaksanaan belajar mengajar dan penilaian.[7] Lebih lanjut Malcolm S. Knowles menyatakan bahwa langkah-langkah pengelolaan kegiatan belajar  meliputi; (a) menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar; (b) menetapkan struktur organisasi pengelola program belajar; (c) mengidentifikasi kebutuhan belajar; (d) merumuskan arah dan tujuan belajar; (e) menyusun pengembangan bahan belajar; (f) melaksanakan kegiatan belajar; dan (g) melakukan penilaian.[8] Adapun penting atau tidaknya komponen sebuah pendidikan nonformal sebagaimana dipaparkan secara ringkas di depan, unsur-unsur yang dirasakan cukup kompleks tersebut tidak semuanya dapat dipenuhi oleh lembaga pendidikan nonformal yang ada di Indonesia. Akan tetapi, sebagai idealisasi pengelolaan sebuah lembaga pendidikan nonformal yang juga memiliki peranan penting mencerdaskan kehidupan bangsa, karakteristik yang diajukan tersebut dapat menjadi suatu tolak ukur dan standarisasi sebuah lembaga pendidikan nonformal di Indonesia.

      Diantara salah satu varian pendidikan nonformal di Indonesia, PKBM merupakan satu yang saat ini (khususnya di Jakarta) sedang berkembang pesat dalam menjalankan peranan dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan nonformal yang ada di Indonesia. PKBM adalah suatu wadah berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk menggerakkan pembangunan di bidang sosial, ekonomi dan budaya.[9] PKBM adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pendidikan. PKBM ini masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Nasional. PKBM ini bisa berupa tingkat dusun, desa ataupun kecamatan.[10] Masyarakat merupakan kunci dominan dalam proses pengembangan dan pelaksanaan serta operasional PKBM sebagaimana dipaparkan di depan.

      Rifyanto Bakrie memaparkan tujuan dibentuknya PKBM. Adapun hal-hal yang termasuk tujuan dibentuknya suatu PKBM, antara lain; memperluas kesempatan warga masyarakat, khususnya yang tidak mampu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri dan bekerja mencari nafkah.[11] Dalam upaya menyamakan persepsi dan menyelaraskan penyelenggaraan PKBM, dengan ide dasar PKBM sebagai pusat kegiatan pendidikan luar sekolah, PKBM yang tumbuh dan berkembang didasarkan atas kepentingan dan kemampuan masyarakat tersebut. Oleh sebab itu, maka perlu dikembangkan suatu alat ukur untuk menguji standar kelayakan dari penyelenggaraan sebuah PKBM yang ada di Indonesia sehingga keberadaan PKBM sebagai lembaga komplementer pendidikan formal menjadi peran penting dalam hal memajukan kesejahteraan bangsa melalui jalur pendidikan.

      B. PKBM SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN NONFORMAL DI INDONESIA

        Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai satu bagian yang tak terpisahkan dengan Lembaga Pendidikan Nonformal, di Indonesia PKBM secara hierarkis struktural berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional. Adapun secara operasionalnya, di tiap kotamadya/kabupaten maupun propinsi, terdapat perwakilan operasional birokrasi yang menangani permasalahan pendidikan nonformal di masyarakat yaitu Suku Dinas Pendidikan Luar Sekolah (Sudin PLS), mengenai nama (dinas pengelola lembaga nonfornal) terdapat perbedaan, namun prinsip, metode, dan teknis operasional lembaga tersebut adalah sama yaitu untuk mengembangkan dan mengelola suatu lembaga nonformal yang ada di tiap wilayah administratif masing-masing yang berbasis masyarakat. Pada perkembangannya, di Jakarta sendiri, PKBM banyak didirikan dan dikembangkan di tiap-tiap kecamatan, bahkan dalam satu kecamatan pada umumnya terdapat minimal 5 penyelenggara PKBM yang berasal dari unsur masyarakat (swasta).

        Dapat dibandingkan secara nyata perhatian (baik langsung maupun tidak langsung) dari pemerintah (pusat maupun daerah) antara pendidikan formal dengan pendidikan nonformal masih jauh dari angan-angan. Sekalipun pendidikan nonformal dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai unsur dominan khususnya PKBM, akan tetapi proses yang berkembang masyarakat (khususnya pengelola) cenderung masih mengharapkan perhatian yang lebih dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan utama pada proses pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dari tingkat pusat sampai daerah. Sebagai kalkulasi dalam hal persentase pendanaan yang sangat jauh rentang antara pendidikan formal dan nonformal, sekalipun imbasnya berdampak pada kedua jenis lembaga pendidikan tersebut yang berakibat baik dan buruk tetap ada. Hal ini dianggap karena masyarakat pada prosesnya memiliki peran dominan, selain dalam mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan nonformal, juga dalam pengelolaan dan pengadaan dana operasional pendidikan nonformal. Di luar daripada itu, secara global dapat dikatakan bahwa proses pendidikan di Indonesia sudah cukup baik bila dilihat dari sudut pandang pelaku dan penyelenggara pendidikan karena unsur masyarakat sebagai bagian di luar sistem pendidikan dalam hal pemegang kebijakan (instansi pendidikan) masih berkenan untuk menyelenggarakan dan mengembangkan proses pendidikan yang ada di Indonesia.

        PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal di Indonesia telah memberikan sumbangan luar biasa terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan praktis. PKBM didirikan dan dikembangkan untuk menunjang proses pendidikan yang lebih baik sebagaimana peranannya sebagai lembaga komplementer dari keberadaan lembaga pendidikan formal di bawah naungan instansi pendidikan.

        BAB    III

        PKBM DALAM MENJALANKAN PERAN DAN FUNGSI

        SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN NONFORMAL

        A. TINJAUAN LAPANGAN

          Adapun satu sampel PKBM yang menjadi objek observasi yang penulis lakukan adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat As-Syifa yang terletak di Jl. Raya Bogor Km. 20, No. 38, Rt. 017/011, Kelurahan Kramatjati, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur. Waktu observasi disesuaikan dengan schedule pada PKBM dimaksud (sebenarnya kegiatan di PKBM ini dimulai pada pagi hari yaitu untuk kegiatan PAUD sampai pkl 10.00 dan dilanjutkan kembali dengan kegiatan paket Belajar A, B, dan, C secara bergantian).

          Secara garis besar bentuk pelayanan masyarakat yang dilakukan di PKBM As-Syifa memiliki beberapa kegiatan, antara lain; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kelompok Belajar Paket A s.d C, Keaksaraan Fungsional. Selain kegiatan dimaksud, PKBM As-Syifa uga membuka pelatihan sejenis kursus, antara lain; hantaran, komputer, bahasa inggris (usia SD), tata rias pengantin, dan tata kecantikan rambut.

          Kegiatan PAUD dilaksanakan setiap Senin s.d. Kamis dengan operasional kegiatan dimulai pada pkl. 08.00 s.d pkl. 10.00. Secara umum, peserta di PAUD adalah anak-anak yang berusia rentang 3 s.d 5 tahun yang berada di wilayah RW 011, Kramatjati, Jakarta Timur. Adapun para pengajar pada umumnya adalah ibu-ibu yang berdomisili di sekitar PKBM As-Syifa yang memiliki pengetahuan (melalui diklat yang diadakan oleh Suku Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Kodya Jakarta Timur) tentang program dan pengembangan PAUD mulai dari segi kurikulum maupun operasionalnya. Namun, pada kenyatannya memang tidak demikian, proses kegiatan di PAUD pada PKBM As-Syifa dapat digambarkan berjalan apa adanya. Kegiatan setiap harinya lebih menekankan pada aspek bermain pada peserta PAUD, adapun  pengelolaan berada secara struktural di bawah koordinator PAUD yang dipilih oleh Penanggungjawab PKBM.

          Kelompok Belajar Paket A setara SD, Kelompok Belajar Paket B setara SMP, dan Kelompok Belajar Paket C setara SMA merupakan salah satu pendidikan alternatif bagi para peserta didik yang pada umumnya mengalami kegagalan di lembaga pendidikan formal. Khusus peserta Kejar Paket C, para pesertanya berasal dari beragam latar belakang. Mayoritas peserta berasal dari mereka yang mengalami kegagalan dalam Ujian Nasional dan mengambil jaluar pendidikan nonformal melalui PKBM. Selain itu, peserta Kejar Paket C juga tidak sedikit yang telah memiliki pekerjaan tetap seperti Satuan Polisis Pamong Praja di kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur. Secara umum, motif pada peserta belajar di Kejar Paket C PKBM As-Syifa adalah untuk mengikuti Ujian Kesetaraan untuk mendapatkan Ijazah sehingga bagi peserta yang mengalami gagal ujian dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sedangkan bagi peserta belajar yang telah memiliki pekerjaan tetap adalah untuk akselerasi kenaikan pendapatan (gaji) melalui kenaikan dan penyesuaian pangkat dan golongan.

          Kegiatan kursus yang dilaksanakan di PKBM As-Syifa dirasakan masih belum optimal. Dari sekian program kursus yang dibuka, hanya satu jenis kursus yang masih berjalan sampai saat ini dan mungkin merupakan program kursus unggulan di PKBM As-Syifa bila dibandingkan dengan program kursus lainnya. Program kursus Bahasa Inggris yang dilaksanakan diperuntukan bagi siswa Sekolah Dasar dengan rentang usia 7 s.d 10 tahun (pada umumnya merupakan siswa kelas 1 s.d 4 di satuan pendidikan formal). Peserta program kursus Bahasa Inggris mengikuti kegiatan ini pada hari Selasa dan Kamis pada pkl. 15.00 s.d pkl. 16.30. Pada prosesnya, peminat untuk kursus Bahasa Inggris mengalami peningkatan sehingga menuntut pengelola untuk membuka kelas baru. Adapun kelas baru yang dibuka dilaksanakan setiap Rabu dan Kamis pada pkl. 13.00 s.d. 14.30.

          B. KOMPARASI KERANGKA TEORITIS DAN PRAKTIS PKBM DALAM MENJALANKAN PERAN DAN FUNGSI SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN NONFORMAL

            Agar lebih terperinci dan fokus terhadap objek observasi tentang proses pembelajaran di PKBM As-Syifa. Secara global akan dijabarkan mengenai proses pembelajaran Kelompok Belajar Paket (Kejar Paket) A, B, dan C. Kegiatan Kejar Paket A, B, dan C dimulai pada pkl. 13.00 di PKBM As-Syifa, proses pembelajaran yang dilaksanakan secara umum kurang terlihat adanya hal-hal yang menarik dari segi materi dan penyaji materi (tutor), maupun dari teknik dan metode yang digunakan tutor untuk menstimulus proses pembelajaran yang dilakukan di kelas. Pembelajaran lebih bersifat klasikal dan konvensional dengan memusatkan proses pembelajaran pada tutor (teacher centered) dan menganggap bahwa sumber informasi utama adalah tutor yang dilanjutkan pada sumber belajar tertulis yaitu buku teks yang didapatkan dari Dinas Pendidikan Propinsi di bawah naungan secara operasional oleh Seksi Pendidikan Luar Sekolah. Penggunaan strategi pembelajaran secara inquiry tidak terlihat sama sekali. Hubungan dengan materi yang perlu dipelajari peserta belajar, secara garis besar materi yang diberikan cenderung mengikuti persis apa yang dicantumkan di buku paket/modul dari dinas terkait (Sudin PLS). Morgan memaparkan materi yang relevan bagi pendidikan berbasis masyarakat seperti PKBM, yaitu;

            Suatu isu dikatakan kontroversial jika beberapa cara yang diusulkan untuk memecahkannya bertentangan dengan kepentingan dan kepercayaan sebagian orang. Penyebab utama isu kontroversial adalah loyalitas dasar yang dimiliki orang terhadap organisasi, lembaga, atau kelompoknya.[12]

            Bila dikoneksikan dengan apa yang dipaparkan Morgan tersebut, memang masih jauh dari angan-angan atas apa yang ada pada lembaga pendidikan nonformal khususnya PKBM yang ada di Indonesia pada umumnya, walaupun tidak semua PKBM berada di bawah garis standar (khususnya pada bidang materi pembelajaran/kurikulum yang ada). Pada dasarnya standar kurikulum untuk proses pembelajaran yang dijalankan di PKBM telah disusun oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Kenyataan yang ada, tentor cenderung lebih merasa nyaman dengan menyesuaikan dan memaparkan materi pembelajaran sebagaimana yang ada dalam buku paket/modul yang telah disediakan pengelola ditambah materi yang relevan dari sumber lain agar lebih padat. Hal ini terjadi karena pada proses pembelajaran, kemauan peserta belajar untuk belajar dan datang masih kurang, dapat digambarkan bahwa ketika minggu pertama peserta yang datang sejumlah 5 orang dari total peserta 52 orang, pada minggu berikutnya datang 5 orang lagi yang lain (bukan yang datang pada pertemuan sebelumnya) sehingga tentorpun harus mengulang materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Implikasi yang muncul adalah, pembelajaran dengan merujuk pada standar minimal dari BSNP masih sulit dicapai oleh lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM.

            Dari segi usia, rata-rata peserta Kejar Paket A, B, dan C memiliki usia di atas standar (lebih tua) daripada peserta belajar yang ada di pendidikan formal. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, setiap anak yang berusia enam tahun atau lebih dapat mengikuti program wajib belajar. Bila dilihat dari sudut pandang psikologi perkembangan dan tugas perkembangannya, maka dapat dikatakan bahwa peserta belajar di satuan pendidikan nonformal seperti PKBM ini telah memiliki kemampuan dasar (yang pada umumnya tidak mereka sadari) untuk belajar dan berkembang, sehingga selayaknya proses pembelajaran yang dilakukan adalah bersifat praktis dan mudah diimplementasikan dalam kehidupan peserta belajar di masyarakat nantinya.

            BAB    IV

            PENUTUP

            A. KESIMPULAN

              Dari pemaparan yang telah dijabarkan di depan, beberapa pokok persoalan telah sedikit banyak diulas mengenai peran dan fungsi PKBM sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan pendidikan nonformal di Indonesia. Karakteristik pendidikan nonformal sangat beragam, menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang merupakan jenis pendidikan nonformal adalah; lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

              PKBM sebagai bagian integral dari sebuah lembaga pendidikan nonformal di Indonesia, saat ini banyak mengalami perkembangan dan peningkatan khususnya secara kuantitatif dalam hal peserta belajarnya. Meningkatnya peserta belajar pada lembaga nonformal sejenis PKBM ini salah satunya dilatarbelakangi oleh kegiatan Ujian Nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Hal ini terjadi karena siswa yang mengalami kegagalan Ujian Nasional akan mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian kesetaraan pada lembaga PKBM. Selain itu, tuntutan dunia kerja yang memberikan standar minimal kualifikasi pendidikan terhadap karyawannya, menuntut karyawan-karyawan tersebut baik yang berada pada instansi pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan dan melanjutkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Namun, satu hal yang tidak dapat dielakkan adalah peranan lembaga pendidikan nonformal sejenis PKBM ini telah menjembatani tujuan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

              Kenyataan yang ada, pengembangan PKBM tidak seluruhnya relevan dengan apa yang telah menjadi standar baik dalam hal perencanaan, pengelolaan, dan pengembangan PKBM di lapangan. Hal ini dapat dilihat dari minimnya perhatian pengelola terhadap mutu tenaga pendidik (tutor) yang relevan antara bidang yang akan diajarkan dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Selain itu, kurangnya peranan masyarakat secara luas dan minimnya perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan nonformal seolah-olah menjadi pemanis tambahan dalam proses keterpurukan lembaga pendidikan nonformal di Indonesia.

              B. SARAN TINDAK LANJUT

                Munculnya permasalahan dan hambatan pada implementasi sebuah sistem terjadi manakala sistem tersebut direncanakan dan akan terlihat secara nyata ketika proses pelaksanaan sistem dilakukan. Adapun  hubungan antara sistem ini terkait dengan kebijakan pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional mengenai program wajib belajar 9 tahun. Dalam hal ini, program wajib belajar 9 tahun dicanangkan dan telah dilaksanakan secara operasional oleh lembaga pendidikan formal yang ada di Indonesia. Kenyataan yang ada, hambatan mencapai program tersebut muncul ketika angka kelulusan yang masih diwarnai dengan adanya peserta didik yang mengalami kegagalan dalam hal ujian kelulusan (ujian nasional). Oleh karena itu, alternatif yang diambil oleh peserta dan orang tua didik adalah dengan mengikuti program kelompok belajar paket A, B, atau C sesuai jenjang yang akan dijalaninya. Adapun peranan PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal maupun sebagai pelaksana program Kejar Paket A, B, maupun C sebagai mediasi agar anggota masyarakat yang mengalami kegagalan dapat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tentunya melalui ujian kesetaraan yang secara praktis standar kualifikasi materi yang diujikan berada di bawah standar materi yang diujikan pada lembaga formal sebagaimana telah disusun dan dikembangkan oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

                Sebagai lembaga pendidikan nonformal yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan dan menuntaskan progam wajib belajar 9 tahun, model perencanaan, pengelolaan, dan penilaian yang ada pada PKBM sudah selayaknya perlu distandarkan secara konkrit di lapangan bukan hanya sebatas teoritis semata. Perlunya sebuah lembaga berperan dalam hal check and balance pada operasional PKBM di lapangan melalui Suku Dinas Pendidikan Luar Sekolah perlu dioptimalkan. Adapun pelaksanaannya perlu dioptimalkan khususnya bidang kegiatan seperti inspeksi mendadak (sidak) pada lembaga nonformal terkait hal sebagaimana dipaparkan di depan. Pengelolaan lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM perlu diseriusi baik oleh lembaga pememrintah sebagai pemegang otoritas dan kebijakan melalui petunjuk teknis pengelolaan maupun pedoman dan standarisasi pengelolaan lembaga pendidikan nonformal yang diiringi dengan kontrol operasional secara berkelanjutan. Selain itu, peranan masyarakat sebagai unsur yang tak terpisahkan dalam hal pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan nonformal masih perlu ditingkatkan seperti dalam hal yang terkait dengan SDM (baik pengelola maupun tutor yang bersangkutan) melalui kegiatan peningkatan sumber daya manusia seperti mengadakan dan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan sistem yang ada pada lembaga pendidikan nonformal baim secara makro dalam pengelolaan proses pendidikannya, maupun secara mikro pada proses pembelajaran yang dikembangkan di lembaga nonformal seperti PKBM tersebut.

                Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia bukan semata-mata merupakan tugas pemerintah saja, akan tetapi masyarakat luas juga memiliki peran dan tanggung jawab yang bersar terhadap laju perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia yang dimulai dari jenjang pendidikan  informal di masyarakat dan keluarga, pendidikan formal pada satuan pendidikan yang telah ditentukan sebagaimana tertulis pada UU RI Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan jalur pendidikan nonformal yang merupakan penopang dan pengembang dalam rangka mempersiapkan dan mewujudkan generasi yang peduli dengan pendidikan serta siap bersaing secara global di kancah internasional melalui pendidikan yang bermutu.

                DAFTAR PUSTAKA

                http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgi-bin/library?e=d-00000-00—0p–00-1–0-10-0—0—0prompt-10—4——-0-1l–11-en-50—20-about—00-3-1-00-11-1-0utfZz-8-00&a=d&d=HASH01bdfbd1029291d3560d7b6c&showrecord=1

                http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_nonformal

                http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Kegiatan_Belajar_Masyarakat

                http://rbsamarinda.blogspot.com/2007/12/pusat-kegiatan-belajar-masyarakat-pkbm.html

                http://www.infed.org/biblio/b-nonfor.htm

                http://www.jakartateachers.com/821.html

                http://www.jugaguru.com/profile/49/

                Kamil, Mustofa. Pendidikan Nonformal – pengembangan melalui pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) di Indonesia (sebuah pembelajaran dari Kominkan Jepang). Bandung: Alfabeta, 2009

                Suprijanto. Pendidikan Orang Dewasa – dari teori hingga aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2007

                Syafarudin dan Anzizhan. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo, 2004


                [1] http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgi-bin/library?e=d-00000-00—0p–00-1–0-10-0—0—0prompt-10—4——-0-1l–11-en-50—20-about—00-3-1-00-11-1-0utfZz-8-00&a=d&d=HASH01bdfbd1029291d3560d7b6c&showrecord=1

                [2] Syafaruddin dan Anzizhan. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2004), h. 1.

                [3] Hamojoyo dalam Mustofa Kamil. Pendidikan Nonformal—pengembangan melalui pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di Indonesia (Bandung: Alfabeta, 2009), hh. 13 – 14.

                [4] Combs, Prosser, dan Ahmed dalam http://www.infed.org/biblio/b-nonfor.htm

                [5] http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_nonformal

                [6] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam http://www.jakartateachers.com/821.html

                [7] Mustofa Kamil, op. cit, h. 15

                [8] Ibid, h. 16

                [9] http://www.jugaguru.com/profile/49/

                [10] http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Kegiatan_Belajar_Masyarakat

                [11] http://rbsamarinda.blogspot.com/2007/12/pusat-kegiatan-belajar-masyarakat-pkbm.html

                [12] Morgan, et.al dalam Suprijanto. Metode Pendidikan Orang Dewasa – dari teori hingga aplikasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 32.

                Iklan

                About muhammad fajri

                manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

                Posted on 21 April 2010, in education and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

                1. Artikel yg padat d an bermamfaat khususnya bagi saya yg sekarang dalam melaksanakan penelitian SDM pada PAUD.

                2. Artikel yang baik untuk pengembangan pendidikan non formal dimasyarakat

                Tinggalkan Balasan

                Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                Logo WordPress.com

                You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                Gambar Twitter

                You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                Foto Facebook

                You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                Foto Google+

                You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                Connecting to %s

                %d blogger menyukai ini: