TEORI KOMUNIKASI, BELAJAR DAN PEMBELAJARANTeori


A. TEORI KOMUNIKASI

Definisi Komunikasi

Komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami[1].

  1. Teori Komunikasi Berlo

Teori komunikasi berlo mengembangkan wawasan proses pembelajaran pada kelas konvensional sebagai suatu komunikasi, pendidik/guru merupakan pengirim pesan materi/pembelajaran (sender). Pada proses pengiriman dibutuhkan suatu bentuk berupa saluran (potensi pendidik/guru, media, indera penerima/peserta didik), diteruskan dengan proses peneriman pesan/materi pembelajaran oleh peserta didik sebagai penerima pesan (receiver).

Gangguan dapat terjadi pada proses penyampaian pesan (saluran) seperti keadaan lingkungan belajar, suasana psikologis pendidik maupun peserta didik, dan sejenisnya yang pada dasarnya akan mengganggu proses pembelajaran yang berlangsung. Untuk mengatasi hal-hal tersebut dapat dilakukan umpan balik dari penerima pesan (peserta didik) pada pengirim pesan/pendidik seperti dengan metode-metode seperti tanya jawab tentang materi pembelajaran terkait.

  1. Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing Theory)

Pendekatan pemrosesan informasi (information-processing approach) merupakan pendekatan terhadap studi perkembangan kognitif dengan mengobservasi dan menganalisis proses mental yang terlibat dalam mempersepsikan dan menangani informasi[2]. Teori pemrosesan informasi menekankan pentingnya proses-proses kognitif seperti persepsi, seleksi perhatian, memori, dan strategi kognitif. Teori ini didasarkan atas tiga asumsi umum, antara lain[3];

–       Pikiran dipandang sebagai suatu sistem penyimpanan dan pengembalian informasi,

–       Individu-individu memproses informasi dari lingkungan, dan

–       Terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari tiap individu

Teori pemrosesan informasi pada hakikatnya mengacu pada beberapa hal berikut, yaitu; bagaimana individu memproses informasi tentang dunia mereka, bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang kompleks, seperti memecahkan suatu masalah dan proses berpikir.

Model pemrosesan informasi mempunyai beberapa komponen utama yaitu; stimulus lingkungan (input), sensory register (SR), short-term memory (STM), long-term memory (LTM), dan respons (output). Berdasarkan model pemrosesan informasi ketika peserta didik berusaha untuk memecahkan suatu masalah langkah pertama yang dilakukan adalah menerima informasi dari sumber belajar (seperti lingkungan) melalui inderanya, informasi yang telah diperoleh lalu disimpan sementara dalam SR (memory penyimpan pertama), SR merekan informasi secara seksama sebagaimana yang diterima semula, tetapi informasi ini akan menghilang atau muncul dalam dua bagian kecil, kecuali terjadi proses pengulangan informasi, informasi yang mendapat perhatian khusus akan masuk ke dalam STM (memory penyimpan kedua), STM hanya dapat menyimpan informasi dalam jumlah terbatas yaitu hanya sekitar 7 buah informasi pada satu waktu, setelah salah satu informasi dilupakan atau diproses lebih lanjut, maka informasi akan bergerak menuju LTM (memory penyimpan ketiga), di dalam LTM ini informasi dapat disimpan secara permanen, tetapi dalam penyimpanan ini diperlukan berbagai startegi kognitif seperti proses rehearsal/pengulangan atau mengorganisasinya dalam kelompok-kelompok yang mudah dikenal. Long term memory mempunyai kapasitas yang tidak terbatas untuk menyimpan informasi/pengetahuan baru.

Environtmental stimuli

(input)

Sensory Register

(SR)

Control Process
Short Term Memory

(STM)

Response

(output)

Long Term Memory

(LTM)

Model kognisi teori pemrosesan informasi

(desmita. 2005. h. 51, diadaptasi dari Seifert & Huffnung 1994)

B. TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Teori belajar membahas kejadian belajar yang terjadi dalam diri seseorang, sedangkan teori pembelajaran merupakan komponen eksternal yang dilibatkan dalam proses pembelajaran. Komponen mendasar antara teori belajar dan teori pembelajaran terletak pada sifat keilmuannya. Teori pembelajaran bersifat perskriptif, menyarankan bagaimana sebaiknya proses belajar dilaksanakan, sedangkan teori belajar bersifat deskriptif, menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi dalam diri peserta didik.

Secara sederhana teori belajar mengacu pada Learner, sedangkan teori pembelajaran mengacu pada learning.

  1. Teori Belajar

Menurut Gagne, Briggs, dan Wager[4] proses belajar seseorang dipengaruhi oleh faktor internal (diri sendiri) dan faktor eksternal (pengaturan kondisi belajar). Proses belajar terjadi karena sinergi memori jangka pendek dan jangka panjang diaktifkan melalui penciptaan faktor eksternal (pembelajaran/lingkungan belajar). Dalam kaitannya guru sebagai pendidik mengarahkan agar pemrosesan informasi untuk memory jangka panjang dapat berlangsung lancar.

Menurut Magnesen prosentase belajar bila dikaitkan dengan metode/cara belajar dapat terjadi dengan;

Jenis Persentase
Membaca 10 %
Mendengar 20 %
Melihat 30 %
Melihat dan mendengarkan 50 %
Mengatakan 70 %
Mengatakan sambil melakukan 90 %

Pemberdayaan secara optimal dari seluruh indera peserta didik dalam proses belajar dapat menghasilkan kesuksesan bagi peserta didik tersebut. Melalui media pembelajaran, belajar paling tinggi terjadi sebanyak 50 %. Dan pada kenyataannya peserta didik yang trelibat secara langsung dengan suatu kegiatan belajar (learning by doing) akan lebih mudah mengerti dan memahami materi pembelajaran yang dipelajarinya. Sebagai contoh pada proses pembelajaran IPA tentang pengukuran, kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna dengan cara peserta didik melakukan kegiatan pengukuran berbagai benda yang ada di kelas dengan menggunakan alat ukur (pembanding) yang ada daripada harus dengan menghafal dan menyelesaikan soal tentang definisi dan jenis-jenis pengukuran.

  1. Teori Pembelajaran Robert M. Gagne

Robert M. Gagne mengemukakan proses pembelajaran dalam suatu disain pembelajaran yang diajukannya dalam sembilan langkah, antara lain[5];

–        Stimulation to gain attention to ensure the reception of stimuli

–        Informing learners of the learning objectives, to establish appropriate expectations

–        Reminding learners of previously learned content for retrieval from LTM

–        Clear and distinctive presentation of material to ensure selective perception

–        Guidance of learning by suitable semantic encoding

–        Eliciting performance, involving response generation

–        Providing feedback about performance

–        Assesing the performance, involving additional response feedback occasions

–        Arranging variety of practice to aid future retrieval and transfer

Secara sederhana dapat digambarkan dalam bentuk bagan, sebagai berikut;

Kesembilan langkah di atas menurut Dewi Salma Prawiralidaga[6] dapat disederhanakan menjadi 4 kegiatan besar, antara lain;

–        1 – 3 è kegiatan pengajar untuk memotivasi pembelajar dengan berbagai cara (apersepsi), menjelaskan tujuan pembelajaran/kompetensi yang akan diperoleh pembelajar/peserta didik pada proses pembelajaran karena mereka akan belajar lebih terarah. Guru menghubungkan materi yang telah dikuasai sebelumnya. Kegiatan awal dibuat semenarik mungkin untuk menarik minat belajar peserta didik

–        4 – 7 è kegiatan penyajian materi (kegiatan inti), memberi kesempatan peserta didik/pembelajar untuk merespon proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran yang melibatkan keaktifan peserta didik (tanya jawab, demonstrasi, diskusi, kerja kelompok, dan sejenisnya). Penyajian materi pembelajaran yang up date dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini.

–        8, menilai hasil belajar (evaluasi pembelajaran) untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan materi pembelajaran oleh peserta didik.

Tuntas è lanjut ke tahap berikutnya (pengayaan)

Tidak tuntas è remedial

–        9, tindak lanjut berupa penugasan tentang materi pembelajaran terkait dalam hal ini dapat dikatakan sebagi pengayaan pada proses pembelajaran yang telah tuntas

C. DISAIN PEMBELAJARAN : HASIL KERJASAMA DAN SINERGI SUATU TIM

Disain pembelajaran tidak sebatas melibatkan satu atau dua komponen, namun banyak sekali komponen-komponen yang saling terkait dan bersinergi dalam rangka penyusunan dan pengembangan suatu bentuk disain pembelajaran yang optimal, diantara komponen yang terlibat dalam proses pengembangan disain instruksional antara lain;

  • Desainer è pelaksanaan & koordinasi sel perencanaan
  • Pengajar è pengalaman kelas n peserta didik à penyajian materi pembelajaran
  • Ahli materi è validasi materi y disampaikan
  • Evaluator è pengembangan hasil belajar & pembelajaran  à mengkaji data u/ proses pengembangan pembelajaran

D. ANALISIS KEBUTUHAN

Analisis kebutuhan adalah penelusuran tentang proses belajar, kebutuhan peserta didik serta harapan yang harus dicapai dalam proses pembelajaran lanjutan.

Analisis kebutuhan disusun berdasarkan beberapa hal, yaitu;

–       Dokumentasi tentang proses pembelajaran yang telah dilaksanakan

–       Analisis karakteristik peserta didik

–       Kondisi lingkungan belajar

–       SDM pengembang (instruktur, disainer, pengembang dan pelaksana)

–       Aspek manajerial maupun organisasi yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung

E. KESIMPULAN

Banyak sekali kaitannya bahwa dalam proses pengembangan disain instruksional perlu dilatarbelakangi oleh beberapa landasan teoritis. Beberapa diantara sekian banyak teori yang berkembang yang terkait baik langsung maupun tidak langsung diantaranya teori komunikasi, pemrosesan informasi, belajar, dan pembelajaran.

Suatu disain disusun dan dikembangkan untuk memudahkan kehidupan manusia. Disain instruksional (pembelajaran) berguna untuk memudahkan proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mendapat suatu hasil yang optimal sehingga indikator-indikator yang akan dituju dapat tercapai secara optimal.

Pandangan teori komunikasi yang mengembangkan suatu bentuk komunikasi terarah dengan menitikberatkan pada aspek media (saluran) di mana suatu pesan yang dikirimkan oleh sender (dalam hal ini adalah guru sebagai pengajar) tidak langsung diterima begitu saja oleh penerima/receiver (dalam hal ini adalah siswa sebagai peserta didik) karena diantara sender dan receiver terdapat suatu saluran yang mana bila saluran tersebut lancar mendukung pesan yang disampaikan maka akan mudah pula penerimaan pesan/materi pembelajaran oleh siswa sebagai peserta didik.

Secara esensi teori belajar dan pembelajaran memandang peristiwa belajar dari sudut pandang yang berbeda yaitu dari sifat keilmuannya. Teori pembelajaran bersifat preskriptif (menyarankan bagaimana sebaiknya proses belajar dilaksanakan), sedangkan teori belajar bersifat deskriptif (menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi dalam diri seseorang). Secara sederhana teori pembelajaran berbicara tentang the learning sedangkan teori belajar membicarakan the learner.

Di sini saya lampirkan file presentasi saya dalam bentuk pptx

Teori Komunikasi, Belajar, dan Pembelajaran


[1] KBBI. 2005, h: 585

[2] Papalia, Diane E., et al. 2008, h: 48

[3] Zigler & Stevenson dalam Desmita, 2005. h. 49

[4] Gagne, Briggs, & Wager. 1993, h: 3 – 11 dalam Prawiladilaga, Dewi Salma. 2008, h: 24

[5] http://solrunb.com/profile/instructionaldesign\Robert M Gagné.htm

[6] Prawiradilaga, Dewi Salma. Op cit, 2008, h. 25 – 26

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 28 Maret 2010, in education, Teori Belajar Konstruktivisme and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: