Cooperative Learning itu….???


PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia merupakan makhluk sosial. Dalam menjalankan proses kehidupannya, mutlak manusia tidak akan mampu memenuhi segala kebutuhan dan tuntutan hidup yang semakin kompleks ini. Oleh karenanya, untuk menunjang dan memenuhi segala kebutuhan dan tuntutan hidupnya, manusia perlu bekerjasama dan saling membantu untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya tersebut.

Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius[1]. Dalam kaitannya bahwa manusia sebagai makhluk sosial (homo homini socius), dalam proses penerimaan suatu elemen seperti ilmu, di sini banyak terdapat model/cara bagaimana seorang individu akan merasa nyaman dan mudah menerima suatu informasi baru ataupun dalam mengembangkan apa yang pernah ia terima sebelumnya. Cara individu menerima informasi akan berbeda dengan individu lain, karena tiap-tiap individu memiliki kekhasan yang berbeda-beda pula. Sebagai dampak yang terjadi, tidak semua individu mampu dengan sendiri melakukan proses penerimaan informasi sebagai akibat dalam suatu proses pembelajaran, ada kalanya seorang individu melakukan suatu cara seperti mendengarkan lagu ketika sedang belajar, namun tidak sedikit pula yang membutuhkan ketenangan dalam belajar. Di luar daripada itu, adapula yang lebih merasa nyaman ketika proses pembelajaran dilakukan dengan bekerjasama dan saling tukar informasi dan mengembangkan informasi yang telah dimiliki dengan informasi yang baru diterima.

Model cooperative learning merupakan implementasi pembelajaran yang menitikberatkan aspek kerjasama antar individu guna mendapatkan suatu hasil pada proses pembelajaran yang optimal. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan, adakalanya suatu persaingan yang kurang sehat terjadi di mana dominasi oleh individu tertentu terjadi, sehingga perlu adanya suatu kerjasama dan penerimaan dan saling mengisi tanpa adanya intimidasi oleh kelompok/individu tertentu dalam proses pembelajaran, muaranya adalah proses pembelajaran yang efektif dan terjalinnya kemampuan komunikasi sosial dan kerjasama yang optimal sehingga bukan hanya kognitif saja yang berkembang, akan tetapi kemampuan personal sosial juga ikut berkembang dalam pembelajaran kooperatif ini.

Ide yang melatarbelakangi bentuk pembelajaran kooperatif semacam ini adalah apabila para siswa ingin agar timnya berhasil, mereka akan mendorong timnya untuk lebih baik dan akan membantu mereka melakukannya. Seringkali para siswa mampu melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menjelaskan gagasan-gagasan yang sulit satu sama lain dengan menerjemahkan bahasa yang digunakan guru ke dalam bahasa anak-anak[2].

COOPERATIVE LEARNING

A. DEFINISI

Cooperative Learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda[3], dan ada yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda[4]. Pengertian lain menyebutkan cooperation is working together to accomplish shared goals[5]. Menurut Johnson & Johnson pembelajaran kooperatif diartikan sebagai the instructional use of small groups so that students work together to maximize their own and each other’s learning[6]. Menurut Jacobs, et al, cooperative learning merupakan principles and techniques for helping students work together more effectively[7]. Cooperative learning is an instructional strategy that simultaneously addresses academic and social skill learning by students. It is a well-researched instructional strategy and has been reported to be highly successful in the classroom[8].

Paul R. Burden, et. al., memberikan definisi tentang cooperative learning is a means of grouping students in small, mixed-ability learning teams. The teacher presents the group with a problem to solve or task to perform. Students in the group then work among themselves, help one another, praise and criticize one another’s contributions, and receive a group performance score[9].

Dari beberapa kajian mengenai pengertian pembelajaran kooperatif di atas kiranya dalam ditarik satu benang merah bahwa cooperative learning merupakan satu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam sebuah kelompok kecil di mana dalam kelompok tersebut terdapat suatu tujuan bersama untuk mengoptimalkan kemampuan menguasai suatu materi pembelajaran dengan menggunakan teknik dan metode yang disenangi/sesuai dengan masing-masing kelompok siswa tersebut sehingga tercapai proses pembelajaran yang mengoptimalkan kecerdasan (kognitif) dan komunikasi (sosial) dan kemampuan kerjasama, saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya, dalam satu kelompok terdapat kemajemukan baik dari unsur kognitif maupun aspek lainnya.

Implikasi dari cooperative learning menuntut adanya suatu kerjasama tim yang solid dalam persaingan secara sehat di kelas guna menjadi yang terbaik sehingga prinsip reward and punishment dapat terlaksana. Guru harus mampu mengkondisikan proses pembelajaran yang dilakukan agar tujuan dan proses pembelajaran yang dikehendaki dapat tercapai. Sebaliknya, hal-hal di luar rencana yang seharusnya tidak terjadi dapat diantisipasi bersama seperti persaingan yang brutal dan tidak sehat.

Yang paling mendasar dalam cooperative learning ini adalah adanya kelompok/tim solid yang saling menghargai dan menghormati antar anggota dan kelompok dalam kelas cooperative learning tersebut. Beberapa kajian telah menemukan bahwa ketika para siswa bekerja bersama-sama untuk meraih sebuah tujuan kelompok, membuat mereka mengekspresikan norma-norma yang baik dalam melakukan apapun yang diperlukan untuk keberhasilan kelompok[10]. Jelasnya tujuan kooperatif menciptakan norma-norma yang pro-akademik diantara para siswa, dan norma-norma pro-akademik memiliki pengaruh yang amat penting bagi pencapaian siswa[11].

Oleh karena tiap individu dianggap lebih berhasil pada proses pembelajaran secara kelompok, diupayakan metode-metode yang termasuk dalam bagian cooperative learning ini (yang akan dipaparkan lebih lanjut dalam makalah sederhana ini) dapat diterapkan pada proses pembelajaran di satuan pendidikan, khususnya sekolah dasar.

 

B. PRINSIP-PRINSIP COOPERATIVE LEARNING

Terdapat 4 prinsip dasar cooperative learning yaitu prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), tanggung jawab perseorangan (individual accountability), interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), partisipasi dan komunikasi (participation communication)[12].

1. Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)

Keberhasilan penyelesaian tugas kelompok ini ditentukan oleh kinerja masing-masing dari anggota kelompok tersebut, jadi akan ada rasa saling membutuhkan antara satu sama lain.

Agar tercipta kelompok yang efektif  diperlukan adanya pembagian tugas sesuai dengan tujuan kelompok. Tugas yang diberikan harus sesuai dengan kemampuan setiap anggota kelompok.

Pada hakikatnya Ketergantungan Positif ini berarti bahwa tugas kelompok tidak dapat diselesaikan mana kala ada anggota kelompok yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya, dengan begitu diperlukan adanya kerjasama yang baik dalam kelompok tersebut. Jika ada salah satu anggota kelompok yang diaanggap mempunyai kemampuan lebih, diharapkan dia bisa membantu untuk menyelesaikan tugas temannya yang kurang.

2. Interaksi Tatap Muka (Face to Face Promotion Interaction)

Pembelajaran ini memberikan ruang atau kesempatan dimana anggota dari setiap kelompok dapat saling mengenal dan bertatap muka untuk bertukar informasi, gagasan atau ide dan saling berdiskusi. Interaksi ini akan memberikan pengalaman yang berharga pada setiap anggota kelompok untuk saling bekerjasama dan juga memanfaatkan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

3. Tanggung Jawab Perseorangan (Individual Accountability)

Prinsip ini merupakan konsekuensi dari ketergantungan positif , yang mana setiap anggota mempunyai tanggungjawab masing-masing sesuai dengan tugas yang diberikan dengan begitu setiap anggota kelompok berusaha memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.

Di sisi lain guru haruslah memperhatikan penilaian terhadap individu dan kelompok. Penilaian individu bisa saja berbeda tetapi penilaian kelompok tentu harus sama.

4. Partisipasi Dan Komunikasi (Participation Communication)

Pembelajaran ini pastinya untuk melatik partispasi siswa dalam kelompok secara aktif untuk dapat berkomunikasi. Untuk itu sebelum dilaksanakan pembelajaran kooperatif ini guru haruslah membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi ini memang memerlukan waktu untuk menguasainya, oleh karena itu guru harus melatih secara terus menerus.

Menurut George Jacobs[13] terdapat 8 prinsip dalam cooperative learning antara lain;

1. Heterogeneous Grouping

Prinsip ini mengandung maksud bahwa siswa yang berada dalam kelompok belajar diacak atau terdiri dari berbagai elemen/latar belakang seperti jenis kelamin, etnik, kelas sosial, agama, kemampuan berargumen dan sebagainya, serta dari tingkat kecerdasan siswa.

2. Collaborative Skills

Ketrampilan kolaboratif seperti memberikan alasan (giving reasons), merupakan satu hal yang dibutuhkan untuk bekerja dengan lainnya. Siswa mungkin kurang menguasai kemampuan ini, ketrampilan berbahasa perlu dilibatkan dalam proses pembelajaran kooperatif ini, atau kecenderungan untuk mengaplikasikan ketrampilan ini. Banyak buku dan situs internet pada cooperative learning mendorong kemampuan kolaboratif ini dengan tegas diajarkan pada waktu yang sama.

3. Group Autonomy

Prinsip ini menganjurkan siswa untuk melihat kemampuan kelompoknya sebagai sumber pembelajaran daripada kepada guru sebagai sumber informasi. Ketika siswa dalam kelompok mengalami kesulitan, baru guru mencoba untuk memberi solusi kepada kelompok tersebut.

Kadangkala, sebagai guru biasanya berkeinginan menentang hal ini, sebagaimana dikatakan Roger Johnson, “Teachers must trust the peer interaction to do many of the things they have felt responsible for themselves[14].

4. Simultaneous Interaction[15]

Di dalam kelas dengan berbagai aktifitas yang ada, aktifitas dilakukan bersama-sama, sebagai contoh dalam kelas berjumlah 40 siswa yang terbagi dalam 10 grup/kelompok semua siswa berbicara dalam waktu yang bersamaan. Pada pelaksanaannya siswa perwakilan tiap kelompok secara bergantian berbicara mengungkapkan hasil pekerjaan kelompoknya di depan kelas, sedangkan siswa/kelompok lainnya memberikan tanggapan, sanggahan, maupun penguatan tentang materi yang sedang disampaikan di depan kelas.

5. Equal Participation

Permasalahan umum dalam kelompok adalah ketika dalam satu grup terdapat dominasi satu atau dua siswa, untuk alasan apapun, hal ini akan menghalangi partisipasi siswa lainnya. Cooperative learning menawarkan proses di mana hal yang dikhawatirkan di atas dapat diatasi diantara masing-masing anggota grup.

6. Individual Accountability

Dalam prosesnya cooperative learning membutuhkan peran dan tanggung jawab masing-masing individu dalam kelompok (individual accountability) sehingga proses pembelajaran akan berjalan efektif sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya.

7. Positive Interdependence

Ketergantungan positif berlangsung ketika anggota-anggota kelompok merasakan bahwa mereka berhubungan dengan satu sama lainnya dalam suatu cara dimana seseorang tidak dapat mengerjakannya kecuali bekerja bersama. Anggota-anggota kelompok kecil berada dalam perahu yang sama. Pada saat berlayar, kru perahu perlu menyadari bahwa mereka akan tenggelam dan berenang bersama-sama. Pengajar harus merancang dan mengkomunikasikan tujuan-tujuan dan tugas-tugas kelompok dalam cara-cara yang membantu masing-masing anggota. Kelompok untuk mencapai pemahaman tersebut. Selanjutnya masing-masing anggota kelompok memiliki kontribusi yang unik untuk melakukan usaha bersama. Pengajar seharusnya mendefinisikan secara jelas peranan kelompok dan tanggungjawab tugas dan mengacu pada kekuatan-kekuatan individu anggota[16].

8. Cooperation As Value

Pengaiar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu. setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan cooperative learning. Format evaluasi bisa bermacam-macam, tergantung pada tingkat pendidikan siswa. Berikut ini adalah contoh dua buah format evaluasi proses kelompok untuk dua kelompok usia/ kelas yang berbeda.

 

C. TEKNIK-TEKNIK COOPERATIVE LEARNING

David W. Johnson, Roger T. Johnson, dan Mary Beth Stanne[17] dalam sebuah papernya telah menemukan dan mengumpulkan beberapa yang termasuk kelompok model cooperative learning yang semuanya terdapat 10 metode, antara lain;

Researcher-Developer Date Method
Johnson & Johnson Mid 1960s Learning Together & Alone
DeVries & Edwards Early 1970s Teams-Games-Tournaments (TGT)
Sharan & Sharan Mid 1970s Group Investigation
Johnson & Johnson Mid 1970s Constructive Controversy
Aronson & Associates Late 1970s Jigsaw Procedure
Slavin & Associates Late 1970s Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Cohen Early 1980s Complex Instruction
Slavin & Associates Early 1980s Team Accelerated Instruction (TAI)
Kagan Mid 1980s Cooperative Learning Structures
Stevens, Slavin, & Associates Late 1980s Cooperative Integrated Reading & Composition (CIRC)

Dari sepuluh metode di atas akan kami batasi pemaparannya yaitu hanya beberapa metode dalam model cooperative learning ini yaitu; Student Teams Achievement Divisions (STAD), Team Game Tournament (TGT), Team Assisted Individualization (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Group Investigation, dan Jigsaw (Aronson dan adaptasinya). Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan beberapa metode tersebut, antara lain;

Student Teams Achievement Divisions (STAD)

STAD merupakan salah satu metode cooperative learning yang paling sederhana, dam merupakan model paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan cooperative learning[18].

STAD terdiri atas 5 komponen utama, antara lain;

Presentasi kelas

Materi dalam STAD pertama kali diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Ini merupakan model pembelajaran langsung sebagaimana model pembelajaran konvensional yang dipimpin oleh guru. Yang membedakan dengan model konvensional di kelas terletak pada presentasi yang benar-benar fokus pada STAD. Dengan cara seperti ini, siswa akan menyadari mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi berlangsung yang akan membantu siswa menyelesaikan kuis dan skor kuis tersebut akan mempengaruhi skor masing-masing tim.

Tim

Terdiri dari 4 – 5 siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, maupun etnik. Fungsi utama tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi, untuk mempersiapkan anggotanya untuk menyelesaikan kuis secara optimal.

Tim merupakan komponen penting dalam STAD di mana dalam tim tersebut yang perlu dilakukan oleh siswa dalam tim adalah melakukan yang terbaik demi hasil yang terbaik.

Kuis

Setelah satu atau dua periode guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, siswa akan menyelesaikan kuis masing-masing. Siswa tidak diperbolehkan saling membantu dalam penyelesaian kuis ini. Sehingga pada prosesnya tiap siswa akan bertanggungjawab secara individu untuk memahami materi yang diujikan.

Skor kemajuan individual

Gagasan di balik skor kemajuan ini adalah memberikan tiap siswa tujuan kinerja yang akan dicapai bila bekerja lebih baik dari sebelumnya. Tiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimal kepada timnya dan memberikan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya.

Rekognisi tim

Tim akan memberikan sebuah sertifikat atau semacam penghargaan lainnya bila skor rata-rata mencapai kriteria tertentu. Skor tim siswa juga dapat digunakan untuk menentukan 20% dari peringkat mereka.

Team Game Tournament (TGT)

Secara umum TGT sama dengan STAD kecuali satu hal yaitu TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. TGT sangat sering dipakai dengan dikombinasikan dengan STAD dengan menambahkan turnamen tertentu pada struktur STAD yang biasanya.

Adapun komponen-komponen dalam TGT, antara lain;

Tim

Sama dengan STAD.

Game

Terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang isi materinya relevan dengan hasil presentasi kelas yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa pada pelaksanaan kerja tim. Game dimainkan di atas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang berbeda.

Turnamen

Merupakan sebuah struktur di mana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit, setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar-kegiatan.

Rekognisi tim

Sama dengan STAD.

Menempatkan para siswa ke dalam tim

Sama dengan STAD

Team Assisted Individualization (TAI)

Hal yang mendasari TAI untuk mengadaptasi pembelajaran terhadap perbedaan individual berkaitan dengan kemampuan siswa maupun pencapaian prestasi siswa, dan jika demikian bagaimana hal ini bisa menjadi salah satu bentuk kontroversi paling lama terjadi dalam bidang pendidikan di Amerika[19].

Pada umumnya digunakan pada kelas/mata pelajaran matematika. Mengajar sebuah pelajaran pada satu taraf kemampuan kepada kelas yang heterogen menimbulkan inefisiensi tertentu dalam penggunaan waktu mengajar. Dalam teorinya, efisiensi pengajaran maksimum seharusnya bisa dicapai apabila materi yang disampaikan kepada para siswa dapat mengasimilasi informasi.

TAI dirancang untuk memuaskan kriteria berikut ini untuk menyelesaikan masalah-masalah teoritis dan praktis dari sistem pengajaran individu;

–         Dapat meminimalisisr keterlibatan guru dalam pemeriksaan dan pengelolaan rutin,

–         Guru setidaknya akan menghabiskan separuh dari waktunya untuk mengajar kelompok-kelompok kecil,

–         Operasional program tersebut akan sedemikian sederhananya sehingga para siswa di kelas tiga ke atas dapat melakukannya,

–         Siswa akan termotivasi untuk mempelajari materi-materi yang diberikan dengan cepat dan akurat, dan tidak akan dapat berbuat curang atau menemukan jalan pintas,

–         Tersedianya banyak cara pengecekan penguasaan supaya para siswa jarang menghabiskan waktu mempelajari kembali materi yang telah dikuasai/menghadapi kesulitan serius yang membutuhkan bantuan guru.

–         Siswa akan dapat melakukan pengecekan satu sama lain, sekalipun bila siswa yang mengecek kemampuannya ada di bawah siswa yang dicek dalam rangkaian pengajaran, dan prosedur pengecekan akan cukup sederhana dan tidak mengganggu pengecek,

–         Program mudah dipelajari, baik oleh guru/siswa, tidak mahal, fleksibel, dan tidak membutuhkan guru tambahan/tim guru,

–         Dengan membuat para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kooperatif, dengan status yang sejajar, program ini akan membangun kondisi untuk terbentuknya sikap positif terhadap siswa-siswa mainstream yang kurang secara akademik dan diantara para siswa dari latar belakang ras atau etnik berbeda.

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Walaupun metode cooperative learning telah diteliti dan digunakan dalam berbagai mata pelajaran, dua dari mata pelajaran di SD –membaca dan menulis– jelas tidak tersentuh oleh penelitian ini. Bagian ini menggambarkan dasar pemikiran, pengembangan, dan evaluasi dari cooperative integrated reading and composition (CIRC), sebuah program yang komprehensif untuk mengajari pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa para kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar[20].

Pengembangan CIRC dihasilkan dari sebuah analisis masalah-masalah tradisional dalam pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa[21]. Sebuah fitur yang bersifat hampir selalu universal dari pembelajaran membaca adalah penggunaan kelompok membaca terdiri atas para siswa dengan tingkat kinerja yang sama[22]. Dasar pemikiran utama untuk penggunaan kelompok dengan kemampuan homogen dalam pembelajaran membaca adalah bahwa para siswa perlu memiliki materi yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Akan tetapi, penggunaan kelompok membaca menimbulkan sebuah masalah; bila guru sedang mendampingi kelompok dalam membaca, siswa/kelompok lain di dalam kelas harus diberikan kegiatan yang dapat mereka selesaikan dengan sedikit pengarahan dari guru.

Satu fokus utama dari kegiatan-kegiatan CIRC sebagai cerita dasar adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi lebih efektif; para siswa yang bekerja dalam tim-tim kooperatif dari kegiatan ini, yang dikoordinasikan dengan pengajar kelompok membaca, supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan dalam bidang-bidang lain seperti pemahaman membaca, kosakata, pembacaan pesan, dan ejaan. Para siswa termotivasi untuk bekerjasama dalam proses pembelajaran seluruh anggota tim.

Adapun unsur-unsur dari CIRC, antara lain[23];

  1. Kelompok membaca
  2. Tim
  3. Kegiatan yang berhubungan dengan cerita
  4. Pemeriksaan oleh pasangan
  5. Tes

Group Investigation

Penelitian yang paling luas dan sukses dari metode-metode spesialisasi tugas adalah group investigation, sebuah bentuk cooperative learning yang berasal dari jamannya John Dewey[24].

Group investigation memiliki akar filosofis, etis, psikologi penulisan sejak awal abad ini. Yang paling terkenal diantara tokohnya dari orientasi ini adalah John Dewey. Pandangannya terhadap cooperative di dalam kelas sebagai sebuah prasyarat untuk bisa menghadapi berbagai masalah kehidupan yang kompleks dalam masyarakat demokrasi. Kelas merupakan tempat cooperative creativity di mana guru dan siswa membangun proses pembelajaran yang didasarkan pada perencanaan mutual dari berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan masing-masing.

Dalam group investigation, para siswa bekerja dalam 6 tahap. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah perlunya adaptasi pedoman keenam tahap ini dengan latar belakang, umur, kemampuan siswa secara umum, maupun hal yang menyangkut penekanan waktu. Keenam tahap ini antara lain[25];

–         Tahap 1: mengidentifikasikan topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok

Siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan mengkategorikan saran-saran. Siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik-topik yang tela dipilih. Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen. Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.

–         Tahap 2: merencanakan tugas yang akan dipelajari

Siswa merencanakan bersama mengenai; apa yang kita pelajari?; bagaimana kita mempelajarinya?; siapa yang melakukan apa?(pembagian tugas); untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?

–         Tahap 3: melaksanakan investigasi

Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya. Siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua gagasan.

–         Tahap 4: menyiapkan laporan akhir

Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari proyek mereka. Anggota kelompok merencanakan apa yang akan dilaporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka. Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.

–         Tahap 5: mempresentasikan laporan akhir

Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk. Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya (audience) secara aktif. Pendengar mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumya oleh seluruh anggota kelas.

–         Tahap 6: evaluasi

Para siswa saling memberikan umpan balik (feed-back) mengenai topik yang sedang dibahas, tentang tugas yang telah diselesaikan, tentang keefektifan pengalaman-pengalaman mereka. Guru dan siswa berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa. Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.

Jigsaw

Metode pembelajaran Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson, et. al [26]. Secara singkat metode ini dapat digambarkan bahwa pembelajaran dengan metode jigsaw membutuhkan pengembangan yang ekstensif dari materi-materi khusus.

Dalam metode jigsaw aronson para siswa membaca bagian-bagian yang berbeda dengan yang dibaca oleh teman satu timnya. Ini berguna untuk membuat para ahli menguasai informasi yang unik, sehingga membuat tim sangat menghargai kontribusi para anggotanya. Bagian tersulit dalam jigsaw aronson ini bahwa tiap bagian harus ditulis supaya dengan sendirinya dapat dipahami[27].

Bentuk adaptasi jigsaw yang labih praktis dan mudah, yaitu jigsaw II[28].

Jigsaw II dapat digunakan bila materi yang akan dipelajari adalah berbentuk materi tertulis. Metode ini paling sesuai untuk subjek-subjek seperti pelajaran ilmu sosial, literatur, sebagian pembelajaran ilmu alam, dan bidang lainnya yang tujuan pembelajaran lebih kepada penguasaan konsep daripada penguasaan kemampuan. Pengajawan bahan baku untuk jigsaw II biasanya harus berupa sebuah bab, cerita, biografi, maupun materi-materi narasi/deskripsi serupa[29].

Siswa bekerja dalam sebuah kelompok heterogen sama halnya seperti STAD dan TGT. Para siswa diberikan tugas untuk membaca dan memahami beberapa pokok bahasan/materi, dan diberikan lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saat mereka membaca. Setelah semua selesai membaca, siswa dari tim yang berbeda yang mempunyai fokus topik yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topik yang mereka dapat selama 30 menit. Para ahli tersebut kemudian kembali ke masing-masing kelompok/tim dan secara bergantian menyampaikan informasi tentang materi yang mereka dapat kepada rekan-rekan di kelompok masing-masing. Yang terakhir adalah, para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik, dan skor kuis akan menjadi skor tim, sebagaimana pelaksanaan pada metode STAD.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Model cooperative learning merupakan satu bentuk dari sebuah inovasi pendidikan terutama menyangkut model pembelajaran. Dalam hal ini, pelaksanaan pembelajaran yang berafiliasi ke cooperative learning sangat tergantung pada pengembang maupun pelaksana pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Guru merupakan kunci utama dalam proses implementasi inovasi di bidang pendidikan, kaitannya yang menyangkut novasi dalam proses pembelajaran baik itu metode, sumber belajar, maupun hal lainnya yang saling terkait satu dengan lainnya.

Cooperative learning merupakan sebuah model pembelajaran yang mana proses pembelajaran secara kelompok merupakan roh dari cooperative learning model ini. Pembagian dalam sebuah kelompok kecil dengan beranekaragam latar belakang, kemampuan intelektual, sosial, dan personal diharapkan dapat mengembangkan kemampuan yang bukan hanya sebatas kemampuan intelektual (kognitif) saja. Kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi, saling mendengar dan berbicara dalam sebuah kelompok yang menghargai heterogenitas diharapkan dapat menimbulkan kemampuan dan keberhasilan proses pembelajaran yang memang telah direncanakan.

Siswa cenderung akan lebih aktif dalam proses pembelajaran manakala mereka dilibatkan secara langsung pada suatu materi/kasus yang sedang up-date yang mereka pelajari, tentunya dengan menggunakan metode-metode dalam cooperative learning ini.

Aktivitas Cooperative Learning digunakan 3 (tiga) tujuan berbeda yaitu: dalam pelajaran tertentu siswa sebagai kelompok yang berupaya untuk menemukan sesuatu, kemudian setelah jam pelajaran habis siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi dan setelah itu siswa akan mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu yang telah dipelajarinya untuk persiapan kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok.

Cooperative Learning mengacu pada kelompok kecil yang melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda [30], dan ada yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda.

 

B. SARAN TINDAK LANJUT

Kurikulum di Indonesia saat ini (KTSP) benar-benar memberikan peluang yang sangat besar kepada guru sebagai pengembang dan pelaksana kurikulum di satuan pendidikan terutama pada proses pembelajaran dan hal lainnya yang menyangkut proses pembelajaran ini.

Paradigma pendidikan telah bergeser dari tahun ke tahun, dari masa ke masa. Seiring perkembangan dan perubahan zaman, saat ini guru bukanlah sebagai sumber dari sebuah ilmu pengetahuan bagi siswa yang menerima materi pembelajaran (receive). Oleh karenanya, model pembelajaran seperti cooperative learning layak diimplementasikan pada proses pembelajaran yang relevan dengan materi pembelajaran yang dipelajari. Kemauan dan kemampuan guru sebagai pengembang kurikulum akan terasa manakala implementasi model-model pembelajaran yang inovatif dapat dilaksanakan secar komprehensif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Borich, Gary. Effective Teaching Methods—3rd edition. New Jersey: Prentice Hall. 1996

Burden, Paul R. dan David M. Bird. Methods For Effective Teaching. Needham Heights, Massachusetts: Allyn and Bacon Publishing. 1998

Hanafiah, Nanang, et al. konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama. 2009

http://cl.readingmatrix.com/conference-pp-proceedings-jacobs.pdf

http://olc.spsd.sk.ca/DE/PD/instr/strats/coop/index.html

http://www.clcrc.com/pages/cl-methods.html

http://www.co-operation.org/pages/cl.html

http://www.co-operation.org/pages/cl-methods.html

http://www.corwinpress.com/index1.asp?id=detail.asp?id=27713

http://www.trimanjuniarso.wordpress.com/cl

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada. 2008

Slavin, R. E. Cooperative Learning: theory, research, and practice – terjemahan. Bandung: Nusa Media. 2009

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia – edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005


[1]http://trimanjuniarso.wordpress.com/cl

 

[2] Slavin, R.E. 2009, h. 9

[3] Slavin (1994) dalam http://www.trimanjuniarso.wordpress.com/cl

[4] Johnson & Johnson (1994) dalam http://www.trimanjuniarso.wordpress.com/cl

[5] http://www.co-operation.org/pages/cl.html

[6] http://www.clcrc.com/pages/cl-methods.html

[7] http://www.corwinpress.com/index1.asp?id=detail.asp?id=27713

[8] http://olc.spsd.sk.ca/DE/PD/instr/strats/coop/index.html

[9] Burden, Paul R., et al. 1998. h. 99

[10] Coleman (1961) dalam Slavin, op cit, h. 35

[11] Ibid , h. 36

[12] Sanjaya, Wina. 2008. h. 244 – 245

[13] http://cl.readingmatrix.com/conference-pp-proceedings-jacobs.pdf

[14] http://www.clcrc.com/pages/qanda.html

[15] Kagan, dalam http://cl.readingmatrix.com/conference-pp-proceedings-jacobs.pdf

[16] Trimanjuniarso, loc it.

[17] http://www.co-operation.org/pages/cl-methods.html

[18] Slavin, op. cit. h. 143

[19] Slavin, op cit., h. 187

[20] Ibid, h. 200

[21] Steven, et. al (1987), dalam Slavin, h. 200

[22] Hiebert (1983), dalam Slavin, h. 201

[23] Ibid, h. 205

[24] Ibid, h. 214

[25] Ibid, h. 218

[26] Aronson (1978) dalam Slavin. h. 236

[27] Ibid, h. 245

[28] Slavin (1986), dalam Slavin. h. 237

[29] Ibid, h. 237

[30] Slavin (1994), dalam http://www.trimanjuniarso.com/cl.

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 6 Desember 2009, in education and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: