Contextual Teaching and Learning (Bisakah guru kita menerapkannya di kelas???)


PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Proses pengembangan pendidikan di dunia umumnya maupun Indonesia pada khususnya saat ini sedang mengalami pergeseran, baik dalam hal proses pendidikan secara nasional yang terlihat dengan munculnya kebijakan-kebijakan baik teknis maupun strategis yang mempunyai maksud dan tujuan ke arah perbaikan sistem dunia pendidikan. Paradigma pendidikanpun ikut bergeser seiring maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang setiap saat selalu berubah dan berkembang.

Seiring dengan perkembangan dunia yang begitu pesat, proses pendidikan yang mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran dan menyiapkan peserta didik yang siap dengan maraknya perubahan dan perkembangan di segala aspek kehidupan agar selalu siap dan matang dalam menghadapinya. Peserta didik yang merupakan titik pangkal proses pendidikan di tiap-tiap satuan pendidikan diharapkan dapat menjadi seorang yang berkepribadian unggul dan siap dengan wawasan global dan hal yang terkait di dalamnya.

Guna menyiapkan calon-calon penerus bangsa yang unggul dalam segala aspek kehidupan perlu adanya suatu rangkaian proses pembelajaran yang memang bisa membuat calon peserta didiknya sesuai dengan apa yang telah digariskan di atas. Hal mendasar yang terkait masalah ini diantaranya, materi pembelajaran yang selalu up-date dan strategi dan metode pembelajaran yang tentunya selalu melibatkan dan mengembangkan potensi peserta didik. Terkait dengan strategi pembelajaran yang sesuai, di sini banyak jenis-jenis strategi pembelajaran yang memang dapat dikembangkan dan diimplementasikan pada proses pembelajaran yang dapat mendorong kemauan dan kemampuan peserta didik untuk belajar dan berkembang di manapun tempat, baik di satuan pendidikan, rumah, maupun lingkungannya yang dapat digunakan sebagai sumber sebuah proses pembelajaran, tentunya dengan memperhatikan konteks dan relevansi dengan apa yang saat ini sedang dipelajari dan dikembangkan oleh peserta didik.

Saat ini pergeseran paradigma pendidikan di Indonesia terlihat (walaupun tidak signifikan) dari proses pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) ke arah pembelajaran yang berpusat pada kompetensi siswa (KBK) dan bermuara pada pembelajaran yang berorientasi dan berpusat pada peserta didik (student centered). Karena otak terus-menerus mencari makna dan menyimpan hal-hal yang bermakna, proses pembelajaran harus melibatkan peserta didik dalam pencarian makna. Proses mengajar harus memungkinkan para siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari. Sebagaimana dikatakan Alfred North Whitehead (seorang filsuf terkenal) “Si anak harus menjadikannya (ide-ide tersebut) milik mereka, dan harus mengerti penerapannya dalam situasi kehidupan nyata mereka pada saat yang sama”[1].

Oleh karenanya, proses pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat dilakukan manakala strategi yang digunakan dapat menunjang proses pembelajaran student centered, hal yang mendasarinya karena siswa sebagai objek pebelajar dalam proses pembelajaran merupakan titik pangkal dalam pembelajaran yang mana pengukuran tingkat keberhasilan pembelajaran dikatakan berhasil manakala peserta didik merasakan secara langsung manfaat dari materi pembelajaran yang dialami dan dipelajarinya. Tentunya selain strategi pembelajaran yang menunjang hal di atas, banyak hal terkait dengan faktor keberhasilan peserta didik seperti; penggunaan media pembelajaran yang sesuai dan mendukung, materi pembelajaran sebagaimana diungkapkan di atas, pengelolaan/manajemen kelas, dan tak kalah pentingnya kemampuan dan kreatifitas guru dalam mengembangkan dan mengelola proses pembelajaran yang optimal.

Konsep strategi pembelajaran Contextual teaching learning merupakan satu diantara sekian banyak strategi pembelajaran yang dapat menjembatani apa yang akan dikembangkan dan diharapkan pada proses pembelajaran agar hasil yang dicapai dapat dirasakan langsung oleh siswa dan mencapai proses pembelajaran yang optimal sehingga apa yang telah digariskan di atas dapat terwujud nantinya. Dalam bukunya Elaine B. Johnson mengatakan bahwa “CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa”[2].


B. PENGERTIAN JUDUL

Pengertian awal CTL datang dari para pendidik berbakat yang mencari sebuah alternatif pendekatan pendidikan yang cocok untuk semua. Pada awalnya penyusunan pengertian CTL ini melibatkan beberapa ahli dari bidang psikologi, ilmu syaraf (neuro-science), dan penemuan-penemuan oleh ahli fisika dan ahli biologi. Hal di atas membuat sedikit banyak asumsi yang berbeda pada proses penterjemahannya karena masing-masing menyesuaikan dengan bidang yang dimilikinya[3]. Sistem CTL berhasil karena sistem ini meminta peserta didik untuk bertindak dengan cara yang alami bagi manusia[4].

Akhir-akhir ini CTL merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. CTL merupakan strategi yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktifitas mempelajari materi  pembelajaran yang sesuai dengan topik yang akan dipelajari[5]. Pembelajaran kontekstual merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka[6]. Belajar dalam konteks CTL bukan hanya sebatas mendengar dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Melalui proses berpengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan psikomotor. Penggunaan strategi pembelajaran CTL diharapkan dapat membuat siswa menemukan secara langsung materi yang akan dipelajarinya (bukan didapat dari guru).

Bila diuraikan menurut asal katanya contextual teaching learning mengandung tiga unsur kata yang terdiri dari contextual, teaching, dan learning. Contextual berasal dari kata contex yang berarti situation in which an events happens[7]. Teaching mempunyai arti dasar dari teach yang berarti give lesson to somebody; give somebody knowledge, skill, etc[8]. Sedangkan learning berasal dari kata learn yang berarti gain knowledge or skill in a subject or activity, bila diartikan dalam bahasa Indonesia learn merupakan belajar, sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia belajar berasal dari kata dasar ajar yang berarti “petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)”[9], belajar  berarti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”[10], sedangkan pembelajaran berarti “proses, cara, perbuatan mempelajari”[11]. Sehingga bila diartikan secara keseluruhan contextual teaching learning merupakan sebuah model/strategi pembelajaran di mana proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan 3 hal antara siswa (sebagai objek pebelajar), guru (sebagai mediator, fasilitator), dan situasi yang diseting sedemikian rupa untuk proses pembelajaran yang efektif dan terencana; proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik dengan situasi yang diharapkan dan terjadi yang diset oleh guru sebagai pendamping pada proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Ilmu syaraf dan psikologi dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya pengaruh makna terhadap pembelajaran dan kemampuan mengingat. Kedua ilmu ini memberikan dasar yang kuat untuk memahami bahwa tujuan utama CTL adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada pelajaran-pelajaran akademisnya. Ketika para siswa menemukan makna di dalam pelajaran mereka, mereka akan belajar dan ingat apa yang mereka pelajari. CTL membuat siswa mampu menghubungkan isi dari subjek-subjek akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka untuk menemukan makna[12]. Hal ini tentunya dapat memperluas konteks pribadi tiap-tiap peserta didik. Kemudian, dengan memberikan pengalaman-pengalaman baru yang merangsang otak membuat hubungan-hubungan baru, guru akan dengan mudah membantu peserta didik dalam menemukan suatu makna baru yang sdang dipelajari.

Contextual teaching learning adalah sebuah sistem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah[13]. Setiap bagian CTL yang berbeda-beda ini memberikan sumbangan dalam membantu peserta didik memahami materi pembelajaran dan tugas-tugas yang berhubungan dengan materi tersebut. Secara bersama-sama, peserta didik dibantu membentuk suatu sistem yang memungkinkan para peserta didik melihat makna di dalamnya, dan mengingat materi pembelajaran yang telah dipelajari sebelumnya.

 

PERMASALAHAN

Contextual teaching learning merupakan sebuah inovasi di bidang pendidikan terutama kaitannya dengan proses pembelajaran yaitu merupakan sebuah strategi pembelajaran yang dikembangkan karena memang dianggap perlu.

Adapun beberapa pokok permasalahan yang coba kami ajukan dalam pembahasan makalah ini, antara lain;

  1. Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran contextual teaching learning?
  2. Bagaimana pengembangan CTL?
  3. Karakteristik seperti yang menggambarkan strategi pembelajaran CTL?
  4. Bagaimana implikasi pembelajaran yang menggunakan strategi pembelajaran CTL?
  5. Aspek apa yang dapat dikembangkan melalui strategi pembelajaran CTL?
  6. Mengapa CTL perlu diimplementasikan dalam proses pembelajaran di satuan pendidikan?

 

 

CONTEXTUAL TEACHING LEARNING


A. PANDANGAN BELAJAR MENURUT PENDEKATAN STRATEGI PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

Belajar menurut konsep contextual teaching learning dapat diasumsikan, sebagai berikut;

  1. Belajar bukan menghapal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Oleh karenanya, semakin banyak pengalaman yang dialami peserta didik dalam proses pembelajaran maka semakin banyak pula pengetahuan/pengalaman yang dimiliki peserta didik         tersebut.
  2. Belajar bukanlah sebatas mengumpulkan fakta yang tidak terkait sama sekali antar materi pembelajaran yang ada. Pengetahuan pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan (performance) seseorang. Semakin luas dan mendalam pengetahuan peserta didik, semakin efektif peserta didik tersebut berpikir dan tentunya dalam bertindak.
  3. Belahar adalah proses pemecahan masalah (problem solving), dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intelektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual merupakan belajar bagaimana peserta didik menghadapi persoalan/masalah.
  4. Belajar merupakan proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju kompleks. Belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
  5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karenanya, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang dimiliki makna untuk kehidupan anak (real world learning).

 

B. TEORI YANG MELANDASI CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget[14]. Piaget berpendapat bahwa sejak kecil anak telah memiliki struktur kognitif yang dikenal dengan “skema”. Skema terbentuk karena pengalaman[15]. Sebagai contoh seorang siswa suka bermain kucing dan kelinci yang keduanya sama-sama berwarna putih, karena keseringannya bermain dengan kedua jenis hewan tersebut siswa dapat membedakan mana yang termasuk kelinci dan kucing. Pada akhirnya, dari pengalaman inilah dalam struktur kognitif siswa terbentuk skema binatang yang merupakan ciri dari kedua hewan di atas. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan penyempurnaan skema, akomodasi merupakan proses mengubah skema yang ada hingga terbentuk skema baru. Semua itu –asimilasi dan akomodasi– terbentuk berkat pengalaman siswa.

Pandangan kognitif tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap model pembelajaran, diantaranya model pembelajaran kontekstual. Menurut strategi ini, pengetahuan akan bermakna ketika ditemukan (discover/inquiry) dan dibangun (construc) sendiri oleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemberitahuan orang lain (guru), tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna, pengetahuan yang demikian akan mudah dilupakan dan tidak masuk ke dalam memori jangka panjang (long-term memory). Sebaliknya dengan pembelajaran yang langsung dialami sendiri dan siswa ikut berpikir dalam proses tersebut pembelajaran yang bermakna akan lebih panjang tersimpan dalam long-term memory (LTM)/memori jangka panjang.

Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif si pebelajar, maka bila dipandang dari sudut pandang psikologis, strategi pembelajaran contextual teaching learning berafiliasi pada aliran psikologi kognitif[16]. Dalam proses pembelajaran, proses belajar terjadi karena pemahaman peserta didik terhadap lingkungan. Belajar bukan merupakan peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respons. Belajar melibatkan proses mental yang tidak nampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman.

 

C. ASAS-ASAS PENGEMBANGAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

CTL sebagai sebuah pendekatan mempunyai 7 asas dalam pengembangannya. Asas-asas ini melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan stategi pembelajaran CTL ini. Ketujuh asas ini antara lain[17];

1. Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengatahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman. Menurut Jean Piaget hakikat pengetahuan yaitu;

  1. Pengetahuan bukan merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyatan (real) melalui kegiatan subjek,
  2. Subjek membentuk skema kognitif, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan,
  3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman seseorang.

Asumsi-asumsi di atas yang melandasi CTL. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman karena pengetahuan hanya akan berfungsi ketika dibangun secara langsung/sendiri oleh peserta didik tersebut.

2. Inqiuiry

Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, tetapi hasil proses menemukan sendiri.

Secara umum proses inquiry dapat dilakukan melalui beberapa lagkah, antara lain;

  1. Merumuskan masalah,
  2. Mengajukan hipotesis,
  3. Mengumpulkan data,
  4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan,
  5. Membuat kesimpulan.

Melalui proses berpikir secara ilmiah melalui proses inquiry seorang peserta didik diharapkan memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang seluruhnya diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.

3. Bertanya (questioning)

Pada hakikatnya belajar merupakan proses tanya dan jawab tentang suatu pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap peserta didik, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi tentang materi pembelajaran  saja, tetapi menstimulus peserta didik agar mereka dapat menemukan sendiri dan akhirnya dapat menyimpulkan bersama-sama dengan koordinasi dan bimbingan guru materi pembelajaran yang dimaksud. Oleh karenanya guru dapat membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.

Pada pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk;

  1. Menggali informasi tentang kemampuan peserta didik dalam penguasaan materi pembelajaran,
  2. Membangkitkan motivasi peserta didik untuk belajar,
  3. Merangsang keingintahuan peserta didik tentang sesuatu,
  4. Memfokuskan peserta didik pada sesuatu yang diinginkan,
  5. Membimbing peserta didik menemukan/menyimpulkan sesuatu.

4. Masyarakat Belajar (learning community)

Lev S. Vygotsky menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman peserta didik ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain[18]. Sebagaimana dikatakan juga oleh Slavin bahwa model pembelajaran cooperative learning yang bercirikan dengan model belajar kelompok[19]. Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain.

Dalam kelas CTL, penerapan asas community learning dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang heterogen.

5. Pemodelan (modelling)

Yang dimaksud dengan asas modelling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh tiap peserta didik.

Proses modelling tidak terbatas pada guru saja, tetapi dapat juga guru memberdayakan peserta didik yang memiliki kompetensi yang disesuaikan dengan materi pembelajaran.

Modelling merupakan asas yang cukup penting dalam implementasi contextual teaching learning, karena melalui modelling peserta didik akan terhindar dari pembelajaran yang ambigu dan menuju ke arah verbalistik.

6. Refleksi (reflection)

Merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian/peristiwa pembelajaran yang pernah dilaluinya[20].

Setiap proses pembelajaran berakhir (dengan strategi pembelajaran CTL) guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari melalui pengalaman belajarnya, yang kemudian diambil suatu kesimpulan bersama-sama.

7. Penilaian Nyata (authentic assesment)

Penilaian nyata dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama prose pembelajaran berlangsung. Oleh karenanya, tekananya perlu diarahkan kepada proses belajar bukan hasil belajar.

 

D. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

Memahami prinsip-prinsip ilmiah dalam penerapan CTL berarti memahami mengapa pembelajaran CTL memberikan jalan menuju keunggulan akademik yang dapat diikuti peserta didik.

Adapun prinsip-prinsip pengembangan contextual teaching learning tersebut, antara lain;

1. Prinsip kesaling-tergantungan

Prinsip kesaling-tergantungan mengajak para guru untuk mengenali keterkaitan mereka dengan guru lainnya, dengan para peserta didiknya, dengan masyarakat, dan dengan alam semesta. Sekolah adalah sebuah sistem kehidupan. Di dalam sebuah lingkungan belajar di mana setiap anggota satuan pendidikan menyadari keterhubungan mereka, sistem CTL dapat berkembang. Prinsip ini ada di segala bidang sehingga memungkinkan para peserta didik untuk membuat hubungan yang bermakna[21].

2. Prinsip differensiasi

Prinsip differensiasi menyumbangkan kreatifitas indah yang berdetak di seluruh alam semesta. Prinsip ini mendorong alam semesta menuju keragaman yang tak terbatas, dan hal itu menjelaskan kecenderungan-kecenderungan yang berbeda untuk bekerjasama dalam bentuk yang disebut dengan simbiosis[22]. Jika para guru percaya terhadap ilmuwan modern bahwa prinsip differensiasi yang dinamis ini meliputi dan mempengaruhi bumi dan semua sistem kehidupan, maka mereka pasti ingin mengajarkan sesuai dengan prinsip itu.

Komponen pembelajaran kontekstual yang mencakup pembelajaran praktik dan langsung (hands-on), implikasinya terhadap siswa akan secara terus-menerus menantang peserta didik untuk mencipta. Peserta didik akan berpikir kreatif ketika menggunakan pengetahuan akademik untuk meningkatkan kerjasama dengan rekan sekelasnya.

Sistem CTL berhasil karena sesuai dengan cara alam semesta berfungsi. Secara alami, prinsip ini akan terus-menerus menciptakan perbedaan dan keragaman, menghasilkan keragaman yang tak terbatas, keunikan yang tak terbatas, dan penggabungan yang sangat banyak antara entitas yang berbeda[23]. Secara alami CTL dapat dikatakan juga memajukan kreatifitas, keragaman, keunikan, dan kerjasama

3. Prinsip pengaturan diri-sendiri

Karena prinsip pengaturan diri-sendiri, segala sesuatunya diatur oleh diri sendiri, dipertahankan oleh diri sendiri, dan disadari oleh diri sendiri.

Untuk menciptakan diri para peserta didik sendiri, untuk mengeluarkan potensi terpendam mereka menjadi nyata, untuk melawan daya tarik dari status quo, peserta didik harus menguji konteks mereka sendiri[24].

Prinsip ini meminta para guru untk mendorong setiap peserta didiknya mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya. Guna menyesuaikan dengan prinsip ini, sasaran utama CTL adalah menolong peserta didik mencapai keunggulan akademik, memperoleh ketrampilan karier, dan mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan materi pembelajaran di satuan pendidikan atau tugas-tugas di sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.

CTL mencerminkan kesaling-tergantungan mewujudkan diri, misalnya ketika para peserta didik bergabung untuk memecahkan suatu masalah dan guru mengadakan pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek yang berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan menggabungkan satuan pendidikan dengan stake holders. CTL mencerminkan prinsip differensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para peserta didik untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk menghormati perbedaan, untuk menjadi kreatif, bekerjasama, dan menghasilkan gagasan dan ide/hasil baru yang berbeda dan inovatif, dan menyadari bahwa keragaman merupakan tanda kemantapan dan kekuatan. CTL mencerminkan prinsip pengaturan/pengorganisasian diri-sendiri terlihat ketika para peserta didik mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka masing-masing yang berbeda, mendapat manfaat dari umpan balik (feed-back) yang diberikan melalui penilaian autentik.

 

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pembelajaran kontekstual berhasil terutama karena sasaran utamanya yaitu untuk mencari makna dengan menghubungkan pekerjaan akademik dengan kehidupan sehari-hari dan beragam elemen sesuai dengan tiga prinsip yang dipaparkan di depan (kesaling-tergantungan, differensiasi, dan pengaturan diri-sendiri[25])

Contextual teaching learning merupakan sebuah model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas belajar siswa secara penuh, baik secara fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukan proses menghapal, tetapi melalui pengalaman pembelajaran yang dilalui peserta didik, mereka dapat memahami hakikat dan makna materi pembelajaran yang dialaminya secara langsung. Kelas dalam CTL bukan sebagai tempat memperoleh informasi, akan tetapi merupakan tempat untuk melakukan proses menguji suatu data dan memperoleh informasi dari materi pembelajaran yang dialami peserta didik. Materi pembelajaran ditemukan sendiri oleh peserta didik, bukan merupakan hasil pemberian orang lain/guru.

Dikatakan oleh Johnson, B Elaine dalam bukunya bahwa “jika otak hanya belajar mengutip, dan berlatih, ngebut sebelum ujian, maka dalam waktu 14 sampai 18 jam otak akan melupakan sebagian besar informasi tersebut, kecuali jika informasi itu memiliki makna”[26], lebih lanjut Elaine mengatakan bahwa “keampuhan CTL terletak pada kesempatan yang diberikan pada semua siswa untuk mengembangkan harapan mereka, dan mengetahui informasi terbaru, serta menjadi anggota sebuah masyarakat demokrasi yang cakap[27]”. Hendaknya sebuah pembelajaran yang memang memandang peserta didik sebagai hal utama dalam pembelajaran seperti model CTL perlu dikembangkan dan diimplementasikan pada proses pembelajaran di tiap-tiap satuan pendidikan di Indonesia.

 

B. SARAN-SARAN

Sebagai sebuah wujud dari suatu inovasi dalam proses pembelajaran, strategi contextual teaching learning merupakan model di mana siswa berperan secara langsung terhadap dirinya dalam menemukan dan mengembangkan serta mengaplikasikan materi pembelajaran yang didapatkannya. Peranan guru di sini hanya sebatas sebagai fasilitator, dan motivator bagi peserta didik agar kemampuan mereka dapat berkembang sesuai asas-asas contextual teaching learning ini. Setidaknya dengan semakin besarnya otonomi yang diberikan pemerintah terhadap guru sebagai pengembang dan pelaksana kurikulum di satuan pendidikan, jenis-jenis startegi pembelajaran seperti ini dapat diimplementasikan dan tentunya dapat dikembangkan untuk lebih baik lagi sehingga dapat menghasilkan inovasi yang menunjang kemampuan profesional guru di Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, Nanang, et. al. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama. 2009

Johnson, Elaine B. Contextual Teaching and Learning – terjemahan. Bandung: Mizan. 2008

Moore, D. Kennet. Effective Instructional Strategies – from theory to practice. New Delhi: Sage Publishing. 2005

Neill, A.S. Summerhill School –terjemahan. Jakarta: Serambi Ilmu Pustaka. 2007

Saefudin, Udin S. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. 2008

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (cet-5). Jakarta: Kencana Prenada Media group. 2008

Slavin, R. E. Cooperative Learning: theory, research, and practice – terjemahan. Bandung: Nusa Media. 2009

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia – ed. 3, cet. 4. Jakarta: Balai Pustaka. 2007

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia – edisi ketiga cetakan ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005

Tim Penyusun. Oxford – learner’s pocket dictionary. New York: Oxford University Press. 2008

White, Roger. Curriculum Innovation – a celebration of classroom practice – terjemahan. Jakarta: Grasindo. 2005


[1] Whitehead (1926/1967) dalam Johnson, Elaine B. (2009), 37

 

[2] Johnson, B. Elaine (2009), 57

[3] Symdons (2000) dalam Johnson, B. Elaine (2009), 61

[4] Johnson, B. Elaine (2009), op cit, 61

[5] Sanjaya, Wina (2008), 252 – 253

[6] Wina Sanjaya (2005) dalam Saefudin, Udin S. (2008), 162

[7] Oxford Learner’s Pocket Dictionary (2008), 93

[8] Ibid, 455

[9] KBBI (2007), 17

[10] Ibid, 17

[11] Ibid, 17

[12] Johnson, B. Elaine (2009), op cit, 65

[13] Ibid, 65

[14] Sanjaya, Wina (2008), op cit, 254

[15] Ibid, 255

[16] Ibid, 257

[17] Ibid, 266

[18] Ibid, 264

[19] Slavin, R.E. (2009), 18

[20] Sanjaya, Wina (2008), op cit, 266

[21] Johnson, B. Elaine (2009), op cit, 73

[22] Ibid, 77

[23] Ibid, 79

[24] Ibid, 82

[25] Johnson & Brooms (1996) dalam Johnson, B. Elaine, op cit, 68

[26] Ibid, 302

[27] Ibid, 303

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 6 Desember 2009, in education and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: