ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SATUAN PENDIDIKAN DASAR


 

Oleh : Muhammad Fajri

DSCN2097 

PENTINGNYA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SATUAN PENDIDIKAN DASAR

Bila melihat ke belakang sepanjang perjalanan kurikulum pendidikan di Indonesia sejak Indonesia merdeka sampai terakhir pemberlakuan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada tahun 2006, terdapat perubahan/penerapan kurikulum sebanyak 9 kali perubahan kurikulum pendidikan yang dimulai pada 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan yang masih berlaku saat ini pada 2006 kemarin.

Asumsi saya bahwa perubahan kurikulum memang perlu dilakukan, secara umum perubahan selalu identik dengan respon baik yang pro maupun kontra. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya kalangan maupun praktisi pendidikan yang mengkritisi kebijakan-kebijakan seiring dengan pemberlakuan penerapan kurikulum di Indonesia. sebagai contoh saja pada saat pergeseran kurikulum dari KBK ke KTSP tidak sedikit asumsi dan respon yang mencuat di media masa.

Tidak terlepas dari semua ini, pendidikan ips yang merupakan salah satu dari komponen mata pelajaran di dalam kurikulum di Indonesia juga mengalami pergeseran dan perubahan seiring perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia.

Peranan dan pentingnya mata pelajaran IPS di tingkat satuan pendidikan dasar sangat beragam. Disebutkan pada lampiran permendiknas nomor 22 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, mata pelajaran IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai[1]. Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. 

 

KEKELIRUAN YANG TERJADI PADA PROSES PEMBELAJARAN IPS DI SATUAN PENDIDIKAN DASAR

Secara umum terdapat beberapa hal yang menjadi kekeliruan maupun kekurangan dari pembelajaran IPS yang dilaksanakan di satuan pendidikan dasar, namun hal ini tidak sepenuhnya merupakan hambatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di satuan pendidikan dasar.

Dalam kaitannya penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dicetuskan sejak 2006 sebagaimana kajian materi IPS di tingkat satuan pendidikan dasar yang telah disebutkan di atas, bila dilihat kenyataan di lapangan ternyata masih banyak standar minimal yang diamanatkan dalam permendiknas nomor 22 tahun 2006 ini belum sepenuhnya dalam dilaksanakan.

Menurut Prof. Nu`man Somantri, M.Sc.Ed, Prof. Dr. Azis Wahab, M.A., dan Prof. Dr. Suwarma Al Muchtar, S.H. M.Pd.) terdapat beberapa hal yang menjadi kelemahan dari pembelajaran IPS di satuan pendidikan dasar, antara lain[2];

Ó                  Kurang memperhatikan perubahan-perubahan dalam tujuan, fungsi , dan peran PIPS di satuan pendidikan

Ó                  Tujuan pembelajaran kurang jelas dan tidak tegas (not purposeful)

Ó                  Posisi, peran, dan hubungan fungsional dengan bidang studi lainnya terabaikan

Ó                  Informasi faktual lebih bertumpu pada buku paket yang out of date dan kurang mendayagunakan sumbr-sumber lainnya

Ó                  Lemahnya transfer informasi konsep ilmu-ilmu sosial Out put PIPS tidak memberi tambahan daya dan tidak pula mengandung kekuatan (not empowering and not powerful)

Ó                  Guru tidak dapat meyakinkan siswa untuk belajar PIPS lebih bergairan dan bersungguh-sungguh, siswa tidak dibelajarkan untuk membangun konseptualisasi yang mandiri

Ó                  Guru lebih mendominasi siswa (teacher centered) Kadar pembelajaran yang rendah, kebutuhan belajar siswa tidak terlayani

Ó                  Belum membiasakan pengalaman nilai-nilai kehidupan demokrasi sosial kemasyarakatan dengan melibatkan siswa dan seluruh komunitas satuan pendidikan dalam berbagai aktivitas kelas dan satuan pendidikan Dalam pertemuan kelas tidak menggagendakan setting lokal, nasional, dan global, khususnya berkaitan dengan struktur sistem sosial dan perilaku kemasyarakatan

Dalam lingkup yang lebih luas dapat dikaitkan dengan standar isi tahun 2006 tentang mata pelajaran IPS dengan kenyataan yang ada bahwa peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai, namun kenyataan yang ada, banyak sekali penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Yang kita sebut sebagai cinta damai memang belum sepenuhnya terrealisasikan secara optimal, sikap demokratis yang berubah menjadi individualistik yang hampir dirasakan oleh semua lapisan umur (tua, muda, maupun peserta didik kita di sekolah). Tatanan nilai-nilai seakan menghilang dihimpit perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sepenuhnya bersahabat. Himpitan dan derasnya arus globalisasi ikut berperan dalam proses mengikisnya nilai-nilai yang berkembang di masyarakat[3].

Berkenaan dengan kurikulum dan rancangan pembelajaran IPS yang pernah disusun sepanjang perjalanan dan perkembangan kurikulum di Indonesia, beberapa penelitian pernah memberi gambaran tentang buruknya hasil ataupun ketidakberhasilan pembelajaran dan pengajaran IPS di sekolah khususnya satuan pendidikan dasar. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan Balitbang Depdiknas (tahun 1999 bernama Depdikbud) menyebutkan, Kurikulum 1994 tidak disusun berdasarkan basic competencies melainkan pada materi, sehingga dalam kurikulumnya banyak memuat konsep-konsep teoretis[4]. Hasil Evaluasi Kurikulum IPS SD Tahun 1994 menggambarkan adanya kesenjangan kesiapan siswa dengan bobot materi sehingga materi yang disajikan dianggap terlalu sulit bagi siswa, kesenjangan antara tuntutan materi dengan fasilitas pembelajaran dan buku sumber, kesulitan manajemen waktu, serta keterbatasan kemampuan melakukan pembaharuan metode mangajar sehingga tidak heran pada saat ini (yang telah berjalan 10 tahun lebih) sebagai akibatnya pada rusaknya tatanan dan moral masyarakat (walaupun tidak sepenuhnya begitu).

Adapun sikap dan perilaku yang lain adalah pembiasaan berpikir kritis dan bertanggungjawab yang belum terlihat.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

http://www.pelita.or.id/baca.php?id=76654

http://re-searchengines.com/mangkoes6-04-4.html

http://spiritentete.blogspot.com/2008/06/quo-vadis-pendidikan-ips.html

 

 

 

 


[1] Lampiran Permendiknas Nomor 22/2006

[2] http://re-searchengines.com/mangkoes6-04-4.html

[3] http://spiritentete.blogspot.com/2008/06/quo-vadis-pendidikan-ips.html

[4] http://www.pelita.or.id/baca.php?id=76654

Iklan

About muhammad fajri

manusia hidup untuk berusaha, dengan berusaha manusia akan hidup dan dengan berusaha pula manusia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain

Posted on 8 Oktober 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Good…good…good…mirip mirip laah…

  2. artikel-artikelnya boleh juga cuyyyyy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: